Kementan Tetapkan Harga Acuan Rp26.500/kg, Stabil Harga Telur
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mengumumkan serangkaian langkah untuk menanggulangi penurunan harga telur ayam ras di kalangan peternak. Langkah-langkah tersebut dimulai pada 9 June 2026 saat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mempresentasikan kebijakan di kantor pusatnya di Jakarta Selatan.
Langkah pertama adalah penetapan Harga Acuan Pembelian (HAP) baru. Menteri menyatakan, “Pertama, HAP kami minta kepada seluruh pengumpul, pembeli telur, HAP-nya adalah Rp 26.500 per kilogram.” Dengan harga acuan ini, diharapkan peternak dapat menjual telur dengan nilai yang lebih stabil.
Selanjutnya, Kementan memberi arahan kepada Bulog untuk menyalurkan jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). “Kedua, Kementan juga sudah memberi arahan kepada Bulog untuk menyalurkan jagung pakan program SPHP untuk para peternak. Dengan begitu ongkos produksi telur dapat semakin murah.” Pemberian jagung pakan ini bertujuan menurunkan biaya produksi, sehingga harga jual telur dapat dipertahankan.
Langkah ketiga melibatkan koordinasi langsung dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Menteri mengaku, “Ketiga, kami menelepon langsung Ibu Kepala BGN (Nanik Sudaryati Deyang), dan beliau langsung menyanggupi, luar biasa beliau. Kami apresiasi Kepala BGN Ibu Nanik, luar biasa beliau. Insyaallah jumlahnya, kuantumnya akan ditingkatkan untuk BGN kita seluruh Indonesia,” ujar Amran. Peningkatan kuantitas BGN diharapkan memperkuat jaringan distribusi pakan.
Langkah keempat adalah pengiriman surat rekomendasi ke Kementerian Investasi dan Hilirisasi serta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Menteri menegaskan, “Keempat, Kementan telah berkirim surat rekomendasi ke Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) agar tidak mengeluarkan rekomendasi penanaman modal untuk sektor budidaya ayam, baik untuk ayam potong maupun petelur. Negative list investasi itu untuk sektor budidaya ayam. Kalau bisa, rakyat Indonesia sudah sanggup. Kalau ada investor lain, suruh bergerak di sektor lain, apakah di pabrik gula, hilirisasi tambak, tapi jangan mengganggu ekonomi rakyat kecil supaya ini sustainable,” tegasnya.
Di kesempatan yang sama, Ketua Pinsar Petelur Nasional (PPN), Yudianto Yosgiarso, menjelaskan penyebab penurunan harga. Ia menuturkan, “Anjloknya harga telur di sejumlah wilayah terjadi karena oversupply alias produksi berlebih. Anjloknya kita sampai di Jawa Timur itu Rp 21.500, kemudian di Jawa Tengah itu sekitar Rp 22.500, di Jawa Barat, Jakarta khususnya sekitar harga Rp 22.500-23.000,” ucap Yudianto. Ia menambahkan bahwa kondisi ini sangat memberatkan peternak.
Yudianto menyoroti dampak geopolitik pada harga pakan. “Ini sangat memberatkan dan memukul kami, dan apalagi dengan isu geopolitik yang saat ini terjadi, di mana nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melambung tinggi terhadap rupiah yang membuat harga pakan ayam petelur ikut melonjak. Ini sangat memberatkan dan memukul kami, dan apalagi dengan isu geopolitik yang saat ini terjadi, di mana nilai tukar dolar juga melambung tinggi sehingga menyebabkan harga pakan pun melonjak tinggi semuanya,” tutur Yudianto.
Untuk mengatasi tekanan harga, Yudianto mengajak peternak di seluruh Indonesia untuk melaporkan setiap penjualan telur di bawah Rp 26.500 kepada Badan Pangan Nasional. “Maka kami sampaikan kepada seluruh peternak di seluruh Indonesia, apabila setelah hari ini masih terjadi penekanan-penekanan ataupun pembelian-pembelian telur di bawah harga Rp 26.500, mungkin bisa segera melaporkan kepada Badan Pangan Nasional,” ujar Yudianto.
Dengan serangkaian kebijakan ini, Kementan berusaha menstabilkan harga telur di pasar peternak, menjaga kesejahteraan peternak, dan mencegah gangguan ekonomi bagi masyarakat kecil. Langkah-langkah tersebut mencerminkan upaya pemerintah untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan di sektor peternakan ayam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Tutup di Zona Hijau, Naik 7,5% ke 5.746,64 Pasar
OJK Pantau Dampak Kenaikan BI Rate pada Perbankan Nasional
Luhut: Kenaikan BI Rate 5,5% Bertujuan Ngerem Rupiah
BI Ramalkan Rupiah Menguat ke Rp 16.800‑17.500 per US$ 2027
Rasio Klaim JKN Meningkat 108,72%: BPJS Usahakan Stabilitas
Rumor Chatib Basri Jadi Menteri Keuangan Batal, DEN Tegaskan
Berita Terbaru
VW Prediksi Penjualan Mobil Bensin Turun 97% pada 2035
Persona 6: Rilis Belum Tertetapkan, Tersedia PS5, Xbox, PC
Indeks CFX10: Acuan Pasar Kripto Indonesia Diluncurkan
IHSG Tutup di Zona Hijau, Naik 7,5% ke 5.746,64 Pasar
OJK Pantau Dampak Kenaikan BI Rate pada Perbankan Nasional
Deru: Kasus Bupati & Wakil Bupati Tak Ganggu Pemerintahan
