Keracunan MBG Temanggung: 222 Siswa & Guru Dirawat Di RSUD

Wulan M. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 107 dibaca
Bisik.id
Keracunan MBG Temanggung: 222 Siswa & Guru Dirawat Di RSUD

Gambar atau konten salah?

Pada Senin, 18 Mei 2026, ratusan siswa dan guru di Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, diduga mengalami keracunan setelah menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejak kejadian, dua orang masih dirawat di RSUD Temanggung. Menurut data, total korban keracunan mencapai 222 orang, termasuk siswa dan guru, yang tersebar di 8 sekolah, mulai dari tingkat TK hingga SMK. Semua sekolah tersebut menerima paket MBG dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tlogorejo.

Menu MBG yang dibagikan pada hari itu meliputi nasi kuning, telur dadar, abon, tempe orek, timun, tomat, dan buah semangka. Guru SMPN 4 Temanggung, Ismu Alim, yang juga menjadi PIC MBG, menjelaskan bahwa siswa mulai mengeluhkan mual dan diare pada malam hari. Pada Selasa, 19 Mei 2026, banyak siswa tidak masuk sekolah atau mengajukan izin karena diare. Seorang guru di SMPN 4 Temanggung juga dirawat di RSUD setelah menderita diare sejak dini hari pukul 01.00 WIB.

Ismu Alim memberi kronologi lengkap kepada wartawan pada Kamis, 21 Mei 2026: “Kronologi dugaan keracunan paket MBG di SMPN 4 Temanggung, Senin, 18 Mei 2026 dengan menu nasi kuning, telur dadar, orek tempe, abon, semangka, mentimun, dan tomat,” kata Ismu. Menurutnya, sekolah menerima 600 paket MBG pada pukul 10.00 WIB. Paket tersebut dibagikan kepada siswa kelas 9 pada pukul 10.30 WIB, kemudian kepada siswa kelas 7 dan 8 pada pukul 11.35 WIB.

Pada Selasa, 19 Mei 2026, banyak murid absen karena keluhan diare, sakit perut, mual, muntah, dan pusing. Laporan mulai mengalir ke grup koordinasi PIC pada pukul 08.08 WIB. Kondisi darurat ini memaksa dua murid SMPN 4 Temanggung dirawat di RSUD Temanggung dan Rumah Sakit Gunung Sawo. Seorang guru masuk ke RSUD pada pukul 16.00 WIB setelah menderita diare sejak pukul 01.00 WIB.

Setelah kejadian, Ismu melakukan pendataan melalui evaluasi digital menggunakan Google Form. Form pertama dirilis pada Selasa, 19 Mei 2026 pukul 21.00 WIB dan berhasil menjaring 340 responden. Form kedua, lebih detail, diluncurkan pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 07.00 WIB dan mendapatkan 240 responden. Tim MBG SMPN 4 Temanggung menindaklanjuti data dengan verifikasi ulang menggunakan formulir dari SPPG Tlogorejo.

Hasil akhir pendataan menunjukkan dampak luas: 232 murid serta 16 guru dan tenaga administrasi sekolah mengalami gejala gangguan pencernaan, mulai dari sakit perut hingga pusing, mual, muntah, dan diare. Ismu menambahkan, “sampai saat ini masih ada guru yang dirawat di RSUD dan belum pulang. Mereka menjalani perawatan sejak Selasa, 19 Mei 2026 sore.” Satu guru masih dirawat, sementara satu siswa sudah kembali.

Pada Rabu, 20 Mei 2026, Dinas Kesehatan melakukan wawancara di sekolah dan mengambil data lebih lanjut. “Kami langsung ke lokasi untuk bisa menindaklanjuti dari laporannya. Sehingga kami bisa segera laporan ke pimpinan kami,” ujar Ulfi Rizki Asmarani, Koordinator Wilayah SPPG Temanggung. Ia menegaskan bahwa SPPG Tlogorejo dihentikan sementara sampai hasil uji laboratorium Dinkes tersedia. “Terhitung mulai hari ini, Kamis, 21 Mei 2026,” jelasnya.

Kepala SPPG Tlogorejo, Soleh Jamaludin, mengungkapkan bahwa penerima manfaat SPPG Tlogorejo mencakup 2.061 siswa dari 14 sekolah. Menu pada hari Senin, 18 Mei 2026, terdiri dari nasi kuning tanpa santan, telur dadar, abon, orek tempe, kacang, dan buah semangka. Dinas Kesehatan mengunjungi SPPG pada Rabu, 20 Mei 2026 untuk mengambil sampel makanan.

Tri Winarno, Sekda Temanggung, dihubungi untuk konfirmasi laporan keracunan MBG. Ia menyampaikan, “Malam tadi (Rabu), 1 anak telah pulang dari RS Gunung Sawo. 1 anak dan 1 guru masih di RSUD. Itu informasinya. Hari ini DKK turun ke lapangan,” pesan singkatnya. Tri menegaskan bahwa laporan masih dalam bentuk telepon atau lisan, namun akan segera disampaikan secara resmi.

Plt Kepala SMPN 4 Temanggung, Tri Marwanti, menyatakan tindakan pertama setelah menerima laporan adalah menghentikan distribusi MBG. “Kami langsung menghentikan MBG tersebut dengan maksud agar tidak terulang kembali,” kata Tri. SPPG Tlogorejo dihentikan sementara, sementara SPPG Tlogorejo akan dievaluasi setelah hasil uji laboratorium Dinkes tersedia.

Keracunan MBG di Temanggung menyoroti pentingnya pengawasan mutu makanan. Meskipun masih dalam proses investigasi, data menunjukkan keracunan memengaruhi lebih dari dua ratus siswa dan puluhan guru. Langkah-langkah pengendalian, termasuk penghentian sementara distribusi, diharapkan dapat mencegah kejadian serupa di masa depan.

Keracunan MBGTemanggungSPPG TlogorejoRSUD TemanggungDinkesNasi kuningMakan Bergizi Gratis

Komentar

Memuat komentar...