Hujan Lebat di Medan Mei Mencuat, BMKG Jelaskan Faktor MJO

Ayu W. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 121 dibaca
Bisik.id
Hujan Lebat di Medan Mei Mencuat, BMKG Jelaskan Faktor MJO

Gambar atau konten salah?

Medan dan wilayah sekitarnya mengalami hujan yang cukup lebat pada bulan Mei, meski bulan tersebut biasanya menandai awal musim kemarau. Fenomena ini menjadi perhatian karena perubahan pola cuaca yang sedang berlangsung.

Menurut Kepala BMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, periode April hingga Mei merupakan fase transisi dari musim hujan menuju musim kemarau. Ia menjelaskan bahwa puncak musim hujan pertama terjadi pada Februari, diikuti puncak kedua di bulan April. “Jadi saat ini itu transisi ke musim kemarau. Puncak musim hujan pertama itu terjadi pada Februari, kemudian puncak musim hujan berikutnya di April. Nah, April sampai Mei ini merupakan masa transisi menuju musim kemarau,” ujar Hendro pada 08 Mei 2026.

Hendro menambahkan bahwa kondisi hujan di Sumatera Utara, khususnya Medan, dipengaruhi oleh karakteristik wilayah yang masih menampilkan pola hujan ekuatorial. Wilayah tersebut terbagi menjadi beberapa zona, termasuk pantai barat, pegunungan, dan pantai timur. “Wilayah Sumatera Utara itu terbagi menjadi beberapa zona seperti pantai barat, pegunungan, dan pantai timur. Nah, khusus Medan dan sekitarnya itu masih dipengaruhi pola ekuatorial, sehingga hujan masih bisa terjadi walaupun sudah memasuki periode kemarau,” jelasnya.

Selain faktor transisi musim, BMKG mencatat adanya aktivitas atmosfer yang meningkatkan potensi hujan. Salah satu faktor utama adalah **MJO fase 2**. Hendro menjelaskan bahwa MJO, atau Madden Julian Oscillation, dapat dianggap sebagai arak-arakan awan hujan yang bergerak dari Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik, melewati wilayah timur Indonesia, termasuk Sumatera Utara. “Yang kedua adalah karena saat ini ada aktivitas MJO fase 2. MJO atau Madden Julian Oscillation itu bisa dibilang arak-arakan awan hujan dari Samudera Hindia menuju Samudera Pasifik yang melintasi Indonesia sebelah timur, termasuk Sumatera Utara,” tambahnya.

Hendro menekankan bahwa aktivitas MJO membawa massa udara basah yang mendukung pembentukan awan hujan. Ketika fase tersebut masuk ke Sumatera Utara, massa udara basah ikut terbawa sehingga potensi hujan meningkat. Siklus MJO biasanya berulang sekitar tiga minggu sekali. “Nah, ketika fase itu masuk ke Sumatera Utara, massa udara basah ikut terbawa sehingga potensi hujan meningkat. Siklus MJO ini biasanya berulang sekitar tiga minggu sekali,” ujarnya.

Faktor lain yang turut mempengaruhi hujan adalah **gelombang Kelvin** dan konvergensi angin di pesisir timur Sumatera Utara. Gelombang atmosfer ini biasanya berulang dalam rentang satu hingga dua bulan sekali. Di wilayah pesisir timur, konvergensi dan belokan angin menciptakan kondisi atmosfer yang labil, memudahkan pembentukan awan hujan. “Selain MJO, saat ini aktif juga gelombang Kelvin. Gelombang atmosfer ini biasanya juga berulang dalam rentang satu hingga dua bulan sekali. Kemudian di wilayah pesisir timur Sumatera Utara terjadi konvergensi dan belokan angin. Kondisi itu membuat atmosfer menjadi labil sehingga pembentukan awan hujan semakin mudah terjadi,” jelasnya.

Hendro menegaskan bahwa ketiga faktor tersebut masih tergolong wajar terjadi pada masa pancaroba. “Jadi ada tiga faktor utama yang menyebabkan hujan masih sering turun. Pertama karena transisi musim, kedua aktivitas MJO fase 2, dan ketiga aktifnya gelombang Kelvin serta konvergensi angin,” pungkasnya.

Fenomena hujan yang berlanjut di Medan pada bulan Mei menandakan bahwa pola cuaca di Sumatera Utara masih dipengaruhi oleh kombinasi transisi musim, aktivitas MJO, dan gelombang Kelvin. Kondisi ini dapat mempengaruhi perencanaan kegiatan di wilayah tersebut, baik di sektor pertanian maupun transportasi, karena curah hujan yang tidak terduga tetap menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan.

MedanSumatera Utarahujantransisi musimMJO fase 2gelombang Kelvinkonvergensi angin

Komentar

Memuat komentar...