Kediri Perkenalkan Sistem Keamanan Digital RT 05 untuk Warga

Dewi M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Kediri Perkenalkan Sistem Keamanan Digital RT 05 untuk Warga

Gambar atau konten salah?

Di kawasan permukiman RT 05 RW 05 Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, warga mulai merasakan ketidakamanan yang semakin menanjak. Dari situ lahirlah ide sederhana: sebuah sistem keamanan digital yang diciptakan secara swadaya.

Pengembangnya, Topan Kristianata, menegaskan bahwa ide ini muncul karena ia merasa “maraknya aksi kriminalitas yang menyasar wilayah pemukiman membuat saya berpikir bahwa warga membutuhkan sistem peringatan dini yang nyata.”

Topan memiliki latar belakang di bidang pengamanan di salah satu perusahaan di Kota Kediri. Ia melihat bahwa metode ronda tradisional dan penggunaan kentongan masih relevan, namun dapat diperbarui dengan teknologi modern.

Dengan demikian, ia memodernisasi konsep kentongan melalui aplikasi Panic Button “Siaga Warga” yang terintegrasi dengan pengeras suara toa. Saat ada situasi mencurigakan, warga cukup menekan tombol darurat di ponsel. Sistem secara otomatis membunyikan peringatan di toa lingkungan dan mengirim notifikasi ke pengurus RT, lengkap dengan titik lokasi kejadian secara real‑time.

Inovasi tidak berhenti di situ. Topan juga mengembangkan aplikasi Seismik Gayam Siaga dan Siaga Cuaca Mojoroto, yang terhubung langsung dengan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Ia menjelaskan bahwa sistem menggunakan API resmi BMKG sehingga informasi gempa bumi, tsunami, maupun cuaca ekstrem dapat diterima secara otomatis dan langsung disiarkan melalui jaringan toa lingkungan.

Menurutnya, “dengan mengambil data langsung dari sumber resmi BMKG, informasi yang diterima warga menjadi akurat dan menghindari kepanikan akibat hoaks.”

Selain itu, Topan menambah aplikasi Si RT atau Sistem Informasi Rukun Tetangga. Aplikasi ini bertujuan mendukung transparansi dan pelayanan administrasi warga berbasis digital.

Proses pembuatan sistem ini tidak mulus. Topan mengakui, “tentu tidak langsung berhasil. Banyak trial and error, mulai dari sistem tidak responsif, kendala integrasi perangkat keras, hingga sinkronisasi data yang belum stabil.”

Keberhasilan akhirnya bergantung pada dukungan pengurus RT dan warga sekitar. Salah satu warga menyediakan tempat untuk server sekaligus menanggung biaya listrik dan jaringan internet agar sistem dapat beroperasi 24 jam.

Untuk memperkenalkan teknologi tersebut, Topan memilih pendekatan door‑to‑door. Ia membawa perangkat demo dan rencana anggaran biaya ke setiap rumah. “Saya memilih pendekatan door to door supaya warga paham dan merasa memiliki sistem ini,” ujarnya.

Pengembangan perangkat lunak dilakukan secara gratis sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Sementara itu, pengadaan perangkat keras—komputer, amplifier, mixer, kabel, toa, dan perangkat pendukung lainnya—menelan biaya sekitar Rp 5 juta, yang berasal dari kas swadaya warga.

Sistem tersebut mulai diimplementasikan secara penuh sejak pertengahan Maret 2026 dan mendapat dukungan besar dari masyarakat setempat. Meski belum mendapat respons resmi dari Pemerintah Kota Kediri maupun Kepolisian Resor Kediri Kota, ia berharap inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi lingkungan lain dalam membangun sistem keamanan berbasis teknologi.

“Fokus utama saya saat ini memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan warga terlebih dahulu,” pungkas Topan.

Secara keseluruhan, proyek ini menunjukkan bagaimana inisiatif lokal dapat memanfaatkan teknologi sederhana untuk meningkatkan kewaspadaan dan keamanan komunitas. Dengan dukungan warga dan integrasi data resmi, sistem ini berpotensi menjadi contoh bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.

keamanan digitalPanic ButtonBMKGSiaga Wargasistem peringatankota Kediripermukiman

Komentar

Memuat komentar...