Hari Buku Sedunia: 23 April, Momen Sahabat Bacaan Nasional
Gambar atau konten salah?
Hari Buku Sedunia diperingati setiap 23 April, menandai pentingnya buku dalam menyalurkan pengetahuan, gagasan, dan sastra ke generasi berikutnya. Pada tanggal tersebut, dunia mengingat peran buku sebagai warisan budaya yang tak terpisahkan dari perkembangan peradaban.
UNESCO menetapkan Hari Buku Sedunia pada 23 April 1995, sekaligus menggabungkan hak cipta. Penetapan ini terkait dengan kematian beberapa tokoh sastra, termasuk William Shakespeare dan Inca Garcilaso de la Vega. Sejak 1436, masyarakat di Spanyol mengenal Hari ST George sebagai The Day of the Rose, di mana pasangan bertukar hadiah berupa bunga dan buku.
Di Catalonia, peringatan kematian Miguel de Cervantes dipadukan dengan The Day of the Rose pada 1926. Selama dua hari, masyarakat membaca Don Quixote, karya Cervantes, dan hadiah dihadiahkan oleh raja di Alcalá de Henares. UNESCO mengadopsi festival Catalonian sebagai dasar penetapan Hari Buku dan Hak Cipta.
23 April dipilih karena bertepatan dengan bulan lahir dan tanggal wafat Shakespeare, Cervantes, Garcilaso de la Vega, serta Josep Pla, Maurice Druon, Manuel Mejía Vallejo, dan Halldór Laxness. Namun, perbedaan kalender Julian dan Gregorian membuat Shakespeare sebenarnya wafat 11 hari setelah Cervantes, menjadikan tanggal tersebut kebetulan.
Berbeda dengan Hari Buku Sedunia, Hari Buku Nasional di Indonesia dirayakan setiap 17 Mei. Perayaan pertama terjadi pada 2002, ketika UNESCO mencatat tingkat melek huruf dewasa di Indonesia hanya 87,9 %. Hal ini memicu keprihatinan karena literasi dasar dianggap kurang menjadi prioritas.
Abdul Malik Fajar, saat itu Menteri Pendidikan, memunculkan ide Hari Buku Nasional sebagai momen khusus mempromosikan budaya membaca. Tanggal 17 Mei dipilih karena menandai berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980.
Jawa Timur, salah satu provinsi dengan tradisi sastra kuat, menjadi latar bagi banyak penulis yang karya-karyanya memengaruhi kancah nasional. Berikut beberapa penulis populer asal Jawa Timur yang dikenal luas di Indonesia.
-
Zawawi Imron (KH D Zawawi Imron) lahir 1 Januari 1945 di Desa Batang‑batang, Kecamatan Batang‑batang, Kabupaten Sumenep. Ia tumbuh di pesisir Madura, tempat budaya lokal kental. Zawawi dikenal sebagai pelopor puisi surealisme Indonesia, menggabungkan imajinasi alam dan spiritualitas pedesaan. Karyanya sering dipuji Subagio Sastrowardojo dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Pada 1982, ia menerima SEA Write Award dari keluarga kerajaan Thailand.
-
Akhudiat adalah sastrawan kelahiran Banyuwangi. Ia menonjol lewat naskah drama yang memenangkan sayembara Dewan Kesenian Jakarta pada 1970‑an. Drama terkenalnya, seperti rafito (1972) dan Rumah Tak Beratap (1974), sering meraih penghargaan. Akhudiat juga aktif di Bengkel Muda Surabaya, Dewan Kesenian Surabaya, dan menerima penghargaan Aktivis Teater Modern dari Pemerintah Kota Surabaya.
-
Khilma Anis lahir 4 Oktober 1986 di Jember. Ia memulai menulis sejak di Madrasah Aliyah, kemudian menjadi redaktur majalah ELITE di MAN Tambakberas Jombang. Setelah lulus UIN Sunan Kalijaga, ia aktif di organisasi pers mahasiswa ARENA, menulis cerpen, dan mengirimkan karya ke media. Khilma pernah mengajar di Madrasah Muallimat Kudus dan membimbing majalah KALAMUNA. Novel terkenalnya, Hati Suhita, menjadi best‑seller dan diadaptasi menjadi film yang tayang pada Mei 2023.
-
Makinuddin Samin lahir di Tuban dan menempuh pendidikan di Lamongan, Pasuruan, hingga Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Hukum. Ia lulus pada 2001 dan sempat bekerja sebagai peneliti di Pusat Analisis Sosial di Bandung. Sejak 2006, ia terlibat program manajemen dan pembelajaran di Sumatera Utara dan Jawa Barat. Karyanya, Ahangkara: Sengketa Kekuasaan dan Agama, menjadi best‑seller karena kritik tajam terhadap kekuasaan dan agama.
Semua penulis di atas menunjukkan bagaimana Jawa Timur menyalurkan kreativitasnya ke dalam berbagai genre: puisi, drama, novel, dan karya nonfiksi. Mereka tidak hanya menulis, tetapi juga aktif dalam komunitas sastra, mengajar, dan mempromosikan budaya membaca di daerah masing‑masing.
Hari Buku Sedunia dan Hari Buku Nasional memberikan platform bagi penulis lokal untuk dikenal secara nasional. Dengan peringatan ini, masyarakat diharapkan lebih gemar membaca, sehingga literasi menjadi bagian penting dalam pembangunan bangsa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026