Karen Tirtabudi: 32, Dihitung Kanker Limfoma, 12 Kemoterapi
Gambar atau konten salah?
Pada Rabu, 01 April 2026, sebuah unggahan di Instagram akun @kareniknok menjadi viral. Unggahan tersebut berisi kisah pribadi seorang perempuan bernama Karen Tirtabudi (32) yang baru saja didiagnosis kanker limfoma hodgkin setelah melakukan medical check‑up secara iseng.
Menurut Karen, ia tidak pernah merasakan gejala khas kanker seperti batuk, demam, atau penurunan berat badan. Namun, ia mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa ketika tertawa atau batuk. “Memang ada sesuatu yang nggak sreg aja di dada aku, jadi kalau batuk kebesekan atau ketawa itu nggak plong, seperti ada yang ganjel gitu,” jelasnya.
Karena tidak pernah sakit selama tiga dekade, Karen memutuskan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Ia tinggal di Cianjur, Jawa Barat, dan selama 30 tahun tidak pernah dirawat di rumah sakit. Salah satu tes yang ia lakukan adalah rongent dada. Hasilnya menunjukkan adanya “bayangan” di area mediastinum, yaitu rongga di antara paru-paru. Karena temuan tersebut belum jelas, pemeriksaan lanjutan diperlukan.
Tak lama setelah itu, Karen menemukan benjolan di dekat leher. Benjolan tersebut tidak terlihat secara kasat mata, namun terasa ketika ditekan. “Beres itu, yaudah deh cepet ngomong ke dokter, (pemeriksaan) USG, dianjurin untuk biopsi. Yaudah biopsi di Bandung,” ungkapnya.
Hasil biopsi menunjukkan indikasi kanker, namun masih ada ketidakpastian. Karen memutuskan untuk mencari second opinion di Malaysia. Dokter di sana menegaskan bahwa hasil pemeriksaan sudah jelas dan Karen perlu menjalani kemoterapi. Pada akhir 2023, ia didiagnosis mengidap kanker limfoma hodgkins stadium 4 awal.
Selama tahun 2024, Karen menjalani 12 kali sesi kemoterapi. Pada akhir tahun tersebut, ia dinyatakan bersih. Namun, ia tetap harus melakukan pemeriksaan setahun sekali selama 5 tahun untuk memastikan tidak ada sel kanker yang tersisa. “Meski demikian, saya tetap harus melakukan pemeriksaan setahun sekali selama 5 tahun pasca dinyatakan bersih, untuk memastikan sel kanker tersebut sudah sepenuhnya tidak ada,” kata Karen.
Ia berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. Karen menekankan pentingnya kesadaran akan risiko kanker yang tidak bergejala dan perlunya pemeriksaan kesehatan rutin. “Hayu ah, lebih aware dengan kondisi tubuh kita. Jangan yang sepele, di biarin aja. Mending sepele, di cek juga yah!!” tambahnya.
Dengan pengalaman ini, Karen mengajak masyarakat untuk lebih proaktif. Pemeriksaan kesehatan, meski tidak terasa gejala, dapat menjadi langkah awal dalam mendeteksi penyakit serius. Kesehatan tubuh memang tak boleh dianggap remeh, dan langkah sederhana seperti check‑up rutin bisa menjadi penentu hidup atau mati bagi beberapa orang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
