Kampung Dinamo Surabaya: Sejarah Perbaikan Dinamo Tradisional
Gambar atau konten salah?
Kampung Dinamo di Surabaya sudah berdiri lebih dari lima puluh tahun. Terletak di Jalan Bratang Gede I, kawasan ini dulu hanya sekumpulan rumah biasa, namun kini dikenal sebagai pusat perbaikan dinamo yang tersebar di setiap sudut gang.
Sejarahnya dimulai ketika Abdul Fatah, seorang teknisi muda pada tahun 1970, membuka bengkel kecil yang fokus pada gulungan dinamo. Ia menjadi pelopor teknik gulung dinamo di daerah ini, dan sejak saat itu, hampir setiap rumah di kampung menawarkan jasa perbaikan mesin.
Hadi Suyikno, menantu dari anak Abdul Fatah, menceritakan kisah awalnya: "Abdul Fatah itu mbah saya, dia juga mendirikan tapi dipegang Pak Mul (anaknya) di (rumah) nomor 76 situ. Mulainya dari sana. Tapi mulai pertama kalinya itu anak buahnya itu ya ayah saya, Harianto," ujar Hadi pada hari Senin, 06 April 2026.
Keahlian Abdul tidak hanya dipertahankan sendiri. Ia mengajarkan tetangga sekitar agar mereka juga bisa menggulung dinamo, sehingga keahlian ini menyebar secara turun-temurun. Dari mulut ke mulut, teknik ini menjadi ciri khas semua warga di sekitarnya.
Di tengah keramaian, CV Harianto Teknik milik Hadi menjadi salah satu bengkel reparasi dinamo terbesar di kampung. Bengkel ini sering dikunjungi oleh pelanggan dari berbagai daerah.
Pernyataan Purnomo, seorang teknisi berusia 57 tahun, menegaskan bahwa sebagian besar warga belajar mengutak-atik dinamo secara otodidak. Ia berkata: "Iya betul, otodidak. Jadi kebanyakan, 85% (teknisi) itu otodidak. Kalau yang generasi-generasi baru mungkin sudah dikombinasikan dengan pendidikan ya, jadi lebih mudah belajar,"
Proses perbaikan dinamo di kampung ini melibatkan beberapa tahap. Pertama, mesin dibongkar untuk memeriksa kerusakan. Selanjutnya, komponen dibersihkan dan kawat lama dilepas. Penerusnya kemudian menggulung kawat baru, melapisinya dengan kertas khusus agar tidak tergores, dan menempatkannya di tempat penggulungan.
Purnomo menjelaskan lebih detail: "Awal mulanya dibongkar-bongkar dulu, dibersihkan. Terus dikertasi supaya tembaganya tidak tergesek dan rusak. Lalu dimasukkan ke tempat penggulungan,"
Setelah penggulungan selesai, dinamo dilapisi dengan cairan yang biasa disebut 'lak'. Proses ini bertujuan memperkuat gulungan sebelum dinamo dipanaskan atau dioven. Purnomo menambahkan: "Disirlak atau dikasi lak, habis gitu dipanasi atau dioven lah istilahnya. Habis itu disetel ulang atau dirakit lagi terus," namun ia menegaskan bahwa proses ini dilakukan oleh Ahmad Rizkya, teknisi muda berusia 24 tahun.
Menurut Ahmad, untuk dinamo ukuran standar, proses perbaikan biasanya memakan waktu satu hingga dua hari. Waktu yang dibutuhkan tergantung pada ukuran dan tingkat keparahan kerusakan. Ia berkata: "(Ukuran) standar-standar gini sehari dua hari, tergantung ukuran,"
Biaya perbaikan di kampung ini bervariasi, mulai dari Rp 300.000 hingga jutaan rupiah. Dengan tarif tersebut, Kampung Dinamo mampu menghasilkan omzet ratusan juta rupiah setiap bulan.
Para pelanggan datang dari berbagai tempat. Tidak hanya warga Surabaya, tetapi juga dari luar kota. Salah satu pelanggan, Amin Yoharin, berasal dari Menganti, Gresik, dan ia sering membawa mesin freezer besar ke kampung untuk diperbaiki. Ia menjelaskan: "Ini memperbaiki freezer kapasitas besar. Punya customer dari Trenggalek. Kan di sana banyak tempat pembekuan ikan. Saya sudah 10 tahun lebih langganan di sini. Saya teknisi yang merawat mesin-mesin mereka (customer). Baru dibawa ke sini kalau ada trouble khususnya dinamonya,"
Keberadaan kampung masih sangat ramai. Purnomo menambahkan: "Masih sangat ramai. Karena orang yakin ya selain harganya lebih murah dibanding pabrikan ya. Kualitas juga nggak mau kalah,"
Ia juga menyoroti perbedaan material dinamo. "Masih banyak yang reparasi. Karena yang (dinamo) baru-baru semua dari aluminium. Orang tetap kembali ke tembaga, yang kualitas dulu. Karena mesin-mesin zaman sekarang nggak bisa tahan lama seperti yang dulu. Dulu kan bisa bertahan 15-20 tahun. Nah sekarang 2-3 tahun sudah rusak," ujarnya.
Keahlian yang terus diwariskan menjadi jantung kehidupan Kampung Dinamo. Dari generasi pertama yang dipelopori oleh Abdul Fatah, hingga generasi ketiga yang masih melanjutkan usaha ini, perbaikan dinamo tetap menjadi sumber penghasilan utama bagi warga. Dengan kombinasi pengalaman, teknik tradisional, dan kebutuhan pasar yang terus ada, kampung ini tetap menjadi tempat yang dihargai oleh pelanggan dari berbagai daerah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Banyuwangi Miliki Pusat Penetasan 20.000 Telur Penyu
Masa Kontrak PPPK: Bisa Naik Golongan? Ini Jawabannya
50 Tahun Satelit Indonesia: Dari Palapa A1 ke NEO-1
Dosen Korban Doxing, SPK: Ini Intimidasi Terang-terangan
Nelayan Lamongan Tewas Mendadak saat Melaut di Perairan Masalembu
MPLS Jatim 2026 Dimulai 13 Juli, Larang Perpeloncoan
Berita Terbaru
Pelabuhan Patimban Kurangi Beban Tanjung Priok
Wanita Rapi Buang Air Besar di Depan Ruko, Terekam CCTV
Polda Bali Aktifkan 91 Command Center Kawal Pertemuan Internasional
Banyuwangi Miliki Pusat Penetasan 20.000 Telur Penyu
BMKG: Puncak Kemarau 2026 Juli-September
Perbaikan Jembatan Bodogol Dimulai Agustus, Warga Cari Jalur Alternatif
Maroko Akui Prancis Favorit, Tapi Incar Kemenangan
McLaren Andra ST Oleng, Tabrak Tiang Listrik
Masa Kontrak PPPK: Bisa Naik Golongan? Ini Jawabannya
50 Tahun Satelit Indonesia: Dari Palapa A1 ke NEO-1
