Jenderal TNI Tarik Ajudan di Jogja Marathon

Ani R. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Jenderal TNI Tarik Ajudan di Jogja Marathon

Gambar atau konten salah?

Sebuah video yang memperlihatkan Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, menarik ajudannya dan terlibat cekcok dengan panitia di ajang Jogja Marathon menjadi perbincangan hangat di media sosial. Insiden ini bermula dari masalah teknis yang sederhana: nomor peserta atau Bib milik ajudan terlepas saat perlombaan sedang berlangsung.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad), Brigjen TNI Donny Pramono, menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi pada Minggu, 21 Juni 2026. Menurutnya, penghentian ajudan oleh petugas lintasan murni akibat kesalahpahaman di lapangan. "Dapat kami jelaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan kesalahpahaman yang terjadi di lapangan antara petugas pengawas lintasan dengan ajudan Danrem 072/Pamungkas saat kegiatan berlangsung," ujarnya dalam keterangan resmi.

Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, yang menjabat sebagai Danrem 072/Pamungkas, sedang mengikuti maraton bersama istri, satu orang anak, dan ajudannya. Keempatnya terdaftar sebagai peserta resmi dan memegang tiket dari penyelenggara. Karena itu, mereka semua mendapatkan Bib — nomor identitas peserta yang wajib ditempelkan di badan selama lomba.

Namun, di tengah perlombaan, Bib milik ajudan terjatuh. "Dalam pelaksanaannya diduga nomor peserta tersebut terlepas saat berada di lintasan yang cukup padat sehingga menimbulkan kesalahpahaman saat pemeriksaan oleh petugas," ungkap Donny. Akibatnya, panitia terpaksa menghentikan ajudan yang sedang berlari sambil mendokumentasikan Yuniar.

Momen itu terekam dan viral di media sosial. Dalam video, terlihat Yuniar sempat bersitegang dengan panitia karena tidak terima ajudannya diberhentikan. "Setelah kejadian tersebut, pihak penyelenggara, event organizer, dan Danrem 072/Pamungkas telah melakukan komunikasi serta klarifikasi secara langsung. Seluruh pihak memahami bahwa kejadian tersebut murni merupakan persoalan teknis di lapangan dan telah diselesaikan dengan baik," kata Donny.

TNI AD juga memberikan apresiasi kepada panitia yang bekerja secara profesional dalam menjaga ketertiban dan menerapkan peraturan perlombaan. Donny berharap masyarakat bisa melihat kejadian ini secara bijak dan tidak terjerumus pada informasi yang belum terverifikasi. "Kami berharap masyarakat dapat melihat peristiwa ini secara proporsional dan tidak mengaitkannya dengan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya," ucapnya.

Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 072/Pamungkas, Mayor Inf Suwito, juga memberikan klarifikasi. Menurutnya, ajudan tersebut awalnya memiliki Bib. "Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono bersama istri, satu orang anak, serta satu ajudan, mengikuti kegiatan tersebut sebagai peserta menggunakan empat tiket umum yang dimilikinya dan telah terdaftar secara resmi sebagaimana peserta lainnya," papar Suwito. "Berdasarkan penjelasan yang diperoleh, ajudan yang mendampingi Danrem juga mengikuti kegiatan sejak awal dengan menggunakan nomor peserta (Bib). Namun dalam pelaksanaannya diduga nomor peserta tersebut terlepas saat berada di lintasan yang cukup padat sehingga menimbulkan kesalahpahaman saat pemeriksaan oleh petugas," sambungnya.

Suwito menambahkan, setelah kejadian, penyelenggara, event organizer, dan Danrem 072/Pamungkas telah berkomunikasi dan melakukan klarifikasi. Semua pihak sepakat bahwa ini murni masalah teknis dan sudah diselesaikan. "Kami mengapresiasi profesionalisme panitia dan petugas yang menjalankan tugas sesuai prosedur untuk menjaga ketertiban kegiatan, sekaligus menghargai langkah cepat penyelenggara dalam melakukan klarifikasi sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang berkepanjangan di ruang publik," ujarnya.

Puncak dari peristiwa ini adalah mediasi antara ajudan Danrem, Serda Ainul Yaqin, dan marshal atau panitia Jogja Marathon. Kedua belah pihak saling meminta maaf. Video permintaan maaf itu dibagikan oleh Kapenrem 072/Pamungkas, Mayor Inf Suwito. "Itu statement-nya, terjadi kesalahpahaman aja, dan sudah saling memaafkan," jelasnya.

Dalam video tersebut, Serda Ainul Yaqin menyampaikan permintaan maaf secara langsung. "Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian saya saat mengikuti lari dengan menggunakan jersey, namun tidak menggunakan Bib. Saya menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan, dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku," katanya. "Dengan tulus saya memohon maaf kepada penyelenggara, seluruh petugas, dan relawan, serta seluruh peserta yang terdampak oleh kejadian ini. Saya bertanggung jawab penuh atas kekeliruan dan menjadikannya sebagai pembelajaran ke depan. Terima kasih atas kritik dan masukan yang diberikan," imbuhnya.

Pihak panitia juga menyampaikan permintaan maaf. Keduanya berpelukan sebagai tanda rekonsiliasi. "Saya juga memohon maaf atas tindakan saya yang berlebihan, dan saya juga menganggap masalah ini telah selesai, terima kasih," kata marshal.

Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi dan klarifikasi di lapangan. Sebuah insiden kecil — Bib terlepas — bisa memicu ketegangan jika tidak segera diatasi. Namun, langkah cepat kedua belah pihak untuk saling memaafkan dan belajar dari kesalahan patut diapresiasi. Ini juga menjadi pengingat bahwa aturan perlombaan, sekecil apa pun, harus dipatuhi oleh semua peserta, tanpa terkecuali.

viralBib terlepaskesalahpahamanDanrem 072/PamungkasJogja MarathonBrigjen TNI Yuniarajudan

Komentar

Memuat komentar...