Hotel de Boer: Saksi Perubahan Medan dari Kolonial ke Modern
Gambar atau konten salah?
Hotel de Boer, yang kini dikenal sebagai Grand Inna Medan, berdiri di Jalan Balai Kota, Medan. Bangunan ini menjadi saksi bisu perkembangan kota yang dulu menjadi pusat ekonomi perkebunan di Sumatera Utara. Dari bangunan kolonial hingga hotel modern, sejarahnya mencerminkan perubahan zaman.
Hotel ini pertama kali didirikan pada tahun 1899 dengan nama Hotel de Boer. Pada masa itu, bangunan tersebut masih berupa restoran yang dilengkapi dengan paviliun dan kamar-kamar yang dimiliki oleh Herman de Boer. Sejak awal, hotel ini sudah dianggap modern di kota Medan, menandai era baru dalam arsitektur dan layanan.
“Hotel de Boer sebenarnya berawal dari konsep restoran yang di dalamnya terdapat paviliun dan kamar‑kamar yang dimiliki oleh Herman de Boer. Sejak 1899 berdiri di Kota Medan, hotel ini sudah termasuk bangunan modern yang dibangun di kota ini,” kata Kiki pada 09 April 2026.
Menurut Kiki, hotel ini tidak hanya sekadar tempat menginap. Ia menegaskan bahwa Hotel de Boer menjadi simbol awal modernitas Kota Medan. “Hotel de Boer termasuk bangunan yang menandai awal modernitas Kota Medan. Sejak 1887 Medan ditetapkan sebagai ibu kota Keresidenan Sumatera Timur. Tentu perkembangan kota Medan juga berkaitan erat dengan ekonomi perkebunan yang pesat di wilayah ini,” jelasnya.
Namun, eksklusivitas hotel membuatnya hanya dapat dinikmati oleh orang Eropa. “Memang pengunjung dan yang menginap di Hotel de Boer adalah orang Eropa, terutama para baron perkebunan yang berasal dari Belanda, Belgia, Jerman, Inggris, dan lainnya. Sepanjang literatur yang ada, belum pernah ditemukan orang pribumi yang menginap di sana. Kemungkinan karena faktor kelas, harga, dan eksklusivitas hotel tersebut,” paparnya.
Meski begitu, ada kisah unik yang melekat pada bangunan ini. Seorang tokoh nasional, Sutan Sjahrir, pernah bermain biola di hotel tersebut saat masih muda. Meskipun tidak menjadi tamu resmi, penampilannya menambah warna sejarah hotel ini.
Setelah dinasionalisasi, Hotel de Boer berubah nama menjadi Grand Inna Medan. Perubahan tidak hanya sekadar nama, melainkan juga bentuk fisik dan fungsi bangunan. “Setelah dinasionalisasi dan berubah menjadi Grand Inna Medan, terdapat berbagai perubahan, seperti pembangunan hotel bertingkat di samping bangunan awal. Saat ini, kondisi hotel lama juga tidak lagi diperuntukkan sebagai tempat penginapan,” ungkapnya.
Perubahan tersebut membuat nilai historis bangunan menjadi lebih sulit dilestarikan. “Sayang sekali, karena nilai historis hotel ini sungguh besar, mengingat keberadaannya sejak akhir abad ke-19. Kondisi bangunan juga mengalami perubahan, seperti pada bagian jendela dan hilangnya beberapa elemen paviliun yang menjadi ciri khas awal,” katanya.
Menanggapi hal ini, Kiki menegaskan perlunya perhatian dari semua pihak. “Perlu ada kepedulian dan pelestarian dari berbagai pihak, baik pemerintah, pengelola, maupun masyarakat. Karena bangunan ini merupakan cagar budaya yang dilindungi Undang‑Undang Nomor 11 Tahun 2010,” tegasnya.
Di tengah kota Medan yang kini modern, bangunan Hotel de Boer masih berdiri, memegang jejak sejarah panjang. Ia bukan sekadar hotel, melainkan saksi perjalanan kota dari masa kolonial hingga hari ini. Perubahan yang terjadi menandai betapa pentingnya pelestarian warisan budaya agar generasi mendatang tetap mengenal akar sejarah kota ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
