Jumat Agung: Tradisi Beragam dari Sumatera ke Flores
Gambar atau konten salah?
Jumat Agung di Indonesia hadir dalam wajah yang beragam. Tidak hanya berlangsung dalam ruang ibadah, peringatan hari itu juga hidup lewat tradisi‑tradisi khas di berbagai pelosok negeri yang dijaga lintas generasi.
Di balik suasana sunyi yang penuh perenungan, tersimpan praktik budaya yang memperkaya cara umat mengenang wafatnya Yesus Kristus. Setiap daerah mengekspresikan iman dengan cara berbeda, namun tetap menyatu dalam makna pengorbanan dan harapan yang diberikan Yesus.
Beragam tradisi Jumat Agung menjadi cerminan kekayaan budaya yang berpadu dengan nilai‑nilai spiritual. Setiap daerah menghadirkan cara unik dalam mengenang wafatnya Yesus Kristus, sekaligus menjaga warisan leluhur yang terus hidup hingga kini.
- Buha‑buah Ijuk – Sumatera Utara Dimulai sekitar pukul 04.00 pagi, tradisi buha‑buah ijuk di sejumlah wilayah Sumatera Utara diawali dengan bunyi lonceng gereja. Tanda tersebut menjadi panggilan bagi umat untuk memulai ritual dalam suasana yang masih gelap dan sunyi. Secara berkelompok, warga berjalan menuju makam keluarga sambil membawa doa dan harapan. Setibanya di sana, mereka berdoa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini tidak sekadar ziarah, tetapi juga melambangkan kisah Maria Magdalena yang datang ke makam Yesus saat fajar, menjadikannya sarat makna spiritual.
- Jalan Salib di Gunung Gandul – Wonogiri, Jawa Tengah Jalan Salib menjadi tradisi yang umum dijumpai di berbagai daerah saat Jumat Agung. Umat biasanya mengikuti prosesi yang menggambarkan perjalanan Yesus menuju penyaliban, baik melalui doa berurutan maupun drama teatrikal yang diperankan langsung oleh jemaat. Namun, di Wonogiri, Jawa Tengah, tradisi ini memiliki keunikan tersendiri. Umat memanggul salib berukuran besar sambil mendaki Gunung Gandul. Medan yang menanjak dan melelahkan menjadi simbol nyata dari penderitaan Yesus saat memikul salib ke Golgota. Prosesi ini menghadiahkan pengalaman fisik dan batin yang memperdalam perenungan iman setiap tahunnya.
- Semana Santa Larantuka – Larantuka, Flores Timur Di Larantuka, Flores Timur, Jumat Agung menjadi puncak dari rangkaian panjang tradisi Semana Santa yang telah berlangsung lebih dari lima abad. Tradisi ini merupakan warisan Portugis yang masih dijaga hingga kini dan menjadi salah satu tradisi yang paling terkenal. Rangkaian dimulai sejak Pekan Suci dan mencapai klimaks pada prosesi Jumat Agung. Patung Yesus dan Bunda Maria diarak dalam suasana hening, dengan penerangan lilin di sepanjang jalan. Nuansa sakral terasa kuat, diperkuat keterlibatan ribuan umat dan peziarah yang datang setiap tahun untuk mengikuti prosesi ini.
- Kure – Noemuti, Nusa Tenggara Timur Berbeda dengan prosesi besar, tradisi Kure di Noemuti, Nusa Tenggara Timur, dilakukan dalam lingkup komunitas yang lebih dekat. Umat berjalan dari rumah ke rumah sambil membawa simbol keagamaan dan memanjatkan doa bersama. Setiap rumah yang dikunjungi menjadi tempat perenungan atas penderitaan Yesus. Tradisi yang telah berlangsung sejak ratusan tahun ini juga memperlihatkan nilai kebersamaan yang kuat. Tuan rumah biasanya menyambut dengan hasil panen seperti buah dan umbi‑umbian, yang kemudian dibagikan sebagai bentuk solidaritas.
- Memento Mori – Palangka Raya, Kalimantan Tengah Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, suasana Jumat Agung berlanjut hingga malam melalui tradisi memento mori. Umat berkumpul di makam keluarga, menyalakan lilin, dan berdoa bersama dalam suasana hening. Kegiatan ini berlangsung semalaman hingga menjelang pagi. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada yang telah meninggal, tradisi ini juga menjadi pengingat akan kefanaan hidup manusia. Di saat yang sama, momen ini mengandung harapan akan kebangkitan, yang menjadi inti perayaan Paskah.
- Ungkapan Sukacita – Manado, Sulawesi Utara dan Maumere, Flores Setelah melalui masa perenungan yang mendalam, beberapa daerah menutup rangkaian dengan ekspresi sukacita. Di Manado, Sulawesi Utara, perayaan Paskah ditandai dengan kembang api yang menghiasi langit malam sebagai simbol kemenangan Kristus atas maut. Sementara itu, di Maumere, Flores, umat merayakannya dengan tarian khas yang melibatkan banyak orang. Gerakan yang dinamis dan penuh semangat menciptakan suasana kebersamaan yang kuat. Tradisi ini menjadi bentuk syukur sekaligus penegasan bahwa setelah penderitaan, ada harapan dan kehidupan baru.
Setiap tradisi menampilkan cara unik umat Indonesia mengenang dan merayakan Jumat Agung, sekaligus menegaskan nilai spiritual dan kebersamaan yang melekat dalam budaya lokal. Dengan beragam ekspresi, hari ini tetap menjadi momen penting bagi umat di seluruh nusantara.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
