Jakarta Panas Terbuka, Siklus Cuaca Menutup Awan Di
Gambar atau konten salah?
Jakarta, 27 April 2026 – Cuaca di wilayah Jabodetabek telah mencapai tingkat panas yang luar biasa. Suhu udara di beberapa kota telah melonjak, membuat banyak warga merasa tidak nyaman. Komunitas online pun tak tinggal diam, berteriak kesal atas panas yang terasa tak terkendali.
“Guys AC kalian dingin gak sihhhh? Apa kena dampak el nino2 an yah???? Argh,” tulis akun @gabriel*** dikutip detikcom dari Thread, Senin (27/4/2026).
“Beberapa hari ini jakarta panas bangettt tolonggg, udah pake 2 ac di hidupin semua jugaa msh berasaa panass tempat kalian panas juga ga si?” tulis akun lain.
Menurut BMKG, peningkatan suhu memang terpantau secara signifikan. Data terakhir menunjukkan suhu maksimum mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius di beberapa titik. BMKG mengkonfirmasi bahwa kondisi ini merupakan bagian dari tren cuaca panas yang sedang berlangsung.
Dengan suhu yang terus naik, muncul pertanyaan: apa penyebabnya? Dan apakah ada kaitan dengan fenomena El Nino 'Godzila'?
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan, menjawab bahwa fenomena ini lebih cenderung merupakan efek dari musim pancaroba. “Saya menduga ini kaitannya dengan akhir daripada musim pancaroba. Pancaroba itu artinya gini, memang panas sekali, panas. Panasnya itu melebihi rata-rata,” kata Prof Eddy Hermawan kepada detikcom, Senin (27/4/2026).
Ia melanjutkan: “Kenapa panas? Karena awan-awannya udah mulai berkurang ya. Awan-awan besarnya sudah mulai hilang gitu ya,” sambungnya.
Menjawab tanya tentang El Nino 'Godzila', Prof Eddy Hermawan menegaskan bahwa BRIN belum dapat mendefinisikannya. “Apakah ini kaitannya dengan El Nino 'Godzila'? Ini kaitannya panjang lagi. Karena dikatakan godzila, ketika puncaknya Agustus atau September itu berapa nilainya. Jadi kami belum bisa mendefinisikan apakah nanti godzila atau bukan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa untuk dapat menilai apakah cuaca ekstrem ini merupakan dampak El Nino 'Godzila', diperlukan pendekatan yang lebih khusus dan hati-hati. “Karena ini ya, mendefinisikan godzila itu harus ekstra hati-hati. Mengapa sih? Satu intensitasnya harus tinggi, artinya anomalinya (suhu permukaan laut pasifik, red) itu harus di atas 2 (derajat),” kata Prof Eddy Hermawan. “Kedua durasinya, rata-rata tuh durasinya 12 bulan, kalau hanya 6 bulan itu nggak. Ketiga tentang probabilitasnya,” sambungnya.
Dalam konteks ini, pemahaman tentang pancaroba dan peran awan dalam mengatur suhu menjadi kunci. Sementara itu, peneliti masih menunggu data lebih lanjut sebelum dapat mengaitkan fenomena panas ini secara pasti dengan El Nino 'Godzila'. Warga tetap disarankan untuk menjaga hidrasi dan menghindari aktivitas di luar ruangan pada jam-jam terpanas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
