Kemenkes Tegaskan Tidak Ada Kasus Ebola di Indonesia
Gambar atau konten salah?
Surabaya – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdeteksi kasus Ebola di tanah air. Meski begitu, kementerian tetap menyiapkan langkah antisipasi untuk memantau potensi penyebaran virus tersebut.
Menurut Kabiro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, ada empat langkah yang dapat dilakukan masyarakat. Ia menekankan pentingnya kebersihan dan kewaspadaan. “Langkah terbaik saat ini adalah tetap waspada dengan rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun, mengenakan masker jika merasa kurang sehat, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar. Hindari juga kontak langsung dengan orang atau hewan yang sakit,” ujarnya pada Kamis, 21 Mei 2026.
Aji menjelaskan bahwa Ebola merupakan penyakit infeksi virus dengan tingkat fatalitas rata-rata mencapai 50%. Saat ini, terdapat tiga jenis strain yang sering menimbulkan wabah: Ebola Virus Disease (EVD), Sudan Virus Disease (SVD), dan strain yang sedang berkembang di Kongo, Bundibugyo Virus Disease (BVD).
Di tingkat operasional, Kemenkes akan menyiapkan penyiagaan tenaga kesehatan di lapangan dan meningkatkan skrining bagi pelaku perjalanan internasional. Prosedur rujukan rumah sakit juga sudah disiapkan untuk kasus pelaku perjalanan yang menunjukkan gejala menyesuaikan dengan Ebola. Semua laporan dari pintu masuk Indonesia akan dipantau melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta Public Health Emergency Operation Center (PHEOC).
Meskipun pengawasan ditingkatkan, Aji mengimbau masyarakat agar tidak berlebihan dalam khawatir. Ia menekankan pentingnya tidak mudah terpengaruh informasi tidak valid atau hoaks yang beredar di media sosial. “Pokoknya prinsipnya kekuatan kita di surveillance-nya. Makanya surveillance itu betapa pentingnya,” tambahnya.
Wakil Menteri Kesehatan, dr. Benjamin Paulus Octavianus, sebelumnya menyatakan bahwa Indonesia belum mendeteksi kasus Ebola, namun kewaspadaan tetap dijalankan. Ia menyoroti bahwa pengintaian kasus, atau surveillance, menjadi kunci utama dalam menanggapi potensi wabah. “Pokoknya prinsipnya kekuatan kita di surveillance-nya. Makanya surveillance itu betapa pentingnya,” ujar dr. Benjamin kepada wartawan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada 21 Mei 2026.
Dengan langkah-langkah tersebut, Kemenkes menegaskan bahwa kesiapsiagaan dan edukasi masyarakat tetap menjadi fokus utama. Masyarakat diharapkan tetap waspada, menjaga kebersihan, dan mengikuti petunjuk resmi agar risiko penyebaran Ebola dapat diminimalkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
