Kebakaran Hutan Gunung Jawa Timur Meningkat di Musim

Hari W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Kebakaran Hutan Gunung Jawa Timur Meningkat di Musim

Gambar atau konten salah?

Surabaya, 30 Mei 2026. Jawa Timur memasuki musim kemarau yang diperkirakan lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan risiko kebakaran hutan, khususnya di kawasan gunung. Perubahan iklim dan curah hujan yang menurun memperparah situasi.

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menegaskan bahwa semua hutan di wilayah Jawa Timur memiliki potensi kebakaran saat musim kemarau, termasuk hutan gunung. Ia berkata, "Semua hutan di wilayah Jawa Timur punya potensi kebakaran saat musim kemarau, termasuk hutan gunung," menegaskan keprihatinannya.

Gatot mengidentifikasi beberapa hutan gunung yang rawan. Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), ekosistem sabana luas dan kering, aktivitas manusia tinggi, serta faktor alam memperbesar risiko. Ia menjelaskan, "Kalau di TNBTS areanya sangat rawan, ekosistem sabana sabana luas dan kering. Ditambah aktivitas manusia yang tinggi di TNBTS serta faktor alam," menegaskan pentingnya pengawasan.

Di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, yang meliputi Malang, Mojokerto, dan sekitarnya, riwayat kebakaran hebat membuat pemadaman sulit. Medan curam, tersebar di beberapa kabupaten, dan angin kencang menambah tantangan. Gatot menambahkan, "Kalau di Tahura Raden Soerjo diketahui punya riwayat kebakaran hebat, sulit dipadamkan karena curamnya medan, tersebar di beberapa kabupaten, dan anginnya kencang," menegaskan risiko tinggi.

Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, juga rawan. Di sisi timur, angin sangat kencang dan vegetasi kering. Titik api sering muncul di Jogorogo. Gatot menjelaskan, "Di Gunung Lawu sisi Timur sangat rawan. Sebab anginnya sangat kencang, dan sangat kering. Titik api sepanjang riwayatnya banyak terjadi di Jogorogo. Gunung Lawu ini masuk Jatim dan Jateng, kalau Jatim masuk di Ngawi-Magetan. Vegetasinya juga kering, ditambah ada lalu lintas manusia yang melakukan pendakian," menekankan pentingnya kesiapsiagaan.

Selain itu, Gunung Argopuro, Gunung Ijen, dan Gunung Penanggungan juga berpotensi kebakaran. Semak belukar di jalur pendakian mudah terbakar. Gatot mengimbau pendaki menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan. Ia berkata, "Banyak semak belukar yang mudah terbakar di jalur pendakian. Kami imbau para pendaki bisa menjaga kondisi lingkungan di sekitar gunung, jangan buang sampah sembarangan," menekankan perlunya tindakan preventif.

Ia menekankan pentingnya tindakan pencegahan. Bersih‑bersih, bakar sampah, atau merokok harus dipadamkan sempurna. Bara api dapat berubah menjadi api besar jika angin berhembus. Gatot menegaskan, "Yang penting masyarakat juga perlu menjaga dan memperhatikan apabila akan melakukan bersih‑bersih, bakar sampah atau merokok perlu dipadamkan dengan sempurna dan ingat bahwa bara api bisa menjadi api besar dengan adanya angin yang berhembus," menegaskan perlunya kesadaran.

Dengan musim kemarau yang lebih kering di Jawa Timur, potensi kebakaran hutan gunung meningkat. Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto mengingatkan semua pihak, terutama pendaki, untuk menjaga lingkungan, memadamkan api dengan benar, dan tidak membuang sampah sembarangan. Kesadaran dan tindakan preventif menjadi kunci mengurangi risiko kebakaran di kawasan hutan. Upaya bersama antara pemerintah, masyarakat, dan wisatawan diperlukan untuk melindungi ekosistem hutan yang berharga.

kebakaran hutanmusim kemarauJawa TimurTaman Nasional Bromo Tengger SemeruGunung LawuBPBD Jatimpendaki

Komentar

Memuat komentar...