JLS Brumbun‑Sine di Tulungagung Tuntas 98,5% Menjelang 30 Mei

Lia N. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 116 dibaca
Bisik.id
JLS Brumbun‑Sine di Tulungagung Tuntas 98,5% Menjelang 30 Mei

Gambar atau konten salah?

Proyek pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) di pesisir Tulungagung diperkirakan selesai pada akhir 30 Mei 2026. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) menegaskan bahwa pekerjaan akhir masih berupa pengaspalan di ruas Brumbun‑Sine.

Menurut I Made Budiana, PPK 2.1 BBPJN Jatim‑Bali, Kementerian Pekerjaan Umum, “Sekarang sudah lebih dari 98,5 persen. Tinggal pengaspalan sekitar 1,5 kilometer lagi. 30 Mei ini selesai,” ujarnya pada hari Sabtu, 23 Mei 2026. Ia menambahkan bahwa lot 1B sudah tuntas 100 % sementara lot 1A masih menunggu proses akhir.

Ruas yang belum selesai telah dipadatkan dengan agregat dan sebagian sudah dilapisi aspal. Pekerjaan pada lot 1A sempat ditunda karena terjadi tanah longsor di tiga titik. Tim penanganan lereng bekerja maksimal untuk mencegah longsor susulan. Meski masih ada potensi longsor, pihaknya optimistis proyek dapat diselesaikan sesuai target waktu.

Anggaran proyek JLS Brumbun‑Sine lot 1A mencapai Rp281 miliar dan lot 1B Rp165 miliar. Walaupun selesai pada akhir Mei, jalur belum sepenuhnya dibuka sebagai jalur resmi umum karena masih dalam masa pemeliharaan. Namun, jalur sudah dapat dilalui secara fungsional, kata Budiana.

Untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan, BBPJN akan memasang penerangan jalan umum (PJU) di beberapa persimpangan dan tikungan tajam. Namun, tidak semua ruas dipasang PJU karena adanya penyesuaian anggaran setelah penanganan longsor.

Dengan tuntasnya pembangunan JLS di Tulungagung, akses pesisir selatan dari batas Blitar, Tulungagung, dan batas Trenggalek kini terhubung. Akses jalan ini diharapkan dapat mendukung peningkatan perekonomian di wilayah selatan.

Di sisi lain, pembangunan ruas JLS Trenggalek masih dalam proses. JLS Trenggalek Budi menegaskan bahwa pembebasan lahan masih berlangsung, khususnya di ruas Minjungan‑Prigi dan Panggul‑Craken. Proses pembebasan lahan diajukan ke Kementerian Kehutanan karena mayoritas lahan berada di kawasan Perhutani. Proyek masih berada pada tahap pembebasan lahan dan proses perizinan IPPKH (Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan), kata Budiana.

Panjang ruas JLS yang belum dibangun di Trenggalek sekitar 40 kilometer, terbagi menjadi segmen Munjungan‑Prigi 20 kilometer dan Panggul‑Craken 20 kilometer. Pihaknya berharap proses IPPKH dapat segera dituntaskan agar pembangunan dapat dimulai lebih cepat.

Sejauh ini, Kementerian Pekerjaan Umum masih melakukan penghitungan ulang terhadap anggaran yang dibutuhkan untuk menuntaskan ruas JLS Trenggalek. Masih dalam tahap penghitungan ulang karena dipengaruhi kenaikan harga bahan konstruksi seperti aspal dan beton, ujar Budiana. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga material tidak memengaruhi kualitas pekerjaan, namun berdampak pada manajemen pelaksanaan proyek di lapangan, termasuk pengaturan tenaga kerja dan alat berat agar pengerjaan tetap berjalan sesuai target.

Proyek JLS Brumbun‑Sine di Tulungagung menunjukkan kemajuan signifikan, sementara JLS Trenggalek masih menunggu kelulusan lahan dan penyesuaian anggaran. Kenaikan harga material menambah tantangan, namun manajemen proyek berusaha menjaga kualitas dan jadwal.

Jalur Lintas SelatanTulungagungPJUIPPKHlandslidekenaikan harga materialPerhutani

Komentar

Memuat komentar...