Indonesia Catat 23 Kasus Hantavirus Seoul Virus Baru

Kartika D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 145 dibaca
Bisik.id
Indonesia Catat 23 Kasus Hantavirus Seoul Virus Baru

Gambar atau konten salah?

Indonesia mencatat 23 kasus hantavirus dalam tiga tahun terakhir. Semua kasus tersebut disebabkan oleh seoul virus, berbeda dengan wabah di kapal pesiar MV Hondius yang menimbulkan hantavirus andes. Seorang pejabat Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa seoul virus ini belum pernah menular antar manusia di tanah air.

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, risiko tertular hantavirus meningkat ketika seseorang berada di area yang memungkinkan kontak dengan urine, feses, air liur, maupun debu yang telah terkontaminasi virus dari tikus. “Kontak dengan sumber infeksi, yang berkaitan dengan hobi olahraga atau wisata seperti mendaki gunung, berkemah, dan lain‑lain,” ujarnya pada Kamis (07 Mei 2026).

Aktivitas luar ruang seperti hiking dan camping sering dilakukan di lokasi minim sanitasi atau dekat habitat tikus liar. Pendaki berisiko menghirup aerosol dari debu yang tercemar ekskresi tikus, terutama di tenda, gudang logistik, atau bangunan kosong di jalur pendakian. Selain pendaki dan wisatawan alam, Kemenkes menyebut sejumlah profesi juga memiliki risiko tinggi tertular hantavirus.

“Mereka yang bekerja sebagai petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pembersih selokan, hingga pekerja lab yang menangani reservoir,” kata Aji. Ia menjelaskan bahwa penularan bisa terjadi melalui berbagai jalur kontak langsung dengan tikus. “Penularan bisa terjadi melalui gigitan, eksresi dan sekresi atau saliva, urine, feses, sampai aerosol penularan dari menghirup debu yang terkontaminasi,” tambahnya.

Statistik menegaskan bahwa mayoritas pasien yang terpapar dinyatakan sembuh. “23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal,” ungkap Aji. Case fatality rate (CFR) hantavirus seoul virus ini tercatat sekitar 13 persen. “Tingkat kematian relatif tinggi tidak hanya disebabkan faktor tunggal, tetapi ada ko‑infeksi yang terjadi akibat kanker hati, kegagalan multiorgan,” jelasnya. Pada tahun 2026, terdapat tambahan lima kasus baru.

Secara kumulatif, kasus seoul hantavirus tercatat lebih banyak di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Berikut sebarannya:

Meski begitu, Kemenkes menegaskan belum ditemukan kasus hantavirus yang menular antarmanusia di Indonesia. “Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus andes, yang antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan,” tutur Aji.

Hantavirus, meski masih jarang, tetap menjadi perhatian karena potensi kematian yang tinggi dan risiko penularan melalui kontak langsung dengan tikus. Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan hewan liar, dan melaporkan gejala yang mencurigakan kepada tenaga kesehatan.

hantavirusseoul virustikuskontak langsungaktivitas luar ruangKemenkesCFR

Komentar

Memuat komentar...