Jet Pribadi Naik 4,7% di Tengah Krisis Minyak Teluk
Gambar atau konten salah?
Perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran telah memaksa aliran minyak dari Teluk menjadi hampir terhenti. Blokade Selat Hormuz menurunkan pasokan bahan bakar secara drastis, membuat banyak penerbangan komersial dibatalkan.
Di tengah krisis energi global, para miliarder dan kalangan super kaya justru melaporkan peningkatan penggunaan jet pribadi. Fenomena ini tampak bertolak belakang dengan kondisi penerbangan komersial yang sedang terpukul.
Penggunaan jet pribadi di dunia tidak terlalu terdampak kenaikan biaya bahan bakar. Bahkan, statistik menunjukkan peningkatan 4,7 % hingga pertengahan April. Di kota-kota besar di Amerika Serikat, seperti Washington DC dan Houston, kenaikan tersebut mencapai 17 % dalam setahun.
Gangguan pasokan minyak membuat pengiriman bahan bakar jet turun ke level terendah. Volume jet fuel dan kerosin anjlok lebih dari separuh dibandingkan rata‑rata sebelum konflik.
Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa Eropa berpotensi mengalami kekurangan bahan bakar jet hanya dalam hitungan minggu jika kondisi tidak membaik.
Harga bahan bakar Jet A1 sudah naik hampir dua kali lipat sejak awal tahun. Meskipun kenaikan ini tidak terlalu menekan pasar jet pribadi, biaya tambahan biasanya langsung dialihkan ke pengguna akhir, yaitu kalangan super kaya. Akibatnya, permintaan tetap stabil bahkan cenderung meningkat.
“Biaya memang naik signifikan, tapi permintaan tetap tinggi. Artinya, bagi pasar ini, kenaikan harga belum mengurangi aktivitas terbang,” kata analis Richard Koe dari WINGX Advance.
Di balik tren ini, muncul sorotan soal ketimpangan. Peneliti transportasi dari Linnaeus University, Stefan Gossling, menilai persoalannya bukan hanya soal emisi, tetapi juga keadilan.
“Kerusakan terbesar ditimbulkan oleh mereka yang punya banyak uang, sementara biayanya ditanggung oleh mereka yang memiliki sedikit uang,” ujar Gossling.
Menurut laporan Oxfam, kesenjangan emisi sangat ekstrem. Laporan tersebut menyebut miliarder dapat menghasilkan emisi karbon lebih banyak dalam 90 menit dibandingkan rata‑rata orang dalam seumur hidup.
Kasus ini menyoroti bagaimana krisis energi global dapat memperbesar ketimpangan sosial dan lingkungan. Peningkatan penggunaan jet pribadi oleh kalangan kaya, sementara penerbangan komersial terhambat, menambah kompleksitas tantangan energi dan emisi di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
