Kapal MV Hondius Terdeteksi Hantavirus, 3 Orang Meninggal
Gambar atau konten salah?
MV Hondius yang beroperasi di dekat Tanjung Verde menjadi sorotan dunia internasional setelah hantavirus terdeteksi di kapal tersebut. Insiden ini menewaskan tiga orang dan membuat beberapa penumpang serta kru lainnya sakit. Sebanyak 149 penumpang dan kru ditahan sementara penyelidikan berlangsung.
Menurut World Health Organization (WHO), hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat, seperti tikus, dan dapat ditularkan ke manusia. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah dan seringkali berakibat fatal, meski tingkat keparahan bervariasi tergantung jenis virus dan lokasi geografis.
Virus ini pertama kali diisolasi oleh Dr. Ho Wang Lee pada 1976 setelah ribuan tentara jatuh sakit selama perang Korea pada tahun 1950an akibat demam misterius. Nama hantavirus berasal dari Sungai Hantan di Korea, tempat kejadian awalnya.
Gejala awal hantavirus sering menyerupai flu biasa, sehingga banyak orang tidak menyadari bahaya. Beberapa gejala awal yang umum meliputi:
- Demam tinggi
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Mual dan muntah
- Tubuh lemas
Organ yang terpengaruh berbeda tergantung wilayah. Di Asia dan Eropa, virus biasanya menimbulkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal. Di Amerika, hantavirus dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru‑paru, dengan tingkat kematian mencapai 38% hingga 40%.
Belum ada obat khusus untuk hantavirus. Perawatan medis suportif sejak dini sangat penting untuk meningkatkan harapan hidup. Fokus perawatan meliputi pemantauan klinis ketat dan penanganan komplikasi pada sistem pernapasan, jantung, dan ginjal. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi kontak antara manusia dan hewan pengerat yang terinfeksi.
Penularan hantavirus ke manusia dapat terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, atau hewan pengerat yang terinfeksi. Meskipun lebih jarang, virus juga dapat tertular melalui gigitan hewan pengerat. Aktivitas yang meningkatkan risiko paparan antara lain membersihkan ruang tertutup, ventilasi buruk, pertanian, pekerjaan kehutanan, dan tidur di tempat tinggal yang dipenuhi hewan pengerat.
Hantavirus tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik. Deteksi dini dan perawatan suportif menjadi kunci dalam mengurangi mortalitas. Kesadaran masyarakat tentang cara menghindari kontak dengan hewan pengerat dan mengenali gejala awal juga penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
