Kapal Pesiar Hondius Sampai Hantavirus, 3 Tewas Di Tenerife

Ika P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 88 dibaca
Bisik.id
Kapal Pesiar Hondius Sampai Hantavirus, 3 Tewas Di Tenerife

Gambar atau konten salah?

MV Hondius adalah kapal pesiar mewah yang menampung hampir 150 penumpang dan kru. Pada 06 Mei 2026, kapal tersebut terdeteksi mengandung hantavirus dan segera dilarikan ke Tenerife, Kepulauan Canary, Spanyol. Wabah ini menewaskan tiga orang, termasuk pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga Jerman, serta menimbulkan kekhawatiran publik karena kemiripannya dengan awal pandemi COVID‑19.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa hantavirus tidak menular semudah COVID‑19. Virus ini memerlukan kontak fisik yang sangat dekat untuk berpindah antar manusia. Meskipun begitu, WHO tetap menerapkan pengawasan ketat karena masa inkubasi dapat berlangsung hingga 45 hari.

Setelah muncul dugaan wabah, MV Hondius terombang-ambing di lepas pantai Tanjung Verde. Pada Rabu, 06 Mei 2026, kapal akhirnya diberangkatkan menuju Tenerife. Menteri Kesehatan Spanyol, Monica Garcia, menyatakan bahwa kapal diperkirakan tiba dalam waktu tiga hari. Meskipun situasi di atas kapal serius, penumpang yang masih berada di kapal belum menunjukkan gejala baru, sedikit meredakan kekhawatiran otoritas kesehatan internasional.

WHO mengidentifikasi minimal delapan orang diduga terpapar hantavirus. Tiga di antaranya telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk seorang warga Swiss yang kini menjalani perawatan di Zurich. Kasus ini menjadi perhatian internasional karena virus yang terlibat adalah varian Andes hantavirus, salah satu jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antar manusia di kondisi tertentu.

Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, menegaskan bahwa risiko penularan hantavirus ke masyarakat luas masih tergolong rendah. Dalam keterangannya kepada Reuters, Van Kerkhove menjelaskan bahwa penularan antarmanusia hanya terjadi melalui kontak yang sangat dekat:

Ketika kami menyebut 'kontak dekat' untuk penularan antarmanusia, yang kami maksud adalah kontak fisik yang sangat, sangat dekat. Misalnya berbagi kamar tidur, berbagi kabin, atau memberikan perawatan medis langsung. Ini sangat, sangat berbeda dengan COVID dan sangat berbeda dengan influenza,” ujar Maria Van Kerkhove kepada Reuters.

Perbedaan utama antara hantavirus dan COVID‑19 terletak pada cara penularannya. COVID‑19 dapat menyebar melalui udara dalam interaksi sosial biasa, sedangkan varian Andes hantavirus memerlukan kontak intens dan berkepanjangan untuk berpindah dari satu orang ke orang lain. Risiko penularan tertinggi pada hantavirus terjadi ketika seseorang melakukan kontak langsung dengan cairan tubuh penderita atau berada dalam jarak sangat dekat dalam waktu lama. Itulah alasan WHO menyebut risiko wabah global dari kasus ini masih jauh lebih rendah dibanding COVID‑19.

Kapal pesiar dikenal sebagai lokasi yang rentan menjadi tempat penyebaran penyakit menular. Lingkungan tertutup, fasilitas bersama, dan interaksi intens antar penumpang memudahkan virus menyebar. Namun, dalam kasus hantavirus ini, WHO menilai penularan tidak terjadi secara masif seperti wabah COVID‑19 di kapal pesiar beberapa tahun lalu. Penumpang dilaporkan tetap menjaga suasana tetap kondusif selama masa isolasi di kapal. Salah satu penumpang, Kasem Hato, mengatakan kapten kapal terus memberikan pembaruan informasi secara transparan kepada seluruh penumpang:

Orang‑orang menanggapi situasi ini dengan serius tetapi tanpa kepanikan. Kami mencoba menjaga jarak sosial dan mengenakan masker agar tetap aman. Hari‑hari kami berjalan hampir normal; kami menyibukkan diri dengan membaca, menonton film, dan minum minuman hangat. Semangat di atas kapal tetap tinggi,” ungkap Hato.

Setelah tiba di Tenerife, pemerintah Spanyol menyiapkan prosedur khusus. Warga negara non‑Spanyol yang dinyatakan sehat akan menjalani proses repatriasi. Sementara itu, 14 warga negara Spanyol akan dikarantina di rumah sakit militer di Madrid. Menurut Monica Garcia, durasi karantina akan disesuaikan dengan waktu terakhir kontak terhadap virus karena masa inkubasi hantavirus dapat mencapai 45 hari. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kasus baru yang lolos dari pengawasan kesehatan.

WHO kini bekerja sama dengan sejumlah negara untuk melacak penumpang yang sebelumnya sempat turun di Pulau Saint Helena sebelum kapal mencapai Tanjung Verde. Di Afrika Selatan, sebanyak 65 orang yang sempat melakukan kontak dengan pasien telah diidentifikasi untuk pemantauan kesehatan lanjutan. Selain itu, ada 12 orang lain di berbagai negara yang juga masuk daftar pemantauan. Pelacakan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah kemungkinan penularan lanjutan.

Walaupun WHO memastikan hantavirus tidak menular semudah COVID‑19, kasus wabah di kapal pesiar MV Hondius tetap menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis masih perlu diwaspadai. Mobilitas internasional dan ruang tertutup seperti kapal pesiar dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit jika tidak ditangani cepat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami cara penularan, gejala, dan langkah pencegahan hantavirus agar tidak mudah termakan kepanikan maupun informasi menyesatkan. Mengetahui fakta-fakta ini membantu menjaga ketenangan dan keamanan bersama.

MV HondiushantavirusTenerifeWHOkapal pesiarvarian Andeskarantina

Komentar

Memuat komentar...