IHSG Anjlok 1,88% Akibat Tarif Trump dan Konflik Timur Tengah

Lina F. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
IHSG Anjlok 1,88% Akibat Tarif Trump dan Konflik Timur Tengah

Gambar atau konten salah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Pelemahan ini terjadi karena pengaruh dari situasi global, terutama kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan tarif impor baru untuk 60 negara mitra dagang. Kondisi ini diperparah dengan memanasnya konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG melemah cukup dalam hingga 1,88% dan berada di level 6.196,43. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga ikut terkoreksi 1,97% hingga penutupan perdagangan sore. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 104 saham yang berhasil menguat. Sementara itu, 587 saham mengalami pelemahan dan 105 saham lainnya stagnan.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa para investor saat ini sedang mencermati kebijakan tarif baru AS. Tarif tersebut sebesar 10% hingga 12,5% yang dikenakan kepada puluhan mitra dagang, termasuk Indonesia. Berdasarkan laporan Reuters, tarif baru ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai lemah dalam menegakkan larangan terhadap produk yang dibuat menggunakan tenaga kerja paksa.

"Investor mencermati akan pemberlakuan tarif impor baru dari AS sebesar 10-12,5% terhadap 60 mitra dagang termasuk Indonesia," kata Herditya kepada awak media pada Jumat, 24 Juli 2026.

Selain tarif AS, investor juga memperhatikan konflik di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak mentah dunia naik hingga menembus level di atas US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran baru. Banyak investor khawatir inflasi global akan meningkat dan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

"Meningkatnya kembali kekhawatiran investor akan inflasi global dan memperbesar peluang bank sentral untuk higher for longer," jelas Herditya.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas menilai bahwa pelemahan IHSG juga dipicu oleh aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan investor. Kekhawatiran akan perang di Timur Tengah yang berkepanjangan membuat banyak investor memilih untuk merealisasikan keuntungan mereka. Hingga penutupan perdagangan, sektor siklikal mencatat pelemahan terbesar yaitu sebesar 3,04%.

"Setelah sempat menembus level 6.400 secara intraday pada pekan ini, IHSG melemah pada Jumat akibat sentimen negatif dari kenaikan harga minyak mentah yang memicu terjadinya profit taking," tulis riset Phintraco Sekuritas.

Phintraco Sekuritas menambahkan, konflik yang berkepanjangan membuat harga minyak mentah dunia bertahan di level tinggi dalam waktu lama. Hal ini berpotensi mendorong kembali laju inflasi global. Sentimen negatif lainnya datang dari langkah AS yang memberlakukan tarif impor tambahan sebesar 10% untuk produk-produk asal Indonesia.

"IHSG ditutup di bawah level MA5, namun masih bertahan di atas level MA10. Histogram positif MACD berlanjut menyempit dan Stochastic RSI mengalami pembalikan arah menuju pivot area. Sehingga IHSG berpotensi akan menguji level 6.000-6.100 pada pekan depan jika harga minyak masih bertahan di level tinggi," pungkasnya.

Kondisi pasar saham Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh dua faktor eksternal utama: kebijakan tarif AS dan konflik Timur Tengah. Keduanya menekan indeks dan membuat investor cenderung berhati-hati. Jika harga minyak tetap tinggi, pelemahan IHSG diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

IHSGtarif ASkonflik Timur Tengahharga minyakprofit takinginflasipelemahan

Komentar

Memuat komentar...