IHSG Turun 0,68% ke 6.868,89, MSCI Potong HSC di Bursa
Gambar atau konten salah?
IHSG menutup sesi perdagangan pada 12 Mei 2026 dengan penurunan 0,68 %, turun ke level 6 868,89. Penurunan ini terjadi setelah indeks sebelumnya melemah lebih dari 2 % menembus 6 762,87, namun kemudian berhasil memotong koreksi.
Volume perdagangan pada hari itu mencapai 32,87 miliar saham, dengan nilai transaksi total Rp 16,11 triliun. Frekuensi transaksi mencapai 2 535 099 kali, menunjukkan aktivitas yang tetap tinggi meski indeks melemah.
Secara keseluruhan, 463 saham mengalami penurunan, 207 saham menguat, dan 151 saham tetap stagnan. Beberapa emiten utama yang ikut terkoreksi antara lain:
- PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) – turun 3,51 % ke Rp 3 570 per saham.
- PT Kimia Farma Tbk (KAEF) – turun 14,69 % ke Rp 610 per saham.
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) – turun 8,25 % ke Rp 945 per saham.
- PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) – turun 8,62 % ke Rp 318 per saham.
Di sisi lain, MSCI akan mengumumkan hasil rebalancing indeks untuk saham Indonesia pada 12 Mei 2026. Dalam pengumuman tersebut, MSCI tidak akan menambah konstituen baru dari Indonesia ke dalam indeksnya. Sebaliknya, ada kemungkinan MSCI menghapus beberapa saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC). Saat ini, dua saham Indonesia yang termasuk HSC di indeks MSCI adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Penghapusan atau penyesuaian bobot saham ini akan menurunkan proporsi investasi asing di saham Indonesia di dalam indeks MSCI. Hal ini dapat mempengaruhi persepsi pasar terhadap eksposur global terhadap pasar modal Indonesia.
“Jadi, kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, kita dalam jangka pendek akan melihat mungkin saja weighting Indonesia turun,” ujar Jeffrey Hendrik, Penjabat Sementara Direktur Utama BEI, dalam acara Investor Relations Forum di Main Hall BEI, Jakarta Selatan, pada 11 Mei 2026.
Pergerakan indeks dan keputusan rebalancing MSCI menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih dalam fase penyesuaian. Investor harus memperhatikan dinamika ini, terutama bagi mereka yang menaruh eksposur signifikan pada saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Perubahan bobot indeks dapat memicu pergeseran aliran modal asing, sehingga penting untuk tetap waspada terhadap perkembangan regulasi dan kebijakan indeks global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
