Idul Fitri Ponorogo: Tradisi Sungkeman dan THR Keluarga
Gambar atau konten salah?
Idul Fitri 2026 menyelimuti Ponorogo, Jawa Timur. Suasana hangat dan penuh haru tercipta ketika keluarga besar almarhum Mbah Supeno berkumpul di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak pada Jumat (20 Maret 2026).
Tradisi sungkeman, yakni saling memaafkan, dilaksanakan setelah melaksanakan salat Idul Fitri. Anggota keluarga yang merantau pulang ke kampung halaman. Saat berpelukan, banyak yang menangis. Momen ini menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada orang tua dan saudara.
Setelah prosesi sungkeman, suasana berubah menjadi ceria. Anak‑anak menunggu giliran menerima tunjangan hari raya (THR). Sekitar 40 anak terlihat antusias. Beberapa dari mereka mendapat THR hingga Rp 1 juta.
Rafasa Zidane Raharjo, salah satu anak, mengatakan senang mengikuti tradisi. Ia berencana menggunakan uang THR untuk membeli sepatu.
Setyo Budiyono, sesepuh keluarga, menjelaskan bahwa tradisi berbagi THR, atau dalam bahasa Jawa disebut sangu, telah dilakukan turun‑temurun. Ia menekankan makna mendalam: mempererat hubungan kekeluargaan, menciptakan rasa memiliki dan persatuan.
Tradisi sungkeman dan berbagi THR bukan hanya ritual; ia juga menjadi wujud rasa syukur atas rezeki. Lebaran menjadi ajang berkumpul dan memperkuat nilai kebersamaan dalam keluarga.
Ringkasan: Di Ponorogo, keluarga almarhum Mbah Supeno merayakan Idul Fitri dengan sungkeman dan berbagi THR. Tradisi ini mempererat hubungan keluarga, menumbuhkan rasa hormat, dan mengekspresikan syukur atas rezeki. Anak-anak menantikan THR, sementara sesepuh menegaskan makna kesatuan dalam keluarga.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
