Kilang Cilacap: Produksi Ramah Lingkungan untuk Kemandirian Energi

Dewi M. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 117 dibaca
Bisik.id
Kilang Cilacap: Produksi Ramah Lingkungan untuk Kemandirian Energi

Gambar atau konten salah?

Cilacap - Kilang Cilacap adalah salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar yang dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Saat ini, kilang ini menjadi produsen avtur tertinggi di Indonesia. Sebelum RDMP Balikpapan selesai dan Kilang Balikpapan beroperasi penuh, Kilang Cilacap memiliki kapasitas pengolahan terbesar di Indonesia, mencapai 348 ribu barrel per hari. Hal ini menjadikan kilang tersebut sangat penting bagi kemandirian dan ketahanan energi Indonesia.

Namun, tantangan perubahan iklim saat ini membuat operasional kilang tidak hanya berfokus pada produksi bahan bakar fosil. Inovasi dan adaptasi menjadi kunci untuk mencapai kemandirian dan ketahanan energi yang berkelanjutan. Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional menjelaskan inisiatif Pertamina untuk memproduksi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

Kilang Cilacap tidak hanya memproduksi produk BBM, tetapi juga non-BBM, termasuk lube base dan aspal. Selain itu, kilang ini juga memproduksi nabati fuel, yaitu bahan bakar yang berasal dari minyak nabati, terutama turunan produk kelapa sawit. Produk ini lebih ramah lingkungan dan memiliki potensi besar dalam pengurangan emisi.

Salah satu produk unggulan dari kilang ini adalah Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan sustainable aviation fuel (SAF) dengan komposisi nabati fuel mencapai 2,4%. Produk ini telah melalui uji coba komersial dan digunakan oleh pesawat Garuda jenis Boeing 737-800.

Kilang ini, yang dikenal sebagai TDHT, memiliki kapasitas untuk memproduksi HVO dan SAF dengan kualitas yang bersaing di tingkat internasional. Pertamina berkomitmen untuk mengembangkan produk ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Melalui kerja sama dengan beberapa universitas dan lembaga penelitian, Pertamina melakukan berbagai uji coba untuk memastikan keamanan dan efisiensi produk yang dihasilkan.

Green refinery yang sedang dibangun di Kilang Cilacap memiliki kapasitas 3.000 bph untuk minyak nabati, berfungsi untuk menghasilkan HVO dan SAF. Kilang ini telah mendapatkan sertifikasi internasional ISCC, menunjukkan komitmen Pertamina dalam memproduksi bahan bakar yang ramah lingkungan.

Kedepannya, Pertamina berencana untuk menggunakan minyak jelantah sebagai bahan baku. Minyak jelantah, yang merupakan limbah, dapat diolah menjadi produk ramah lingkungan dengan komposisi 3%. Dengan cara ini, Pertamina berharap dapat mengurangi emisi hingga 30% dibandingkan dengan produk konvensional.

Kilang Cilacap beroperasi dengan empat mode, menghasilkan diesel, avtur, HVO, dan SAF. Saat ini, kilang ini mampu memenuhi 100% kebutuhan nasional untuk produk diesel dan avtur, tanpa perlu melakukan impor.

Namun, ada tantangan dalam membangun green refinery. Diperlukan kolaborasi antara semua pihak, termasuk produsen, pemasok, dan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan produksi SAF. Pertamina berharap ada regulasi yang jelas dari pemerintah untuk mendukung penggunaan produk ramah lingkungan ini.

Kilang Cilacap juga dikenal dengan Kilang Langit Biru Cilacap, yang dibangun pada tahun 2019 untuk memproduksi gasoline dengan RON 92 yang lebih ramah lingkungan. Semua produk gasoline di Cilacap memiliki minimum RON 92, sebagai upaya Pertamina untuk menjaga kualitas lingkungan.

Pertamina berkomitmen untuk terus menyediakan energi yang aman dan ramah lingkungan. Dengan keberhasilan menghasilkan HVO dan SAF, serta pengolahan minyak jelantah, Pertamina menunjukkan dedikasi dalam mendukung program net zero emission 2060.

Ke depan, Pertamina mengharapkan dukungan dari semua stakeholder untuk memastikan keberhasilan inisiatif ini dan berkontribusi pada pengurangan emisi yang signifikan.

Kilang CilacapPertaminaBBM ramah lingkungangreen refineryminyak nabatiemisiSAFkemandirian energi

Komentar

Memuat komentar...