Keracunan MBG di Cianjur: Nitrit 169x Batas Aman Terdeteksi

Maya K. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 123 dibaca
Bisik.id
Keracunan MBG di Cianjur: Nitrit 169x Batas Aman Terdeteksi

Gambar atau konten salah?

Badan Gizi Nasional mengumumkan hasil investigasi atas dugaan keracunan yang terjadi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Mulai Rabu, 15 April 2026 hingga Jumat, 17 April 2026, setidaknya 63 balita dan ibu menyusui melaporkan gejala keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan melalui posyandu di dua desa di Kecamatan Leles.

Laporan akhir investigasi menunjukkan tidak ada cemaran bakteri pada sebagian besar menu makanan yang disajikan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna. Namun, ditemukan cemaran zat kimia nitrit pada menu tumis pakcoy yang melebihi batas normal yang ditetapkan oleh The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA).

“Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari. Tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg, maka temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman,” ujar Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, dalam postingan resmi Sidak BGN, dikutip Selasa, 12 Mei 2026.

Hasil tes Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat menunjukkan bahwa menu pada tanggal 13, 14, 15, 17, dan 18 April 2026 terbukti negatif untuk Salmonella sp, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Bacillus cereus.

Arie menjelaskan bahwa sebagian buah dan sayuran memang dapat mengandung nitrit, dan kadar tersebut dapat meningkat akibat aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit. Sumber cemaran lain dapat berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan, air resapan tercemar kotoran manusia atau hewan, atau limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian.

Nitrit dapat memicu kondisi methaemoglobinemia, yakni penurunan kemampuan hemoglobin dalam darah membawa oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh dapat terasa lemas, muncul sesak napas, karena sel-sel tubuh kekurangan oksigen.

Investigasi ini menyoroti pentingnya pengawasan mutu makanan dalam program distribusi gizi. Meskipun tidak ditemukan bakteri, tingkat nitrit yang tinggi pada menu tertentu menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut terhadap sumber bahan baku dan proses pengolahan makanan di SPPG Leles 2. Program MBG tetap menjadi upaya penting untuk memenuhi kebutuhan gizi dasar, namun hasil ini mengingatkan bahwa keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dalam setiap inisiatif distribusi makanan publik.

Badan Gizi NasionalProgram Makan Bergizi GratisnitritSPPG Leles 2JECFApengawasan mutu makanankeamanan pangan

Komentar

Memuat komentar...