Indonesia Tertinggal Asia, Turisme Naik 8,24% Jan-Apr 2026

Ayu W. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Indonesia Tertinggal Asia, Turisme Naik 8,24% Jan-Apr 2026

Gambar atau konten salah?

Indonesia masih harus menutup jarak dengan negara‑negara tetangga di Asia ketika memperebutkan wisatawan mancanegara. Meski sektor pariwisata tumbuh, tantangan tetap ada.

Menurut data Badan Pusat Statistik, kunjungan wisatawan asing ke Indonesia selama Januari–April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan, naik 8,24 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini mencerminkan ketahanan sektor di tengah ketidakpastian global.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan bahwa pencapaian tersebut menunjukkan resiliensi pariwisata Indonesia. “Kita mengalami situasi geopolitik yang cukup dinamis. Kami bersyukur pariwisata Indonesia tetap menunjukkan resiliensi,” ujarnya.

Menurutnya, sejak Februari 2026 kondisi geopolitik global memanas, menimbulkan keraguan bagi industri perjalanan. Namun, Indonesia tetap mencatat pertumbuhan kunjungan. “Pada periode Januari–April kita melihat ada pertumbuhan kunjungan sebesar 8,24 %. Bahkan pada Maret–April pertumbuhannya mencapai 8,72 % dibanding periode yang sama tahun lalu,” tambahnya.

Goverment menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2026 mencapai antara 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan. Target ini mencakup tidak hanya kuantitas, tetapi juga kualitas kunjungan.

Rata‑rata pengeluaran wisatawan asing per kunjungan pada kuartal pertama 2026 mencapai US$1.346, meningkat 5,36 % dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah berharap angka ini akan naik menjadi antara USD 1.372 hingga USD 1.404 pada akhir tahun.

Devisa sektor pariwisata pada kuartal pertama 2026 tercatat USD 4,05 miliar atau sekitar Rp 68,28 triliun, naik 6,30 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini menandakan kontribusi yang semakin kuat bagi perekonomian nasional.

Kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diharapkan berada di kisaran 4,6 hingga 4,7 %, dibandingkan realisasi saat ini sekitar 4,01 hingga 5 %. Sektor ini juga menjadi sumber tenaga kerja; pada 2025, jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 25,91 juta orang, naik 3,64 % dibandingkan 2024.

Widiyanti mengakui dampak gangguan penerbangan internasional akibat situasi global. Pada periode terdampak, tercatat 1.232 penerbangan dibatalkan, mengakibatkan potensi kehilangan sekitar 127.376 perjalanan wisata. Hingga 27 Mei 2026, jumlah pembatalan penerbangan bahkan mencapai 1.444 penerbangan, dengan sekitar 160.052 perjalanan wisata tidak terealisasi. “Namun kondisi ini tidak mengherankan mengingat adanya penutupan sejumlah jalur penerbangan internasional akibat situasi geopolitik,” ujarnya.

Meski demikian, Indonesia tetap menjadi destinasi pilihan wisatawan di tengah ketidakpastian global. Hal ini terlihat dari peningkatan lama tinggal wisatawan asing sebesar 8,53 % serta kenaikan rata‑rata pengeluaran selama berada di Indonesia. Pemerintah terus mendorong pembukaan rute‑rute penerbangan baru dan peningkatan kapasitas kursi dari pasar utama seperti Australia dan China guna mendukung pencapaian target kunjungan tahun ini.

Di sisi lain, anggota Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menyoroti ketertinggalan Indonesia dibanding negara‑negara pesaing di kawasan. “Posisi Indonesia masih tertinggal cukup jauh. Jepang sudah lebih dari 14 juta wisatawan, Thailand sekitar 11 juta wisatawan, Vietnam hampir 9 juta wisatawan, sementara Indonesia baru sekitar 4,68 juta wisatawan,” ungkapnya.

Evita menekankan bahwa Vietnam telah melesat jauh, meninggalkan Indonesia. “Beberapa tahun lalu posisi kita dengan Vietnam masih sejajar. Hari ini Vietnam melesat cukup jauh meninggalkan kita,” tambahnya. Ia menilai promosi destinasi wisata Vietnam seperti Phu Quoc dan Da Nang dilakukan secara sangat agresif, termasuk di pasar Indonesia melalui paket wisata berharga kompetitif.

Karena itu, Evita meminta pemerintah mengevaluasi hambatan yang membuat Indonesia belum mampu tumbuh secepat negara‑negara pesaing. “Kita harus bertanya apa yang menjadi hambatan utama sehingga Indonesia belum mampu berlari secepat negara‑negara tersebut. Apakah konektivitas, visa, investasi, promosi, atau memang koordinasi lintas sektor yang belum optimal,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kendala investasi di sektor pariwisata, termasuk persoalan koordinasi dengan sejumlah instansi. “Saya melihat masih ada hambatan investasi. Bahkan komunikasi dengan Perhutani di beberapa lokasi masih menjadi tantangan bagi investor yang ingin mengembangkan destinasi wisata,” katanya.

Evita menegaskan bahwa pengembangan pariwisata tidak bisa dilakukan secara sektoral. “Kalau kita bicara pengembangan destinasi wisata, tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata. Ini harus menjadi program strategis nasional karena keterkaitannya sangat banyak dengan kementerian dan lembaga lain,” tegasnya.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di posisi menengah di kawasan Asia. Peningkatan kunjungan, pengeluaran, dan devisa menandakan kemajuan, namun masih ada jarak signifikan dibandingkan negara tetangga. Untuk menutup kesenjangan, perlu evaluasi lebih mendalam terhadap faktor-faktor seperti konektivitas, kebijakan visa, dan sinergi lintas kementerian. Dengan langkah tersebut, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi utama bagi wisatawan mancanegara.

Pariwisata IndonesiaKunjungan Wisatawan AsingPertumbuhan KunjunganGeopolitik GlobalPenutupan PenerbanganInvestasi PariwisataKonektivitas dan Visa

Komentar

Memuat komentar...