Jet Pribadi Naik 4,7% di Tengah Krisis Minyak Teluk

Bima J. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Jet Pribadi Naik 4,7% di Tengah Krisis Minyak Teluk

Gambar atau konten salah?

Perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran telah memaksa aliran minyak dari Teluk menjadi hampir terhenti. Blokade Selat Hormuz menurunkan pasokan bahan bakar secara drastis, membuat banyak penerbangan komersial dibatalkan.

Di tengah krisis energi global, para miliarder dan kalangan super kaya justru melaporkan peningkatan penggunaan jet pribadi. Fenomena ini tampak bertolak belakang dengan kondisi penerbangan komersial yang sedang terpukul.

Penggunaan jet pribadi di dunia tidak terlalu terdampak kenaikan biaya bahan bakar. Bahkan, statistik menunjukkan peningkatan 4,7 % hingga pertengahan April. Di kota-kota besar di Amerika Serikat, seperti Washington DC dan Houston, kenaikan tersebut mencapai 17 % dalam setahun.

Gangguan pasokan minyak membuat pengiriman bahan bakar jet turun ke level terendah. Volume jet fuel dan kerosin anjlok lebih dari separuh dibandingkan rata‑rata sebelum konflik.

Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa Eropa berpotensi mengalami kekurangan bahan bakar jet hanya dalam hitungan minggu jika kondisi tidak membaik.

Harga bahan bakar Jet A1 sudah naik hampir dua kali lipat sejak awal tahun. Meskipun kenaikan ini tidak terlalu menekan pasar jet pribadi, biaya tambahan biasanya langsung dialihkan ke pengguna akhir, yaitu kalangan super kaya. Akibatnya, permintaan tetap stabil bahkan cenderung meningkat.

“Biaya memang naik signifikan, tapi permintaan tetap tinggi. Artinya, bagi pasar ini, kenaikan harga belum mengurangi aktivitas terbang,” kata analis Richard Koe dari WINGX Advance.

Di balik tren ini, muncul sorotan soal ketimpangan. Peneliti transportasi dari Linnaeus University, Stefan Gossling, menilai persoalannya bukan hanya soal emisi, tetapi juga keadilan.

“Kerusakan terbesar ditimbulkan oleh mereka yang punya banyak uang, sementara biayanya ditanggung oleh mereka yang memiliki sedikit uang,” ujar Gossling.

Menurut laporan Oxfam, kesenjangan emisi sangat ekstrem. Laporan tersebut menyebut miliarder dapat menghasilkan emisi karbon lebih banyak dalam 90 menit dibandingkan rata‑rata orang dalam seumur hidup.

Kasus ini menyoroti bagaimana krisis energi global dapat memperbesar ketimpangan sosial dan lingkungan. Peningkatan penggunaan jet pribadi oleh kalangan kaya, sementara penerbangan komersial terhambat, menambah kompleksitas tantangan energi dan emisi di masa depan.

Selat HormuzJet PribadiKrisis Energi GlobalEmisi KarbonKetimpangan SosialOxfamIEA

Komentar

Memuat komentar...