Istilah 'Farang Kee Nok' Ungkap Sikap Turis di Thailand

Jaka M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Istilah 'Farang Kee Nok' Ungkap Sikap Turis di Thailand

Gambar atau konten salah?

Farang kee nok adalah ungkapan di Thailand yang digunakan untuk menggambarkan backpacker yang tidak bermodal. Masyarakat setempat menganggapnya meresahkan, kasar, kotor, atau selalu meminta gratisan. Secara harfiah, istilah ini berarti “farang kotoran burung.”

Jika diterjemahkan secara langsung, artinya “orang asing kotoran burung.” Ungkapan ini merujuk pada fakta bahwa kotoran burung berwarna putih, sehingga kotoran burung menjadi simbol kebersihan yang tidak diinginkan bagi orang asing.

Di Thailand, farang adalah istilah umum untuk menyebut orang asing Barat dan turis asal Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru. Seperti di Indonesia, orang Indonesia sering menyebut bule untuk turis asing berkulit putih rambut pirang.

Asal usul kata farang kemungkinan muncul melalui jalur perdagangan, khususnya pada periode Ayutthaya. Pada masa itu, interaksi orang Thailand dengan pedagang Eropa dan Arab sering terjadi. Surat-surat kerajaan dari era Raja Narai menunjukkan bahwa istilah farang digunakan untuk merujuk kepada orang Portugis, yang pertama kali tiba pada tahun 1511 di Thailand.

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa farang merupakan singkatan dari kata Thailand farangset (Perancis), karena orang Prancis tiba di Siam dan Indochina pada abad ke-17. Ada pula teori bahwa istilah ini sudah ada sebelum itu dan berasal dari faringsi (Persia) ketika pedagang Persia tiba di wilayah tersebut.

Secara historis, masyarakat Thailand tidak membedakan kewarganegaraan seperti yang dilakukan masyarakat modern. Hal ini memudahkan penggunaan farang sebagai istilah umum untuk menggambarkan orang-orang dari Eropa, khususnya mereka yang berkulit lebih terang. Kata farang dapat berubah maknanya tergantung pada konteks dan nada situasional.

Istilah ini sering dipakai dalam percakapan sehari‑hari, terutama ketika seseorang merasa terganggu oleh perilaku turis yang dianggap terlalu pelit atau tidak mau membayar. Dalam situasi tersebut, kata farang kee nok dapat menjadi ekspresi yang cukup tajam.

Berita ini dipublikasikan pada 29 April 2026. Meskipun istilah ini memiliki akar sejarah yang panjang, penggunaannya tetap mencerminkan persepsi modern tentang perilaku turis asing di Thailand.

Istilah farang kee nok menyoroti bagaimana sejarah perdagangan dan interaksi budaya dapat membentuk bahasa sehari‑hari. Ia juga menunjukkan bagaimana persepsi negatif terhadap turis dapat muncul dari pengalaman dan kebiasaan sosial yang telah berlangsung lama.

farang kee nokbackpackerThailandturis asingpersepsi negatifsejarah perdaganganbahasa sehari-hari

Komentar

Memuat komentar...