Karawang: Sejarah Candi, Pusat Perdagangan, dan Perang VOC

Nurul H. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Karawang: Sejarah Candi, Pusat Perdagangan, dan Perang VOC

Gambar atau konten salah?

Karawang, sebuah kabupaten di Jawa Barat, sering kali menjadi pengingat bagi pelajar SMA ketika mereka membaca puisi Chairil Anwar berjudul 'Krawang-Bekasi'. Nama ini juga mengajak penggemar sastra Sunda kuno untuk membaca Kitab Bujangga Manik, di mana Karawang disebut oleh peziarah Kerajaan Pajajaran.

Di wilayah ini tersembunyi banyak jejak sejarah. Salah satunya adalah Candi Batujaya, yang diduga dibangun antara abad ke-5 dan ke-7 Masehi. Candi ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia di Karawang mungkin sudah lebih tua dari bangunan tersebut.

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Karawang sudah ada sejak awal Masehi. Sejak zaman Kerajaan Tarumanagara, wilayah ini aktif sebagai pusat perdagangan, berkat lokasinya yang berbatasan dengan Laut Jawa. Hal ini menjadikan Karawang sebagai tempat penting bagi para pedagang.

Asal-usul nama Karawang memiliki beberapa versi. Beberapa menyebut berasal dari kata Kawang, sementara yang lain menamai wilayah ini Ke-Rawaan karena banyak rawa di sekitarnya. Kisah lengkapnya masih menjadi bahan perbincangan.

Menurut catatan kuno Tiongkok, Karawang sudah dikenal sejak hampir 1.800 tahun lalu. Catatan tersebut menyebut sebuah pusat perdagangan penting bernama Koying di kawasan Nusantara. Catatan tertua tentang nama tersebut berasal dari “Catatan dari Daerah Selatan” yang ditulis oleh seorang pengelana Tiongkok bernama Wan Chen pada masa Dinasti Wu, sekitar tahun 220‑280 Masehi. Koying digambarkan sebagai pelabuhan besar tempat persinggahan kapal dagang dari India.

Dalam catatan Tiongkok, Koying juga ditulis sebagai Ge‑ying. Daerah ini dikenal sebagai pusat perdagangan yang menghasilkan dan mengekspor mutiara, emas, permata, serta berbagai hasil bumi. Meskipun demikian, dugaan ini belum mengarah pada kepastian bahwa Koying adalah Karawang saat ini, kecuali pendapat yang mendekatkan Koying dengan kata Kawang, sebagaimana kata itu dilafalkan dalam bahasa Tiongkok.

Di abad ke-15 Masehi, seorang bernama Prabu Jaya Pakuan atau yang menyebut dirinya sendiri sebagai Bujangga Manik menapaki sejumlah daerah di Karawang. Ia menginformasikan bahwa daerah ini terkenal dengan apu, yakni kapur yang diendapkan dan biasanya dijadikan bahan utama dalam nyeupah atau sugi pinang. Bujangga Manik melakukan dua kali perjalanan di Pulau Jawa dan Bali. Ia menuliskan catatan perjalanannya dan menyebutkan banyak tempat di situ. Di sana, selain menyebutkan Patenggeng sebagai wilayah di Karawang tempat jatuhnya sumbat lava Gunung Sunda Purba, ia juga menyebutkan “Leteng karang ti Karawang” (apu dari Karawang).

Berikut kutipan dari Kitab Bujangga Manik:

“Leteng karang ti Karawang. Leteng susuh ti Malayu. Pamuat Aki Puhawang. Dipinangan pinang tiwi. Pinang tiwi ngubu cai.”

Baris ini mengisahkan pemberian seorang putri dari kompleks Kerajaan Pajajaran bernama Ajun Larang Sakean Kilat Bancana, dalam upaya meminang dirinya. Di antara pemberian itu, yakni apu dari Karawang.

Perjalanan sejarah Karawang juga dipengaruhi oleh Sultan Agung Mataram. Pada tahun 1632 Masehi, Sultan Agung mengutus seorang bangsawan dari Galuh bernama Wiraperbangsa untuk berangkat ke Karawang. Ia memimpin sekitar 1.000 prajurit beserta keluarganya. Tugas utama yang diberikan kepadanya adalah melepaskan Karawang dari pengaruh Kesultanan Banten dan menyiapkan kebutuhan logistik perang untuk mendukung rencana penyerangan Mataram terhadap VOC Belanda di Batavia (Jakarta).

Misi tersebut sangat penting karena sebelumnya Sultan Agung pernah menugaskan Aria Wirasaba untuk menjalankan tugas serupa. Namun, upaya itu dinilai belum berhasil sepenuhnya. Karena itu, Wiraperbangsa dipercaya untuk melanjutkan dan menyelesaikan tugas tersebut. Ia berhasil menjalankan amanah Sultan Agung dengan baik. Atas keberhasilannya, ia diangkat menjadi Wedana atau setingkat Bupati Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III. Sebagai penghargaan, Sultan Agung juga menghadiahkan sebuah keris pusaka bernama Karosinjang.

Setelah menerima gelar dan penghargaan di Mataram, Wiraperbangsa berencana kembali ke Karawang. Namun sebelum berangkat, ia singgah terlebih dahulu ke Galuh untuk menemui keluarganya. Di tempat itulah ia wafat karena kehendak Tuhan. Sepeninggal Wiraperbangsa, jabatan pemimpin Karawang dilanjutkan oleh putranya, Raden Singaperbangsa. Ia kemudian mendapat gelar Adipati Kertabumi IV dan memerintah Karawang pada periode 1633‑1677. Tugas yang diembannya tidak ringan. Selain meneruskan perjuangan menghadapi VOC Belanda, ia juga harus membangun kawasan pertanian dan persawahan untuk menjamin ketersediaan pangan bagi pasukan Mataram.

Peristiwa penting ini tercatat dalam sebuah dokumen bersejarah yang dikenal sebagai Piagam Plat Kuning Kandang Sapi Gede. Isi piagam tersebut menjelaskan penugasan Singaperbangsa dan para pengikutnya untuk menjaga wilayah Negara Agung Mataram yang membentang dari Sungai Cipamingkis di sebelah barat hingga Sungai Cilamaya di sebelah timur. Piagam itu juga mencatat pengelolaan lumbung padi sebagai bagian dari persiapan menghadapi ancaman VOC.

Piagam tersebut mencatat tanggal: Rabu tanggal 10 bulan Mulud tahun alif atau 14 September 1633. Tanggal ini dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Karawang.

Sejak masa lampau, Karawang telah memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia. Dari candi kuno hingga pusat perdagangan Tiongkok, hingga pertempuran dengan VOC, nama ini terus dikenang. Meskipun sejarahnya kaya, Karawang tetap menjadi tempat yang menonjol di tengah pulau Jawa, memadukan warisan budaya dengan perkembangan zaman.

KarawangCandi BatujayaKoyingBujangga ManikSultan AgungMataramVOCChairil Anwar

Komentar

Memuat komentar...