IHSG Naik 1,10%: Komoditas Memimpin, Saham Besar Turun

Ani R. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
IHSG Naik 1,10%: Komoditas Memimpin, Saham Besar Turun

Gambar atau konten salah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pada 22 Mei 2024 dengan kenaikan 1,10% menjadi 6.162,04. Pertumbuhan ini didorong oleh saham-saham berbasis komoditas dan tambang, yang memegang peranan penting dalam pasar.

Di antara saham yang paling berpengaruh, Merdeka Copper Gold (MDKA) melesat 24,77%. Selain itu, Emas Antam Indonesia (EMAS) naik 19,67% dan Bumi Resources Minerals (BRMS) menguat 11,50%. Pergerakan positif ini menandai dominasi sektor komoditas dalam sesi perdagangan tersebut.

Namun, saham-saham berkapitalisasi besar justru menjadi penekan indeks. Telkom Indonesia (TLKM) turun 2,67%, Astra International (ASII) terkoreksi 3,57%, sementara Bayan Resources (BYAN) melemah 4,53%. Penurunan ini menunjukkan ketidakseimbangan antara saham kecil dan besar di pasar.

Investor asing terus melakukan aksi jual, mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar. Penjualan ini menambah tekanan pada indeks, meskipun masih ada saham yang menguat.

Secara sektoral, mayoritas sektor berada di zona hijau. Basic industry memimpin penguatan dengan 6,85%, sedangkan sektor keuangan menjadi sektor dengan pelemahan terdalam sebesar 0,28%. Pergerakan ini mencerminkan dinamika sektor industri dan keuangan di Indonesia.

Sentimen positif juga datang dari bursa Amerika Serikat. Dow Jones naik 0,58% ke level 50.579, S&P 500 bertambah 0,37% menjadi 7.473, dan Nasdaq menguat 0,19% ke posisi 26.343. Kenaikan ini memberi sinyal optimisme di pasar global.

Para pelaku pasar memantau perkembangan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI. Di saat yang sama, pasar menunggu dampak rebalancing indeks MSCI yang mulai efektif pada 1 Juni 2024. Kondisi ini tercermin dari pergerakan ETF EIDO yang relatif mendatar di level 0,08% dan MSCI Indonesia yang turun 0,95%.

FTSE Russell resmi mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dari indeks Large Cap. Sementara itu, Daaz Bara Lestari (DAAZ), Hillcon (HILL), dan Mulia Industrindo (MLIA) dicoret dari indeks Micro Cap. Keputusan ini didasarkan pada struktur kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi dan aktivitas perdagangan yang tidak biasa.

FTSE menilai struktur kepemilikan DSSA terlalu terkonsentrasi dengan HSC mencapai 95,76%. DAAZ dianggap belum memenuhi ketentuan minimum saham publik, sedangkan HILL dan MLIA dikeluarkan terkait aktivitas perdagangan yang tidak biasa. Perubahan ini berpotensi memicu arus dana asing keluar lebih dari US$2,86 miliar.

Kapitalisasi pasar Indonesia di FTSE diperkirakan turun di bawah US$88,15 miliar, dengan jumlah emiten dalam indeks menyusut dari 39 menjadi 35 perusahaan. FTSE masih membuka kemungkinan revisi hingga penutupan perdagangan 5 Juni 2024, sebelum komposisi final berlaku efektif pada 22 Juni 2026.

Singaraja Putra Tbk (SINI) berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue setelah mendapat persetujuan RUPS pada 26 Mei 2024. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, perseroan berpotensi memperoleh dana untuk mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha Petrosea (PTRO), senilai sekitar Rp1,73 triliun.

Dalam skema transaksi tersebut, SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat penyelesaian akuisisi. Sisa kewajiban sebesar Rp218,40 miliar ditambah bunga 7,5% per tahun akan dibayar bertahap hingga akhir 2028 menggunakan kas internal. Posisi kas dan setara kas SINI per 2025 tercatat sebesar Rp33,56 miliar.

Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham atau total Rp1,54 triliun. Nilai tersebut setara 68,35% dari laba bersih perseroan. Meski pendapatan INTP turun 4,40% secara tahunan menjadi Rp17,73 triliun, laba bersih perseroan justru naik 12,04% menjadi Rp2,25 triliun. Laba per saham juga meningkat menjadi Rp674,50 dibandingkan Rp591,49 pada tahun sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan terakhir, saham INTP berada di level Rp4.900 per saham dengan dividend yield sekitar 9,55%. Dari sisi valuasi, saham INTP diperdagangkan pada PBV 0,74 kali dan PER 7,64 kali trailing twelve months (TTM). Jadwal cum dividen ditetapkan pada 3 Juni 2024, sedangkan pembayaran dividen akan dilakukan pada 19 Juni 2026.

Berikut rekomendasi saham hari ini: TINS – Buy 3.530–3.580, TP 3.650–3.720, SL 3.380; ADMR – Buy 1.460–1.480, TP 1.500–1.520, SL 1.380; INDY – Buy 2.420–2.460, TP 2.530–2.570, SL 2.300; WIFI – Buy 2.080–2.120, TP 2.160–2.200, SL 1.980; DEWA – Buy 368–378, TP 386–398, SL 352.

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.

Pergerakan indeks dan saham di pasar Indonesia menunjukkan ketidakpastian yang dipengaruhi oleh dinamika sektor komoditas, kebijakan ekspor, dan perubahan indeks global. Investor harus tetap waspada terhadap perubahan struktur kepemilikan dan kebijakan pasar yang dapat memengaruhi nilai investasi mereka.

IHSGsaham komoditasFTSE Russellrights issuedividenrebalancing MSCI

Komentar

Memuat komentar...