Kampung Madras Medan: Jejak Sejarah dan Warisan Budaya India
Gambar atau konten salah?
Medan, kota terbesar di Sumatera Utara, dikenal sebagai tempat di mana berbagai suku dan budaya hidup berdampingan. Dari Melayu, Jawa, Sunda, Batak, Tionghoa, Arab hingga India, semua menambah warna kota ini.
Di tengah keragaman tersebut, terdapat satu kawasan yang khusus menjadi pusat permukiman komunitas India: Kampung Madras. Di sini, komunitas Tamil dan Sikh telah menetap selama puluhan tahun, menjadi bagian penting dari kehidupan sosial Medan.
Menurut Dosen Sejarah Universitas Sumatera Utara, Kiki Maulana Affandi, Medan telah lama menjadi “melting pot” bagi kebudayaan. Ia berkata, “Kota Medan dikenal dengan kota yang berpenduduk heterogen dan multikultural. Ragam sukubangsa hidup berdampingan di kota ini. Pertumbuhan Medan ini menjadi melting pot sehingga berbagai kebudayaan bercampur sehingga toleransi hidup dengan baik di kota ini. Salah satu bangsa yang menjadi ciri khas Kota Medan adalah India. Di Medan terdapat orang Tamil dan Orang Sikh yang sejak lama bermukim di Medan,” ujarnya.
Hubungan antara orang India dan wilayah Nusantara sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Kiki menjelaskan, “Berdasarkan sejarahnya, relasi dan kedatangan orang India ke Indonesia sudah berlangsung lama. Jejak dan bukti sejarah dimulai sejak awal pertama tahun masehi ketika adanya rute maritim pedagang India di Selat Malaka karena mencari rempah-rempah dan emas. Pada abad ke 7, relasi orang India juga terjadi dengan Kerajaan Sriwijaya di Palembang,” jelasnya.
Jejak sejarah ini masih dapat dilihat di situs arkeologi. “Lebih lanjut, tinggalan India dengan wilayah Medan dapat terlihat dari temuan di Situs Kota Cina, Marelan. Temuan arca khas India Selatan di Situs Kota Cina membuktikan adanya relasi yang kuat antara Medan dan India Selatan. Jika menelusur asal-usul dan sejarah Kesultanan Deli juga tidak bisa dilepaskan dari Sultan Pertama Kesultanan Deli yaitu Gotjah Pahlawan yang merupakan Panglima Aceh keturunan India,” katanya.
Peran orang India di Sumatera Utara menjadi lebih signifikan pada akhir abad ke-19, ketika wilayah ini berkembang sebagai kawasan perkebunan. “Hubungan orang India dan Sumatera Utara yang lebih berpengaruh terjadi sejak akhir abad 19 ketika Sumatera Utara dibuka sebagai wilayah perkebunan. Orang India yang direkrut sebagai pekerja di perkebunan adalah Orang Tamil yang berasal dari Pantai Coromandel, India Selatan. Selain ini juga bermigrasi kelompok orang Sikh ke Medan, Sumatera Utara,” ungkapnya.
Dalam catatan perusahaan perkebunan, pekerja India diberi sebutan khusus. “Dalam catatan perusahaan perkebunan, orang India yang bekerja disebut dengan istilah Klingalezeen atau Orang Keling. Sementara orang Sikh disebut dengan Bengaleezen atau orang Benggali. Menariknya sudah ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang ditempatkan bagi pekerja Tamil ini. Pekerjaan mereka yaitu membangun jalan, menggali parit, dan sebagai kusir gerobak sapi,” jelasnya.
Peran Sikh berbeda. “Berbeda dengan orang Tamil, orang Sikh atau Benggali dipekerjakan sebagai pengawas atau opas perkebunan, karena mereka biasanya adalah mantan serdadu atau polisi. Selain orang Sikh atau Benggali yang bekerja di perkebunan terdapat pula orang Benggali yang menjadi peternak sapi, penjual sapi, kusir pedati dan penjaga keamanan bahkan pemberi pinjaman yang biasa disebut chetti,” lanjutnya.
Di luar bidang kerja, komunitas India juga meninggalkan warisan keagamaan. “Orang India di Medan Sumatera Utara juga terdapat India Muslim yang mana terdapat masjid atau rumah ibadah di Medan seperti Mesjid Ghaudiyah dan Mesjid Jami,” katanya. Masjid-masjid ini masih dapat ditemukan, khususnya di kawasan Kampung Madras.
Di Kampung Madras, terdapat beberapa tempat ibadah penting. Kuil Shri Mariamman menjadi tempat ibadah umat Hindu Tamil sejak akhir abad ke-19. Selain itu, Gurdwara Sri Guru Nanak Dev Ji dan Gurdwara Guru Arjun Dev Ji menjadi pusat ibadah umat Sikh. Masjid-masjid Islam juga menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan komunitas India di kota ini.
Keberadaan komunitas India di Medan tidak hanya mencerminkan perjalanan sejarah panjang, tetapi juga menunjukkan nilai toleransi yang kuat. “Kehadiran dan eksistensi orang India di Medan memperlihatkan harmonisasi dan toleransi yang kuat di Kota Medan,” pungkasnya.
Sejarah perdagangan maritim, kedatangan para pekerja di era perkebunan, dan warisan budaya yang masih hidup di Kampung Madras menunjukkan bahwa jejak orang India menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Medan. Kota ini tetap multikultural, menampilkan toleransi yang nyata di antara berbagai kelompok etnis dan agama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini