Kimia Farma Cetak Laba Rp54 M, Balik dari Rugi

Cahyo S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Kimia Farma Cetak Laba Rp54 M, Balik dari Rugi

Gambar atau konten salah?

PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) akhirnya mencatatkan laba bersih pada semester pertama tahun 2026. Ini kabar baik setelah sebelumnya perusahaan farmasi pelat merah itu mengalami kerugian ratusan miliar rupiah di periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit, laba bersih KAEF mencapai Rp 54,07 miliar hingga Juni 2026. Angka ini berbalik arah dibandingkan semester I-2025 yang mencatat rugi bersih sebesar Rp 135,61 miliar. Pendapatan penjualan bersih perusahaan juga naik 7,6% menjadi Rp 4,70 triliun, dari sebelumnya Rp 4,36 triliun.

Laba usaha KAEF melonjak 111,3% menjadi Rp 152,21 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, laba usaha hanya sebesar Rp 72,01 miliar. Perusahaan menyebut semua pencapaian ini berasal dari penguatan fundamental bisnis yang terus mereka jalankan.

Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam, dalam keterangan tertulis pada Rabu, 05 Agustus 2026, mengatakan bahwa perusahaan mendapat dukungan dan arahan dari Danantara. "KAEF dengan dukungan dan arahan Danantara terus memperkuat fondasi bisnis melalui pengelolaan portofolio, efisiensi operasional, penguatan produksi, dan perbaikan tata kelola," ujarnya.

Djagad menambahkan, kinerja positif di semester I-2026 menunjukkan proses transformasi berjalan ke arah yang lebih sehat dan terukur. Menurutnya, dengan bisnis yang semakin sehat, KAEF memiliki ruang yang lebih kuat untuk mendukung ketersediaan obat, layanan kesehatan, dan program prioritas nasional.

Namun, situasi geopolitik di Timur Tengah masih membayangi. Djagad mengakui bahwa ketegangan di kawasan tersebut menekan KAEF, terutama karena kenaikan harga bahan baku dan bahan kemasan yang sebagian besar masih diimpor. Perusahaan terus memantau perkembangan ini, termasuk dampaknya terhadap stabilitas rantai pasok dan biaya produksi.

Untuk mengatasi tekanan itu, KAEF melanjutkan program efisiensi. Beberapa langkah yang diambil antara lain memperkuat pengendalian biaya dan melakukan penyesuaian harga secara terukur pada sejumlah produk. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga pasokan, kualitas produk, dan margin keuntungan di tengah kenaikan harga bahan baku.

Ada juga perbaikan pada rasio beban usaha terhadap penjualan. Rasionya turun dari 34,2% pada semester I-2025 menjadi 33,2% di semester I-2026. Penurunan ini menunjukkan bahwa efisiensi biaya mulai berdampak pada struktur operasional perusahaan.

Transformasi bisnis KAEF berjalan secara bertahap melalui enam fokus utama:

  • Ketahanan modal kerja
  • Penguatan kompetensi sumber daya manusia
  • Digitalisasi proses bisnis
  • Efisiensi operasional
  • Penguatan tata kelola perusahaan (GCG)
  • Sinergi antar entitas dalam Kimia Farma Group

Perusahaan farmasi pelat merah ini masih harus menghadapi tantangan dari luar, terutama fluktuasi harga bahan baku impor akibat ketegangan geopolitik. Namun, perbaikan laba dan efisiensi biaya yang mulai terlihat memberi sinyal bahwa langkah transformasi yang diambil mulai menunjukkan hasil. Kinerja semester I-2026 ini menjadi tolok ukur awal apakah tren positif bisa berlanjut hingga akhir tahun.

KAEFlaba bersihsemester I-2026efisiensi operasionaltransformasi bisnisbahan baku imporgeopolitik

Komentar

Memuat komentar...