Jakarta Tangkap 68.800 Ikan Sapu‑Sapu, 6,9 Ton Dimusnahkan
Gambar atau konten salah?
68.800 ikan sapu-sapu ditangkap di lima wilayah Ibu Kota, berjumlah 6,9 ton dan akan dimusnahkan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta diperkirakan lebih dari 60 persen. Ia menilai dominasi spesies ini sebagai ancaman serius bagi ekosistem perairan.
"Ikan ini sangat invasif, kemudian juga membuat ikan-ikan lain terutama yang endemik lokal itu hampir semuanya tidak bisa survive karena telurnya dimakan," kata Pramono di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17 April 2026).
Pramono menambahkan bahwa ikan sapu-sapu berbahaya untuk dikonsumsi karena kandungan residu tinggi. "Rata‑rata sudah di atas 0,3 kadar residunya. Itu berbahaya sekali kalau dikonsumsi," tegasnya.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, menyatakan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di lingkungan tercemar dapat mengandung logam berat dan bahan toksi lain. "Kalau ikannya hidup di sungai yang tercemar, maka yang berbahaya bukan hanya ikannya, tapi semua cemaran yang dia makan. Logam berat itu tidak bisa dibersihkan hanya dengan dimasak," kata dr Nadia beberapa waktu lalu. "Kalau ikannya makan limbah atau cemaran, maka itu pasti masuk ke tubuh ikannya. Dan ketika dikonsumsi manusia, zat itu ikut masuk ke tubuh kita," sambungnya.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menegaskan bahwa ikan tersebut berpotensi mengandung logam berat berbahaya dan bakteri patogen. "Pada perairan yang tercemar, risiko kontaminasi logam berat sangat tinggi. Termasuk cemaran bakteri seperti E coli yang berbahaya jika dikonsumsi," beber Hasudungan. Ia juga menyebut logam seperti timbal (Pb), Kadmium (Cd), Merkuri (Hg), hingga Arsen (As). Logam-logam ini dapat merusak organ tubuh seperti ginjal, hati, hingga sistem saraf, serta meningkatkan risiko kanker jika terakumulasi dalam waktu lama.
Hasudungan menegaskan bahwa "Kalau ikan berasal dari sungai tercemar, sangat mungkin kandungan logam beratnya melebihi ambang batas aman. Konsumsi dalam jangka panjang bisa menyebabkan keracunan kronis," jelasnya.
Upaya penangkapan ini menandai langkah konkret pemerintah kota dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang merusak ekosistem perairan Jakarta. Dengan menurunkan jumlah ikan ini, diharapkan keseimbangan biologi perairan dapat dipulihkan dan risiko kesehatan masyarakat berkurang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
