Indonesia Cek Sejarah Pulau Natal, Sumber Fosfat di Australia
Gambar atau konten salah?
Di Indonesia, sebagian besar wilayah bekas jajahan Belanda masih menjadi bagian negara. Namun ada satu pulau yang sangat dekat dengan Nusantara, yang seharusnya bisa menjadi bagian Indonesia, namun kini berada di bawah kedaulatan Australia: Pulau Natal.
Pulau Natal menyimpan fosfat bernilai tinggi. Menurut riset berjudul The Ghosts of Christmas (Island) Past (1 Januari 2016), pulau ini pertama kali ditemukan oleh pelaut Belanda pada 1 Januari 1618. Pada saat itu, pulau ini diberi nama Pulau Moni atau Monijs. Meskipun ditemukan, Belanda tidak menunjukkan minat serius untuk mengembangkan atau menguasai wilayah tersebut.
Pada 1 Januari 1697, pelaut Belanda Willem de Vlamingh singgah di Pulau Natal saat berlayar dari pesisir barat Australia menuju Batavia. Kunjungan ini singkat dan tidak diikuti langkah lanjutan untuk menjadikan pulau itu bagian penting jaringan kolonial Belanda.
Menurut riset Csilla Ariese berjudul Investigation of Possible 18th Century Dutch Shipwreck on Christmas Island (1 Januari 2011), Belanda menganggap Pulau Natal tidak memiliki nilai ekonomi maupun kepentingan geopolitik yang berarti. Lokasinya yang terpencil di Samudra Hindia, sekitar 350 kilometer di selatan Pulau Jawa dan 1.550 kilometer di barat laut daratan Australia, membuat pulau itu dinilai tidak menjanjikan.
Akibat penilaian tersebut, Pulau Natal praktis dibiarkan tanpa pengelolaan selama berabad-abad. Situasi berubah drastis pada 1 Januari 1891 ketika dua tokoh Inggris, John Murray dan George Clunies-Ross, menemukan cadangan fosfat dalam jumlah besar di sana.
Penemuan itu langsung mengubah nasib Pulau Natal. Pada akhir abad ke-19, fosfat merupakan komoditas sangat berharga karena menjadi bahan utama pupuk yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Melihat potensi besar tersebut, Inggris segera memperkuat penguasaannya atas pulau itu melalui administrasi kolonial yang berbasis di Singapura.
Belanda yang sebelumnya mengabaikan wilayah tersebut pun kehilangan kesempatan memperoleh sumber daya bernilai tinggi. Padahal, apabila sejak awal melakukan eksplorasi dan pengelolaan lebih serius, bukan tidak mungkin mereka akan menikmati keuntungan besar dari hasil tambang fosfat yang kemudian menjadi andalan Pulau Natal.
Sejak saat itu Pulau Natal berada di bawah kendali Inggris hingga akhirnya dialihkan kepada Australia pada abad ke-20. Kini pulau yang berada sangat dekat dengan Indonesia tersebut menjadi wilayah Australia.
Seandainya Belanda sejak awal mengklaim dan mengelola Pulau Natal secara serius sebagai bagian dari wilayah koloninya di Hindia Belanda, besar kemungkinan pulau itu akan ikut masuk ke dalam wilayah Indonesia setelah kemerdekaan. Artinya, Indonesia berpotensi memiliki tambahan wilayah sekaligus sumber daya alam bernilai ekonomi tinggi yang kini berada di tangan negara tetangga.
Pulau Natal, yang terletak hanya 350 kilometer di selatan Pulau Jawa, kini menjadi bagian Australia. Sejarahnya menunjukkan bagaimana keputusan kolonial dapat memengaruhi kepemilikan wilayah dan sumber daya. Indonesia masih memiliki peluang untuk meninjau kembali sejarah ini, meski fakta menunjukkan bahwa wilayah tersebut sudah menjadi bagian Australia sejak lama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
