Hari Kebangkitan Nasional ke-118: Meneguhkan Semangat Nasional

Sigit W. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 105 dibaca
Bisik.id
Hari Kebangkitan Nasional ke-118: Meneguhkan Semangat Nasional

Gambar atau konten salah?

Hari Kebangkitan Nasional akan digelar pada 20 Mei 2026, menandai peringatan ke-118 hari kebangkitan bangsa. Acara ini tidak sekadar rutin di lapangan, melainkan momen refleksi penting bagi bangsa untuk mengenang titik balik perjuangan para pendahulu dalam merebut kedaulatan.

Menurut buku Sejarah Nasional Indonesia karya Manarfa dkk., tonggak sejarah ini bermula dari lahirnya organisasi modern pertama di tanah air. Peristiwa tersebut menjadi “fajar menyingsing” bagi kesadaran berbangsa, di mana perjuangan fisik yang semula bersifat kedaerahan mulai bertransformasi menjadi gerakan intelektual dan diplomatik yang terstruktur.

Faktor internal yang memicu kesadaran nasional terbagi menjadi beberapa unsur. Pertama, penderitaan panjang akibat penjajahan. Sistem kerja paksa, diskriminasi sosial, dan kemiskinan sistemik menjadi pemantik utama kejengkelan rakyat terhadap pemerintah kolonial Belanda hingga penjajahan Jepang. Kedua, memori kejayaan masa lalu. Kerinduan dan rasa bangga kolektif akan kebesaran kerajaan kuno Nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit yang pernah menyatukan wilayah luas menambah semangat nasionalisme. Ketiga, lahirnya kaum intelektual pribumi. Penerapan Politik Etis oleh pemerintah kolonial secara tidak sengaja membuka akses pendidikan bagi sebagian kecil anak bumiputera. Alih-alih sekadar menjadi tenaga administrasi pesuruh kolonial, para pelajar STOVIA seperti dr. Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji Tirtonegoro justru memanfaatkan ilmu tersebut untuk menyemai benih nasionalisme.

Faktor eksternal juga berperan penting. Masuknya paham‑paham modern, seperti liberalisme, sosialisme, dan nasionalisme dari Eropa, mengalir ke pikiran para pemuda terpelajar Indonesia. Inspirasi dari gerakan Turki Muda di Turki dan Kongres Nasional India memberikan bukti nyata bahwa bangsa Asia bisa mengonsolidasikan kekuatan secara mandiri. Kemenangan militer Jepang atas kekaisaran Rusia pada tahun 1905 mematahkan dogma lama bahwa bangsa Eropa tidak terkalahkan, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri bangsa-bangsa Asia, termasuk para pejuang di Indonesia.

Estafet perjuangan dimulai dengan berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908, yang berfokus pada jalur pendidikan, sosial, dan kebudayaan. Organisasi ini memicu efek domino, dan organisasi berbasis massa serta politik mulai menjamur, seperti Sarekat Islam, Indische Partij, Muhammadiyah, hingga Partai Nasional Indonesia (PNI). Pada era pergerakan ini, muncul pula tokoh-tokoh ikonik “Tiga Serangkai” yakni Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara yang vokal mengkritik kelakuan penjajah. Kritik tajam Ki Hajar Dewantara melalui esai bertajuk Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) sempat membuat dirinya diasingkan oleh kolonial.

Estafet kesadaran nasional ini mencapai puncaknya pada 28 Oktober 1928, saat para pemuda dari seantero negeri mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa dalam peristiwa Sumpah Pemuda.

Asal‑usul penetapan Hari Kebangkitan Nasional oleh Bung Karno bermula pada 20 Mei 1948 di Istana Kepresidenan Yogyakarta. Saat itu, Indonesia yang baru saja merdeka kembali terancam oleh agresi militer kolonial pasca kemerdekaan. Presiden Soekarno menilai semangat kelahiran Budi Utomo 1908 perlu dihidupkan kembali guna memperkuat persatuan nasional yang mulai goyah. Secara yuridis, ketetapan ini diperkuat melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari‑Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Peringatan ini bertujuan mempertebal rasa bangga, memperkuat kepribadian bangsa, serta merawat semangat persatuan antargenerasi.

Untuk Hari Kebangkitan Nasional ke-118, tema yang ditetapkan adalah “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Tema ini menekankan pentingnya membina generasi muda sebagai penerus estafet kepemimpinan, sekaligus menegaskan urgensi mewujudkan kedaulatan di sektor teknologi informasi digital sebagai fondasi utama ketahanan nasional di era modern.

Berikut adalah susunan upacara bendera Harkitnas 2026 yang wajib diikuti secara tertib, sesuai pedoman resmi Komdigi:

  • Pengibaran Bendera Merah Putih diiringi lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
  • Menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
  • Pengheningan cipta dipimpin oleh Inspektur Upacara.
  • Pembacaan naskah Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
  • Pembacaan naskah pidato Menteri Komunikasi dan Digital menyambut Peringatan ke-118 Tahun Hari Kebangkitan Nasional oleh Inspektur Upacara.
  • Menyanyikan lagu Perjuangan (Bagimu Negeri dan Satu Nusa Satu Bangsa).
  • Pembacaan doa.

Acara ini menegaskan kembali nilai-nilai kebangsaan dan mengajak generasi muda untuk terus berkontribusi positif serta menjaga kedaulatan bangsa. Dengan memperingati hari ini, bangsa Indonesia mengingat kembali perjuangan para pendahulu dan menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan zaman modern.

Secara keseluruhan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional menyoroti perjalanan panjang bangsa dari masa penjajahan hingga meraih kedaulatan. Dari lahirnya Budi Utomo hingga Sumpah Pemuda, dan akhirnya ditetapkannya hari peringatan oleh Bung Karno, setiap langkah menegaskan tekad bangsa untuk tetap bersatu. Tema ke-118 menekankan pentingnya generasi muda dalam menjaga kedaulatan, khususnya di bidang teknologi informasi, yang kini menjadi kunci ketahanan nasional. Dengan mengikuti susunan upacara yang telah ditetapkan, semua pihak dapat bersama-sama memperkuat semangat kebangsaan dan mempersiapkan masa depan Indonesia yang lebih kuat dan mandiri.

Hari Kebangkitan NasionalBudi UtomoSumpah PemudaBung KarnoKedaulatan nasionalTeknologi informasiKetahanan nasionalGenerasi muda

Komentar

Memuat komentar...