IHSG Tutup Naik 1,15% ke 7.174,32, BBCA & BBRI Laju Naik
Gambar atau konten salah?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan pada 07 Mei 2024 dengan kenaikan 1,15%, mencapai 7.174,32. Pergerakan positif ini didorong oleh beberapa saham unggulan yang menampilkan performa kuat.
Bank Central Asia (BBCA) mencatat kenaikan 4,62%, sedangkan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 4,75%. Saham MORA menunjukkan lonjakan terbesar, melonjak 19,62%.
Di sisi lain, beberapa saham mengalami penurunan signifikan. Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 10,20%, AMMN turun 7,20%, dan BRPT melemah 5,68%. Pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian di beberapa sektor.
Investor asing masih mencatat jual bersih di pasar reguler sebesar Rp 360,34 miliar dan di seluruh pasar sebesar Rp 76,39 miliar. Aktivitas ini menunjukkan ketidakpastian global yang mempengaruhi keputusan investasi.
Mayoritas indeks sektoral menunjukkan penguatan. Sektor kesehatan memimpin dengan kenaikan 2,01%, sementara sektor basic industry menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,62%. Pergerakan sektoral ini mencerminkan dinamika pasar yang beragam.
Sentimen global turut memengaruhi pasar. Bursa saham Amerika Serikat menutup sesi dengan zona merah. Indeks Dow Jones turun 0,63% ke level 49.596, S&P 500 turun 0,38% ke posisi 7.337, dan Nasdaq terkoreksi 0,13% ke level 25.806. Pergerakan ini menambah ketidakpastian bagi investor domestik.
Pelaku pasar menantikan data cadangan devisa Indonesia periode April. Data cadangan devisa Maret tercatat turun menjadi US$ 148,15 miliar dibanding Februari sebesar US$ 151,90 miliar. Di sisi lain, pergerakan ETF Indonesia offshore EIDO cenderung mendatar, sementara MSCI Indonesia menguat 1,56%. Data ini menjadi indikator penting bagi kebijakan moneter dan fiskal.
Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) telah menandatangani Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan Metaside Global Holding Pte Ltd. Perjanjian ini menargetkan akuisisi 99,99% saham PT Sari Murni Abadi atau Momogi Group pada 06 Mei 2026. Akuisisi ini membuka peluang ekspansi bisnis lebih luas, mengingat Momogi Group memiliki jaringan produksi di Indonesia dan Vietnam. Di Indonesia, fasilitas manufaktur Momogi berada di Jawa Barat dan Jawa Timur. Sementara di Vietnam, perusahaan memiliki dua fasilitas produksi melalui integrasi dengan Bibica Corporation, emiten makanan ringan yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun.
Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melaporkan progres pembangunan proyek Chlor Alkali‑Ethylene Dichloride (CA‑EDC) melalui anak usaha PT Chandra Asri Alkali telah mencapai 66%. Saat ini proyek memasuki tahap pengembangan infrastruktur logistik utama seperti jetty dan tangki penyimpanan. Fasilitas yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027 dirancang memiliki kapasitas produksi 827 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton EDC per tahun. Produksi soda kaustik disebut berpotensi mengurangi ketergantungan impor hingga senilai US$293 juta per tahun, sedangkan produk EDC diarahkan untuk pasar ekspor dengan potensi devisa mencapai US$300 juta per tahun. Selama tahap konstruksi, proyek tersebut telah melibatkan sekitar 3.000 tenaga kerja dan diproyeksikan membuka tambahan 250 lapangan kerja baru ketika operasional penuh dimulai.
Indosat Tbk (ISAT) memutuskan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 111 per saham dengan total nilai Rp3,57 triliun. Nilai tersebut setara dengan 64,91% dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 5,51 triliun. Jumlah dividen meningkat dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 83,8 per saham. Perseroan juga membukukan pertumbuhan pendapatan 1,13% menjadi Rp 56,52 triliun sepanjang 2025. Laba bersih tercatat naik 10,34% menjadi Rp 5,82 triliun, sedangkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 12,20% menjadi Rp 5,51 triliun. Pada penutupan perdagangan 07 Mei 2024, saham ISAT berada di level Rp2.150 per saham. Cum date dividen ditetapkan pada 13 Mei 2026 dan pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 05 Juni 2026.
Rekomendasi saham hari ini meliputi: ICBP – Buy 7100‑7175, TP 7275‑7325, SL 6850; BBTN – Buy 1405‑1420, TP 1440‑1460, SL 1340; PNLF – Buy 262‑268, TP 274‑280, SL 250; KETR – Buy 535‑555, TP 575‑585, SL 510; BRIS – Buy 1970‑1990, TP 2020‑2070, SL 1880.
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia menunjukkan dinamika yang dipengaruhi oleh kinerja saham unggulan, aktivitas investor asing, dan sentimen global. Pergerakan indeks dan sektor menunjukkan ketidakpastian yang masih memerlukan perhatian investor terhadap faktor makroekonomi dan kebijakan fiskal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Ledakan MAN 3 Padang: Pelaku Korban Bullying
Distribusi BBM di Medan Mulai Pulih
Bahlil Perintah SKK Migas Libatkan Pengusaha Lokal di Proyek Masela
85 Perusahaan Asing Berebut Proyek Sampah Jadi Listrik
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Gagal SNBP-SNBT? UT Buka Pendaftaran Sampai 22 Juli
Prabowo: Kesejahteraan Rakyat Butuh Biaya Besar