Kemenkes Tingkatkan Skrining Hepatitis, Target 90% Deteksi

Rudi H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Kemenkes Tingkatkan Skrining Hepatitis, Target 90% Deteksi

Gambar atau konten salah?

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit hati kronis. Pemerintah menargetkan skrining dan deteksi dini yang lebih luas di masyarakat, karena penyakit hati kronis masih menjadi tantangan kesehatan besar di tanah air. Sekitar 70 juta penduduk diperkirakan mengalaminya, sementara di dunia penyakit hati kronis menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahun. Lebih dari separuh kematian tersebut terkait dengan infeksi Hepatitis B dan Hepatitis C yang sering tak terdeteksi sampai masuk stadium lanjut.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa penyakit hati berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui kondisinya ketika sudah mengalami sirosis atau kanker hati. Dalam forum Healthy Liver Awareness for Indonesia bertajuk “Bicara Tentang Hati: Solid Habit, Strong Liver” di Jakarta, Selasa, 02 Juni 2026, ia berkata, “Penyakit hati kronis memiliki prevalensi yang tinggi. Karena itu kita harus memperkuat strategi promotif dan preventif. Kerja di area pencegahan jauh lebih murah dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan pengobatan pada tahap lanjut.”

Deteksi dini menjadi kunci mencegah penyakit berkembang menjadi kondisi lebih berat. Saat ini, cakupan skrining hepatitis di Indonesia diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen. Target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan 90 persen kasus hepatitis terdeteksi dan 80 persen mendapatkan pengobatan. Menkes menegaskan, “Jangan merasa sehat lalu tidak mau diperiksa. Banyak penyakit kronis, termasuk penyakit hati, berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun. Ketika gejala muncul, sering kali penyakit sudah berada pada tahap lanjut.”

Untuk memperluas deteksi dini, pemerintah mengintegrasikan skrining penyakit hati ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pemeriksaan meliputi deteksi Hepatitis B melalui HBsAg serta penilaian fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis pemeriksaan darah. Selain itu, upaya pencegahan juga ditingkatkan lewat imunisasi Hepatitis B bagi tenaga kesehatan, pemberian profilaksis antivirus bagi ibu hamil dengan Hepatitis B, dan penerapan kebijakan Nutri‑Level mulai 2026. Kebijakan ini bertujuan membantu masyarakat mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak, yang menjadi faktor risiko penyakit hati akibat gangguan metabolik.

Prof. dr. David Handojo Muljono, ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), menambahkan bahwa banyak kasus Hepatitis B kronis tidak terdeteksi karena berlangsung tanpa gejala. Ia menekankan pentingnya perluasan akses skrining dan pengobatan di layanan kesehatan primer untuk mencegah penyakit berkembang menjadi sirosis maupun kanker hati.

Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis di fasilitas kesehatan tingkat pertama dan menjadikannya kebiasaan tahunan. Menurut Menkes, “Karena ketahuan lebih awal, peluang sembuh jauh lebih besar.”

Dengan langkah-langkah ini, pemerintah berharap dapat menurunkan angka prevalensi dan mortalitas penyakit hati kronis di Indonesia. Peningkatan skrining, imunisasi, dan kebijakan nutrisi menjadi komponen utama strategi jangka panjang untuk menjaga kesehatan hati bangsa.

Hepatitis BHepatitis Cskriningsirosiskanker hatiimunisasikebijakan nutrisi

Komentar

Memuat komentar...