Kanker Payudara: Risiko Kembalinya Tinggi Meski Operasi Awal
Gambar atau konten salah?
Di Indonesia, Kanker payudara masih menjadi masalah kesehatan utama. Meskipun banyak pasien didiagnosis pada stadium awal, risiko kekambuhan tetap tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa 20-30 persen pasien mengalami kekambuhan dalam 20 tahun ke depan, meski sudah menjalani operasi.
Menurut Dr. Jeffry Beta Tenggara, SpPD-KHOM, spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi, pandangan umum bahwa pasien yang sudah selesai operasi pada stadium awal “pasti aman” tidak sepenuhnya tepat.
“Yang paling sering (faktor kekambuhan) adalah kondisi dari kanker itu awalnya,” ungkap Dr. Jeffry saat berbincang di Siloam Oncology Summit di Shangri-La, Jakarta Pusat pada 23 Mei 2026.
Ia melanjutkan: “Ada beberapa jenis kanker itu yang memang tumbuhnya lambat. Kemudian sifatnya cenderung tidak terlalu agresif. Tapi ada jenis-jenis breast cancer itu sangat agresif. Misalkan jenis tipe R2 positif atau triple negatif, itu kekambuhannya masih akan sangat tinggi walaupun ditemukan di stadium awal.”
Perubahan pola usia pasien juga menjadi sorotan. Dr. Jeffry menegaskan bahwa kini banyak penderita Kanker payudara yang berusia 20-an, sementara dulu biasanya ditemukan pada usia 40-50 tahun. Ia menilai bahwa peningkatan kekambuhan seiring dengan semakin muda pasien tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.
“Karena kita hidup di dunia yang pencetus cancer itu di mana-mana. Misalnya kita pegang handphone tiap hari. Itu radiasi. Kemudian kita makan dengan mikroplastik di mana-mana,” kata Dr. Jeffry. Ia menambahkan: “Paparan karsinogenik ultra-processed food itu ada di mana-mana. Jadi kita memang hidup di dunia ini yang lingkungan kita itu adalah yang bisa memicu terjadinya kanker. Tapi kalau ditanya exact ‘pastinya faktor apa?’ kita nggak bisa bilang bahwa ini satu faktor penyebabnya.”
Dr. Jeffry menekankan pentingnya evaluasi berkala. “Itu gunanya kenapa saya bilang kita harus lakukan evaluasi berkala, baik itu mau pakai scan, mau pakai PET scan. Supaya kalau kita tahu bahwa ini sudah ada terjadi, kita bisa dapat dalam fase yang lebih awal, tentu ngobatinnya akan jadinya lebih lebih gampang,” ujarnya.
Kekambuhan kanker tidak selalu muncul di payudara. Sel-sel kanker yang tersisa, meski sangat kecil, dapat menyebar ke organ lain sebelum terdeteksi. “Mungkin nggak bahwa ada satu sel atau dua sel kanker yang awalnya misalkan cuma di payudara. Tapi mungkin sembunyi. Sudah lepas tapi sembunyi di tempat yang lain. Dan dia butuh waktu untuk tumbuh tiba-tiba munculnya ada di tempat lain,” jelas Dr. Jeffry.
Gejala biasanya tidak muncul sampai kanker telah menyebar ke organ tertentu. Jika menyerang hati, bisa muncul kuning pada kulit; jika menyebar ke paru-paru, dapat batuk darah atau sesak napas. “Sehingga bisa dikatakan gejala yang tampak justru menandakan kekambuhan kanker yang terjadi sudah cukup parah,” tambahnya.
Oleh karena itu, Dr. Jeffry menekankan perlunya pemantauan rutin. “Kita harus lakukan surveillance atau pemantauan secara berkala. Surveillance bisa dilakukan sekitar 6 bulan atau 1 tahun sekali.”
Perawatan modern kini dapat disesuaikan hingga level genetik menggunakan next gene sequencing (NGS), sehingga lebih spesifik dan efektif. Pasca operasi, terapi tambahan seperti kemoterapi, obat anti-hormon, imunoterapi, hingga anti HER2 Therapy Target dapat diberikan. “Pemberian obat anti-hormon bisa diberikan sampai 10 tahun, imunoterapi bisa diberikan kurang lebih selama 1 tahun, dan anti HER2 Therapy Target juga kurang lebih setahun,” jelas Dr. Jeffry.
Ia mengajak semua orang untuk tidak takut memeriksakan kondisi ke dokter. “Semakin cepat kekambuhan ditemukan, maka semakin cepat kanker diobati.” “Jangan pernah takut untuk periksakan ke dokter pada saat anda menemukan suatu gejala mencurigakan di badan Anda. Kalau misalkan diperlukan jangan takut untuk lakukan pemeriksaan lanjut seperti biopsi. Satu-satunya cara kita untuk menyatakan bahwa suatu benjolan itu kanker atau bukan hanya melalui biopsi,” tambahnya.
Di MRCCC Siloam Semanggi Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center, pasien mendapatkan penanganan terintegrasi melalui Multidisciplinary Team (MDT). Layanan mencakup deteksi dini hingga pengobatan lengkap, menegaskan komitmen Siloam menyediakan layanan berkualitas tanpa harus pergi ke luar negeri.
Dengan pendekatan holistik ini, pasien dapat memanfaatkan fasilitas deteksi dini, terapi personal, dan pemantauan berkelanjutan. Sementara itu, masyarakat diharapkan lebih sadar akan pentingnya skrining dini dan gaya hidup sehat untuk mencegah Kanker payudara serta mengurangi risiko kekambuhan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
