Kelenjar Timus Ternyata Penting bagi Kesehatan Dewasa
Gambar atau konten salah?
Kelenjar timus, organ kecil di dada, lama dianggap hanya penting pada masa kanak-kanak. Setelah pubertas, ukuran organ ini menurun dan produksi sel T baru berkurang, sehingga banyak ilmuwan mengira fungsi utamanya berkurang di usia dewasa.
Namun, penelitian terbaru dari Mass General Brigham yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menantang pandangan lama tersebut. Peneliti menemukan bahwa kelenjar timus tetap memegang peran penting bagi kesehatan orang dewasa, risiko penyakit berat, dan potensi umur panjang.
“Kelenjar timus telah diabaikan selama berpuluh-puluh tahun. Organ ini mungkin menjadi potongan teka‑teki yang hilang untuk menjelaskan mengapa proses penuaan setiap orang berbeda, dan mengapa pengobatan kanker gagal pada sebagian pasien,” ujar Hugo Aerts, PhD, direktur Program Kecerdasan Buatan dalam Kedokteran (AIM) di Mass General Brigham, Senin (01 Juni 2026).
Terletak di rongga dada, tepat di belakang tulang dada dan di antara paru‑paru, kelenjar timus memproduksi dan “melatih” sel T. Sel T adalah sel darah putih yang berperan sebagai pasukan garda terdepan sistem imun, melawan infeksi dan mendeteksi sel kanker.
Dalam studi skala besar, tim peneliti menggunakan teknologi AI untuk menganalisis CT scan rutin dari 25.000 orang dewasa yang terlibat dalam uji coba skrining kanker paru‑paru nasional, serta 2.500 peserta dari Framingham Heart Study. AI mengukur ukuran, struktur, dan komposisi kelenjar timus untuk menentukan skor “kesehatan timus” setiap individu.
Hasilnya mengejutkan. Orang dewasa dengan skor kesehatan timus tinggi menunjukkan: 50 % lebih rendah risiko meninggal dunia akibat penyebab apa pun, 63 % lebih rendah risiko meninggal akibat penyakit kardiovaskular, dan 36 % lebih rendah risiko terkena kanker paru‑paru.
Peneliti berpendapat bahwa penurunan kesehatan kelenjar timus menurunkan keberagaman sel T. Akibatnya, sistem imun menjadi kurang mampu mengenali dan melawan ancaman baru, seperti pertumbuhan sel kanker atau infeksi kronis.
Studi terpisah melibatkan 1.200 pasien kanker menunjukkan bahwa kondisi kelenjar timus memengaruhi efektivitas pengobatan imunoterapi modern. Pasien dengan kelenjar timus yang lebih sehat merespons pengobatan jauh lebih baik. Mereka memiliki 37 % risiko lebih rendah terhadap pemburukan kanker (progression) dan 44 % risiko kematian yang lebih rendah.
Metode pemindaian AI untuk menilai kesehatan timus belum diadopsi secara luas dalam praktik klinis sehari‑hari. Namun, temuan ini membuka jalan baru untuk memantau daya tahan tubuh dan memprediksi risiko penyakit berbahaya sejak dini.
Dengan pemahaman bahwa kelenjar timus tetap berperan penting di usia dewasa, para peneliti dan praktisi medis kini dapat menilai kesehatan timus sebagai indikator risiko kesehatan jangka panjang. Penelitian ini menegaskan bahwa organ yang dulu dianggap “usang” masih memiliki potensi signifikan untuk memengaruhi kualitas hidup dan harapan hidup manusia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
