Harga Plastik Meningkat 60%: UMKM Kuliner Malang Tertekan

Fitri A. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 80 dibaca
Bisik.id
Harga Plastik Meningkat 60%: UMKM Kuliner Malang Tertekan

Gambar atau konten salah?

Malang – Harga bahan baku kemasan plastik kini menjadi momok baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner. Mereka harus bertahan, demi tak mengubah harga jual produknya.

Fenomena naiknya harga plastik mulai dirasakan secara signifikan sejak pertengahan hingga akhir bulan Ramadan. Berbagai jenis plastik kemasan mengalami lonjakan harga yang cukup drastis.

Pemilik gerai Nasi Pedas Bu Wardhani, Utik Mega, mengungkapkan bahwa kenaikan ini mencakup hampir seluruh jenis plastik yang digunakannya sehari‑hari, mulai dari kantong kresek hingga wadah makanan thinwall. Kenaikan harga tidak sekadar fluktuasi kecil, melainkan lompatan angka yang sangat membebani biaya operasional.

“Macam‑macam, mulai kresek, thinwall buat tempat‑tempat lauk itu, sama kresek‑kresek besar juga,” ujar Mega. Selasa, 07 April 2026.

Contohnya, wadah thinwall ukuran 500 ml yang biasanya ia beli dengan harga Rp 22 ribu hingga Rp 23 ribu per pak, kini telah menyentuh angka Rp 30 ribu. Kantong kresek ukuran besar merek Sumo, yang semula dibanderol Rp 57 ribu, ikut melambung hingga Rp 70.500. Secara akumulatif, Mega memperkirakan kenaikan harga plastik ini mencapai angka 60‑an persen, sebuah angka yang sangat kontras dibandingkan harga normal sebelumnya.

Karena bisnisnya sangat bergantung pada kemasan plastik untuk menyajikan produk kepada pelanggan, kenaikan ini langsung memukul arus kas usahanya. Saat ini, Mega harus merogoh kocek hingga sekitar Rp 200 ribu setiap harinya hanya untuk memenuhi kebutuhan plastik operasional. Kondisi ini menempatkan para pengusaha kuliner pada posisi yang dilematis antara mempertahankan harga atau menjaga margin keuntungan.

“Mempengaruhi harga jual, tapi untuk saat ini sih belum aku naikin sih. Jadi masih pelan‑pelan mau aku sounding pelan‑pelan. Kalau langsung itu kayaknya kaget customer ku,” jelas Mega.

Hal yang sama disampaikan oleh Dian Febriana, pemilik Dapur Mbakjemm. Ia mengatakan bahwa kenaikan harga bahan baku plastik bukan hanya jenis thinwall. Harga plastik kresek timbangan atau kiloan juga ikut melonjak hingga 80 persen.

Menurut Dian, kondisi itu cukup mempengaruhi biaya operasional harian usaha kuliner yang dirintinya saat ini. Ia mencontohkan, harga satu ikat plastik kresek timbangan dengan berat sekitar seperempat kilogram kini telah menembus angka belasan ribu rupiah. Padahal, sebelumnya harga plastik yang biasa digunakan untuk membungkus produk jajanan dan berbagai kebutuhan dagang lainnya tersebut masih berada di angka yang jauh lebih terjangkau.

“Dari harga Rp 8 ribu per ikat (250 gram), sekarang Rp 14 ribu. Bisa dibilang kenaikannya hampir 80 persen,” ucapnya terpisah.

Dian menambahkan, kenaikan ini merata terjadi pada hampir semua ukuran plastik, mulai dari ukuran 18, 20, 22, hingga ukuran 26. “Hampir semua jenis ukuran plastik naik. Termasuk thinwall dari Rp 23 ribu isi 25, sekarang jadi Rp 37 isi 24,” pungkasnya.

Hingga saat ini, para pedagang grosir belum memberikan alasan pasti mengapa harga plastik belum juga kembali normal setelah masa puncak Ramadan dan Lebaran usai. Namun, muncul dugaan bahwa kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia serta ketegangan konflik global di wilayah Timur Tengah yang berimbas pada rantai pasok bahan baku plastik.

Belum adanya tanda‑tanda penurunan harga membuat para pengusaha harus memutar otak agar margin keuntungan tidak terus tergerus oleh mahalnya biaya pengemasan.

Para pelaku UMKM di Malang kini berusaha menyesuaikan strategi. Beberapa mencoba mencari alternatif kemasan yang lebih murah, sementara yang lain menimbang kenaikan harga jual sedikit demi sedikit. Namun, keputusan ini harus diambil dengan hati‑hati agar tidak menghancurkan loyalitas pelanggan.

Di tengah ketidakpastian pasar, penting bagi pelaku usaha untuk terus memantau pergerakan harga bahan baku. Menjaga hubungan baik dengan pemasok dan memperhatikan tren global dapat membantu mengurangi dampak negatif kenaikan harga plastik.

Perubahan ini menandai tantangan baru bagi UMKM kuliner di Malang. Meskipun beban biaya meningkat, banyak pengusaha tetap berusaha menjaga harga produk agar tetap terjangkau bagi konsumen. Keterbukaan terhadap solusi kreatif dan adaptasi strategi bisnis menjadi kunci untuk bertahan di tengah kondisi pasar yang terus berubah.

UMKMplastik kemasanharga plastikbiaya operasionalmargin keuntunganMalangrantai pasok

Komentar

Memuat komentar...