IHSG Turun 5% karena Rupiah Melengkung, Surplus Dagang Menurun

Lina F. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 99 dibaca
Bisik.id
IHSG Turun 5% karena Rupiah Melengkung, Surplus Dagang Menurun

Gambar atau konten salah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hampir 5% pada penutupan sesi perdagangan Rabu, 03 Juni 2026. Penurunan ini dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang melemah dan data ekonomi Indonesia yang mengalami penyusutan.

Bloomberg melaporkan bahwa rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, menguat 0,55% ke level Rp 17.936,5. Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa koreksi di JCI disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah.

Selain itu, IHSG juga tertekan oleh emiten konglomerasi yang biasanya kuat. Pada perdagangan sebelumnya, saham-saham ini naik signifikan hingga auto reject atas (ARA). Herditya menegaskan bahwa IHSG masih dalam fase penurunan dan belum ada sinyal penguatan nyata.

Ia menambahkan: “Pergerakan IHSG dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami auto reject atas. Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrendnya dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid.”

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan penurunan IHSG terkait turunnya surplus neraca dagang Indonesia pada April 2026. Ia menyebutnya sebagai level terendah dalam enam tahun terakhir.

“Penyusutan surplus neraca perdagangan per April 2026 pada US$ 89,1 juta sebagai level terendah dalam enam tahun terakhir, menunjukkan adanya perlambatan dari kontribusi sektor eksternal dan menjadi penahan laju penguatan IHSG,” katanya.

Pasar juga menantikan penyesuaian indeks saham RI dalam indeks global FTSE Russell yang akan dilakukan pada 22 Juni. Investor memantau ketegangan antara AS dan Iran serta operasi militer Israel di Lebanon, menambah ketidakpastian global.

Rilis data US Nonfarm Payrolls per Mei pada akhir pekan ini juga dinantikan karena akan mempengaruhi ekspektasi arah suku bunga The Fed ke depannya.

Pasar tetap berhati-hati; kelemahan mata uang dan penurunan surplus neraca dagang memberi tekanan pada indeks, sementara ketegangan global dan data tenaga kerja AS yang akan datang menambah ketidakpastian.

IHSGRupiahSurplus Neraca DagangJCIFTSE RussellKetegangan GlobalUS Nonfarm PayrollsEmiten Konglomerasi

Komentar

Memuat komentar...