Jawa Timur Jadi Pusat Bioetanol, Petani Dukung Energi Bersih
Gambar atau konten salah?
Kelangkaan minyak dan ketergantungan pada energi fosil menjadi sorotan utama. Di tengah kondisi tersebut, pengembangan bioetanol dipandang sebagai solusi konkret untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengapresiasi arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mulai mendorong pemanfaatan energi alternatif, salah satunya bioetanol.
Apresiasi tersebut disampaikan setelah pertemuannya dengan jajaran PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di Surabaya. Dalam diskusi tersebut, terungkap potensi besar sektor tebu yang tidak lagi sekadar untuk produksi gula, tetapi juga sebagai sumber energi terbarukan.
“Ke depan, kita tidak bisa hanya berpikir soal gula. Tebu harus dilihat sebagai komoditas strategis yang juga berkontribusi pada kemandirian energi nasional,” ujar Lia, Sabtu 04 April 2026.
Menurut Lia, perubahan cara pandang terhadap tebu menjadi kunci dalam transisi energi. Selama ini, tebu identik dengan gula, padahal memiliki nilai tambah melalui tetes (molasses) yang bisa diolah menjadi bioetanol.
Bioetanol sendiri merupakan bahan bakar ramah lingkungan yang berpotensi menjadi substitusi energi fosil. Jika dimaksimalkan, hal ini bisa menjawab tantangan kelangkaan minyak sekaligus mendukung energi bersih.
Jawa Timur disebut punya posisi strategis dalam pengembangan ini. Sebagai penyumbang lebih dari 50% gula konsumsi nasional, infrastruktur industri gula di wilayah ini dinilai sudah cukup siap untuk mendorong produksi bioetanol secara masif.
“Kalau potensi ini dimaksimalkan, Jawa Timur tidak hanya menjadi lumbung gula, tetapi juga bisa menjadi pusat energi hijau nasional,” tegas Lia.
Tak hanya berdampak pada sektor energi, pengembangan bioetanol juga dinilai membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani. “Kalau ini berjalan, petani tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi energi nasional,” ungkap Lia.
Meskipun begitu, Lia mengakui masih ada tantangan besar, terutama dari sisi biaya produksi bioetanol yang relatif lebih tinggi dibanding energi fosil. Karena itu, ia menekankan pentingnya peran negara dalam mendorong kebijakan yang mendukung agar bioetanol bisa bersaing di pasar energi.
“Ini tantangan yang harus dijawab bersama. Negara harus hadir untuk memastikan energi hijau ini bisa kompetitif dan berkelanjutan,” ujar Lia.
Pengembangan bioetanol dinilai sejalan dengan strategi nasional dalam memanfaatkan sumber daya domestik sekaligus mengurangi ketergantungan impor energi.
“Kalau ini berjalan, petani tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi energi nasional,” pungkasnya.
Dengan menempatkan tebu sebagai bahan baku bioetanol, Jawa Timur berpotensi mengubah lanskap energi Indonesia. Potensi ini tidak hanya menambah diversifikasi energi, tetapi juga memberi peluang ekonomi bagi petani lokal. Namun, realisasinya memerlukan dukungan kebijakan dan investasi yang memadai agar bioetanol dapat bersaing secara ekonomis dengan energi fosil.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
