Kesawan Medan: Dari Sawah ke Pusat Bisnis, Sejarah Hidup
Gambar atau konten salah?
Kesawan adalah kawasan bersejarah di Kota Medan yang masih menjadi ikon kota tua. Meskipun ramai, kawasan ini menyimpan jejak panjang perkembangan ekonomi, sosial, dan politik sejak masa kolonial Belanda.
Menurut Kiki Maulana Affandi, dosen sejarah Universitas Sumatera Utara, asal-usul nama kawasan ini berasal dari kata “kesawahan” karena dulunya lahan ini berupa sawah. “Kalau kita bicara asal‑usulnya, ada yang menyebut Kesawan itu dari kata kesawahan, karena dulunya kawasan ini memang berupa lahan sawah. Seiring waktu dan perkembangan kota, penyebutan itu kemudian berubah menjadi Kesawan,” ujarnya.
Perkembangan Kesawan tidak terlepas dari kehadiran perusahaan perkebunan tembakau besar milik Belanda, Deli Maatschappij. Perusahaan ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Medan pada abad ke‑19. “Ketika Deli Maatschappij membuka pusat aktivitasnya di Medan, kawasan Kesawan ikut berkembang menjadi pusat perdagangan dan permukiman. Banyak kelompok masyarakat datang dan menetap di sini, mulai dari Melayu, Karo, Arab, India, hingga Tionghoa,” tambahnya.
Memasuki era 1880‑an, kawasan ini mulai dipenuhi pertokoan, terutama milik etnis Tionghoa. Pertumbuhan industri perkebunan yang pesat turut mendorong Kesawan menjadi pusat ekonomi yang maju di Medan.
Di Kesawan, berbagai fasilitas penting mulai berdiri. “Di Kesawan itu kemudian berdiri berbagai fasilitas penting, mulai dari gedung administrasi, pusat perdagangan, hingga fasilitas publik. Misalnya Gedung AVROS, kantor percetakan, Warenhuis yang dikenal sebagai supermarket pertama, kemudian ada juga Pajak Ikan atau Vischmarkt, Pasar Hindu, Masjid Gang Bengkok, sampai restoran legendaris seperti Tip Top,” ungkapnya.
Kesawan tidak hanya pusat ekonomi, tetapi juga memiliki peran penting dalam dinamika sosial dan politik. Kawasan ini menjadi titik berkumpul berbagai aktivitas masyarakat, bahkan setelah Indonesia merdeka. Sejumlah sumber sejarah mencatat bahwa Kesawan pernah menjadi pusat kegiatan sosial, budaya, dan politik di Medan. Bangunan bersejarah seperti Tjong A Fie, rumah Bierbrouwerij, hingga Masjid Raya Medan menjadi bukti keberagaman dan perkembangan kawasan ini. Bahkan, peristiwa penting seperti Konferensi Medan tahun 1947 juga berlangsung di kawasan ini, yang membahas persatuan Indonesia dan perjuangan melawan penjajahan.
Kini, Kesawan menjelma menjadi salah satu landmark Kota Medan yang tetap hidup. Setiap akhir pekan, kawasan ini ramai dikunjungi masyarakat yang menjadikannya sebagai ruang publik untuk bersantai sekaligus menikmati nuansa sejarah kota.
“Kesawan hari ini adalah contoh bagaimana ruang sejarah bisa tetap relevan. Ia bukan hanya menjadi simbol masa lalu, tapi juga bagian dari kehidupan masyarakat kota saat ini,” tutup Kiki.
Dengan sejarah panjangnya, Kesawan tidak sekadar kawasan tua, melainkan saksi perjalanan Kota Medan dari wilayah persawahan menjadi pusat ekonomi dan peradaban yang terus berkembang hingga kini.
- Masjid Gang Bengkok: Dibangun oleh Tjong A Fie sebagai bentuk penghormatan kepada Kesultanan Deli.
- Nederlandsch Handel Maatschappij (1888): Kini difungsikan sebagai kantor perbankan di kawasan inti kota.
- Kamp Lembah (1909): Bekas percetakan Sumatra Post, kini menjadi kantor Dinas Pariwisata Sumut.
- Witte Sociëteit (1879): Dulunya tempat elite perkebunan, kini dimanfaatkan sebagai gedung perbankan.
- Rumah Tjong A Fie: Ikon sejarah pengusaha Tionghoa di Medan.
- Restoran Tip Top: Tetap eksis sebagai restoran legendaris sejak era kolonial.
- London Sumatera: Gedung perkebunan pertama di Medan yang memiliki fasilitas lift.
- Pasca kebakaran: Dibangun ulang dengan material lebih kokoh seperti batu bata.
- 1913‑1937: Berkembang pesat sebagai pusat permukiman, perdagangan, dan hiburan.
- 1938‑1962: Bangunan modern mulai bermunculan.
- 1963‑1995: Menjadi kawasan perkantoran pemerintah dan swasta.
- 1996‑2004: Perubahan besar menjadi ruko bertingkat, karakter lama mulai memudar.
- 2002‑2003: Didorong menjadi pusat kuliner dengan hadirnya Kesawan Plaza.
- 2013: Jalan Kesawan berganti nama menjadi Jalan Ahmad Yani.
- Sejak 2013: Kembali ramai sebagai pusat bisnis dan aktivitas ekonomi di Kota Medan. Dipenuhi kafe, restoran, dan tempat nongkrong anak muda. Menjadikan ruang publik favorit terutama saat akhir pekan.
Kesawan tetap menjadi contoh bagaimana ruang bersejarah dapat beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Ia tetap menjadi tempat berkumpul, berbelanja, dan menikmati sejarah, sekaligus memperlihatkan bagaimana kota Medan telah berubah namun tetap menghargai akar budayanya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
