Jalan Letjen Jamin Ginting, 71,3 km, Jarak Medan–Karo
Gambar atau konten salah?
Jalan Letjen Jamin Ginting menempuh lintasan dari Medan hingga Kabupaten Karo, dan sudah lama menjadi rujukan bagi masyarakat Sumatera Utara. Jalan ini tidak hanya memudahkan perjalanan, melainkan juga menjadi penghormatan kepada Letnan Jenderal Jamin Ginting, tokoh perjuangan bangsa.
Sebagai jalan nasional terpanjang di Indonesia, panjangnya mencapai 71,3 kilometer. Jalur ini menembus Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Karo, dan pencapaiannya tercatat oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
"Jamin Ginting merupakan putra daerah Tanah Karo yang lahir di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, pada 12 Januari 1921. Ia dikenal sebagai tokoh militer sekaligus pejuang kemerdekaan yang memiliki peran besar dalam mempertahankan wilayah Sumatera Utara pada masa revolusi," ujar dosen antropologi USU, Ryta Tambunan, Senin (30 Maret 2026).
Ryta Tambunan menjelaskan, sejak usia muda Jamin Ginting telah aktif mengikuti pendidikan kemiliteran serta terlibat dalam perjuangan gerilya. Ia turut ambil bagian dalam perlawanan menghadapi Agresi Militer Belanda dan berperan membina para pemuda untuk bergabung dalam pasukan Republik. Kiprahnya di wilayah Medan dan Tanah Karo menjadikannya salah satu figur penting dalam sejarah perjuangan di Sumatera Utara.
"Atas dedikasi dan pengabdiannya kepada negara, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Jamin Ginting pada tahun 2014," katanya.
Penamaan Jalan Letjen Jamin Ginting menjadi wujud penghargaan masyarakat atas jasa perjuangannya. Jalur tersebut melintasi kawasan yang dahulu menjadi lokasi perjuangan sang jenderal dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Lebih dari sekadar sarana transportasi, Jalan Letjen Jamin Ginting menjadi pengingat perjalanan sejarah bangsa. Keberadaannya mencerminkan kebanggaan masyarakat Sumatera Utara sekaligus menjadi warisan sejarah yang terus dilintasi oleh generasi masa kini.
Jalan ini juga menunjukkan bahwa jasa para pahlawan tidak hanya dikenang melalui tugu atau monumen, tetapi juga melalui infrastruktur publik yang menghubungkan masyarakat sekaligus menyimpan nilai sejarah perjuangan Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
