Jembatan Runtuh Medan, Siswa Lintasi Pipa Air, Jembatan Baru
Gambar atau konten salah?
Di Medan, sebuah jembatan di Jalan Adi Sucipto, Gang Damai, Kecamatan Medan Polonia, telah runtuh sejak tahun 2024. Jembatan ini dulunya merupakan perlintasan kereta api milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang dibangun pada era kolonial Belanda antara tahun 1887 hingga 1915. Saat ini, jembatan tersebut tidak lagi berfungsi untuk kereta, dan tidak ada jembatan lain di tempat itu.
Akibatnya, siswa dan siswi SMP yang hendak menuju sekolah harus melewati pipa air PDAM yang terletak di atas Sungai Deli. Pipa ini menjadi jalur improvisasi bagi anak-anak yang tidak memiliki alternatif penyeberangan. Kegiatan ini sering kali menjadi viral di media sosial karena terlihat berbahaya dan tidak teratur.
Wali Kota Medan, Rico Waas, menyatakan bahwa lahan di mana jembatan berada berada di bawah kewenangan PT KAI. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Medan sedang menyiapkan strategi kolaborasi bersama PT KAI untuk membangun kembali akses penyeberangan yang lebih modern dan aman. “Jembatan ini sudah roboh sejak tahun 2024. Kami bersama PT KAI akan menyiapkan strategi pembangunan akses penyeberangan yang nyaman bagi masyarakat,” ujar Rico melalui keterangan tertulis pada Sabtu, 18 April 2026.
Rico menambahkan bahwa jembatan bekas perlintasan kereta api ini pernah menghubungkan Gang Perbatasan, Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Medan Maimun dengan Kecamatan Medan Polonia. Jembatan tersebut menjadi akses utama bagi anak sekolah, namun kini sudah tidak tersisa.
Ia berharap pembangunan kembali akses ini dapat menghubungkan kembali aktivitas antar kecamatan dan kelurahan yang selama ini terhambat. “Saya berharap nantinya ini bisa menyambungkan aktivitas masyarakat dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya menjadi lebih dekat. Kita ingin mobilitas warga kembali normal, dan anak-anak sekolah bisa melintas dengan aman,” ungkapnya.
Sejumlah siswi SMP nekat melewati pipa air tersebut pada Rabu, 15 April 2026. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan baru saja pulang sekolah dalam seragam. Kaki mereka perlahan menapak di atas pipa PDAM, sementara sungai besar mengalir di bawahnya. Tidak ada jembatan di lokasi itu, sehingga mereka terpaksa melewati pipa itu agar dapat mencapai sekolah lebih cepat.
Salah satu siswi kelas 7 di SMPN 34 Medan, Mita, mengaku terpaksa melewati pipa agar akses menuju sekolah lebih dekat. Sekolahnya berada di Gang Perbatasan, sedangkan rumahnya di Kecamatan Medan Polonia. “Kalau naik motor sekitar 6 menitan ke rumah, tapi kalau jalan jauh, harus mutar, dari sini lebih dekat,” kata Mita saat diwawancarai di lokasi.
Dengan rencana pembangunan yang sedang disiapkan, diharapkan jembatan baru dapat mengembalikan akses penyeberangan yang aman dan nyaman bagi warga Medan, sekaligus memudahkan perjalanan harian anak sekolah dan penduduk lainnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
