Kematian di RS Bandung Tidak Terkait Andes Virus Baru

Fitri A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Kematian di RS Bandung Tidak Terkait Andes Virus Baru

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, warganet ramai membahas laporan kematian pasien di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung karena hantavirus. Berita ini memicu spekulasi di media sosial tentang kaitan dengan kasus kontak erat hantavirus MV Hondius yang sedang dipantau di RSPI Sulianti Saroso.

Salah satu spekulasi menyebutkan bahwa hantavirus pada MV Hondius adalah jenis Andes Virus. Hal ini menimbulkan kekhawatiran penyebaran luas. Namun, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Andi Saguni menegaskan bahwa kedua kasus tidak berkaitan.

"Kasus ini di tahun 2025, tipenya HFRS, bukan tipe HPS yang di MV Hondius," jelas Andi, Rabu, 20 Mei 2026. "Artinya, kematian di Bandung tidak terkait jenis Andes virus atau yang ramai menyebar di MV Hondius."

Hantavirus dapat memicu dua sindrom utama. Yang pertama adalah HFRS—hemorrhagic fever with renal syndrome—yang umum di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia sejak 1991. Yang kedua adalah HPS—hantavirus pulmonary syndrome—yang biasanya disebabkan oleh Andes Virus dan lebih sering terjadi di benua Amerika.

Gejala HFRS biasanya berupa demam berdarah dan sindrom ginjal. Mortality rate relatif lebih rendah, antara 5‑15 % persen. Sedangkan HPS dapat mencapai 60 % kematian, terutama bila dipicu oleh Andes Virus.

Perbedaan penting lainnya adalah cara penularan. Andes Virus dapat menular antar manusia, sementara hantavirus yang menyebabkan HPS umumnya hanya menular melalui kontak dengan hewan pengerat.

Narasi kematian di Bandung bermula dari agenda sosialisasi hantavirus di RSHS. Dr. Elisabeth Hutajulu, spesialis penyakit dalam, menjelaskan kasus pasien yang meninggal setelah dirawat tiga hari. Pasien tersebut mengalami demam, nyeri perut kanan, urine pekat, dan kuning pada kulit serta mata. Kondisi memburuk hingga sesak napas, sehingga memerlukan intubasi.

Namun, saat pasien didiagnosis, keluarga menolak prosedur intubasi. Akibatnya, pasien meninggal. Dr. Hutajulu mengatakan, "Sayangnya, saat diedukasi, keluarganya menolak dan pasien meninggal,".

Video yang dipublikasikan menampilkan kondisi kontak erat hantavirus MV Hondius di Jakarta, dengan hasil PCR negatif dan isolasi. Video tersebut menjadi bahan diskusi di kalangan warganet.

Kematian di RSHS Bandung tidak berkaitan dengan Andes Virus yang menjadi sorotan MV Hondius. Perbedaan klinis antara HFRS dan HPS, serta cara penularan, menjadi kunci dalam memahami situasi ini.

HantavirusHFRSHPSAndes VirusRumah Sakit Hasan SadikinMV HondiusWarganet

Komentar

Memuat komentar...