Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Kembali Seperti Sebelum Perang

Iwan D. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Kembali Seperti Sebelum Perang

Gambar atau konten salah?

Iran dengan tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kendali penuh Teheran, dan tidak akan pernah kembali seperti kondisi sebelum perang. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, setelah ia menyelesaikan perundingan dengan Amerika Serikat di Swiss. Pertemuan di Swiss itu sendiri membahas masa depan jalur pelayaran yang sangat vital bagi pasokan energi global ini.

Putaran pertama pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung di Swiss pada tanggal 22 Juni 2025. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara sepakat untuk membangun jalur komunikasi khusus. Tujuan utama dari jalur komunikasi ini adalah untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas kapal, serta mengakhiri pertempuran yang sedang berlangsung di Lebanon.

"Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan akan dikelola oleh Republik Islam Iran, sesuai dengan hukum internasional," kata Ghalibaf saat kembali dari pertemuan tersebut, seperti dilaporkan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA. Pernyataan ini dikutip oleh AFP pada tanggal 23 Juni 2025.

Dalam sebuah video yang diunggah ke akun Telegram miliknya, Ghalibaf menjelaskan bahwa perundingan yang berlangsung di resor Burgenstock, Swiss, telah menghasilkan sejumlah kemajuan penting. Ia menyebut perjalanan ini membawa pencapaian yang baik.

"Menurut saya, perjalanan ini menghasilkan pencapaian yang baik, terutama mengenai diskusi tentang Selat Hormuz, diskusi tentang Lebanon, masalah pengecualian minyak, dan masalah pencairan dana yang dibekukan," ujar ketua parlemen Iran tersebut.

AS Longgarkan Sanksi untuk Sementara

Sebagai bagian dari kesepakatan yang diraih, Amerika Serikat untuk sementara waktu menangguhkan sanksi terhadap minyak Iran. Langkah ini diambil setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Teheran akan mengizinkan inspektur nuklir PBB kembali ke negara itu. Hal ini merupakan salah satu hasil dari pembicaraan yang telah dilakukan.

Selain itu, Teheran juga akan memperoleh sejumlah bentuk keringanan sanksi dari Washington. Keringanan ini termasuk pencairan aset-aset Iran yang sebelumnya dibekukan di luar negeri.

"Tentu saja, kita percaya bahwa kita masih berada di awal pekerjaan ini dan harus melanjutkan upaya kita," imbuh Ghalibaf dalam video yang sama.

Sepakat Bangun Jalur Komunikasi

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Ghalibaf juga sempat singgah di Oman. Negara ini berbagi wilayah perairan dengan Selat Hormuz, yang menjadikannya lokasi yang strategis. Jalur pelayaran ini sempat ditutup oleh Iran pada awal perang, namun kemudian dibuka kembali pekan lalu setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan.

Namun, situasi kembali memanas. Pada hari Sabtu lalu, Teheran kembali mengumumkan penutupan selat tersebut. Tindakan ini merupakan respons langsung atas serangan Israel di Lebanon. Setelah pertemuan di Swiss, akhirnya Teheran dan Washington sepakat untuk membangun jalur komunikasi. Tujuan dari jalur ini adalah untuk menghindari insiden dan miskomunikasi di masa depan, serta mengamankan rute pelayaran yang dilalui oleh sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia.

Secara keseluruhan, perundingan ini menunjukkan bahwa meskipun ada ketegangan, kedua negara masih bisa duduk bersama untuk membahas isu-isu kritis. Namun, pernyataan Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran tidak akan mengubah posisinya sebagai pengelola utama Selat Hormuz. Jalur komunikasi yang baru dibangun ini diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mencegah konflik yang lebih besar di kawasan yang sangat sensitif tersebut.

Selat HormuzIranAmerika SerikatperundinganSwisssanksiminyak

Komentar

Memuat komentar...