Kista Ovarium: Kenali Jenis, Risiko, dan Solusi Laparoskopi
Gambar atau konten salah?
Kista ovarium sering menjadi topik yang menakutkan bagi banyak perempuan. Meskipun terdengar serius, kondisi ini sebenarnya cukup umum, bahkan muncul di usia remaja. Perempuan berusia dua puluhan hingga lima puluhan tidak luput dari risiko kista disfungsional yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi.
Secara medis, kista ovarium dibagi menjadi dua kategori: kista fungsional dan kista disfungsional. Kista fungsional terbentuk secara alami selama siklus menstruasi. Mereka muncul dan hilang seiring berjalannya waktu, dan biasanya tidak menimbulkan masalah. Sebaliknya, kista disfungsional muncul akibat ketidakseimbangan hormon dan dapat menimbulkan gejala yang lebih serius.
“Jadi setiap wanita, dalam fase reproduksi atau fase subur sebelum mereka menopause, mereka pasti akan memiliki kista fungsional atau hormonal. Setiap bulan ketika mereka mengalami siklus menstruasi, itu kan selalu dihasilkan sel telur yang matang ya,” kata dokter spesialis obstetri & ginekologi dr Med. Firman Santoso, SpOG dari Brawijaya Hospital Antasari saat berbincang di Jakarta, Kamis (07 Mei 2026). “Nah itu kita sebutnya kita yang fungsional, yang come and gone terus berlangsung sepanjang umur hidupnya sampai pasien ini menopause. Baru nanti kista fungsional tidak akan ada lagi,” sambungnya.
Di sisi lain, kista disfungsional memiliki banyak varian. Yang paling sering ditemui adalah kista endometriosis, di mana jaringan endometrium tumbuh di luar rahim. Kista ini dapat menyebabkan nyeri dan masalah kesuburan.
“Kemudian ada juga kista jenis dermoid, yang merupakan kista bawaan. Jadi isinya itu rambut, gigi, tulang. Jadi kalau menurut masyarakat kita kayak disantet, padahal bukan,” tambah dr Firman. Kista dermoid biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi jika tumbuh besar dapat menekan organ lain.
“Kemudian ada jenis kista-kista yang lain, seperti jenis mucinous cystadenoma, serous cystadenoma. Kemudian kista jenis lain yang bercampur dengan komponen tumor jinak, misalnya fibroma itu isinya bukan lagi cairan tapi merupakan tumor padat,” lanjutnya. Semua jenis ini memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan tidak ada potensi kanker.
Menurut dr Firman, pola hidup modern sering menjadi pemicu utama munculnya kista disfungsional. Faktor-faktor seperti kelebihan berat badan, kurang olahraga, konsumsi gula tinggi, karbohidrat berlebih, dan kekurangan protein dapat memicu ketidakseimbangan hormon.
“Yang paling sering kami temukan itu gaya hidup sih. Artinya kalau pola hidupnya tidak sehat, mereka terlalu gemuk, tidak pernah berolahraga, pola makannya terlalu banyak high sugar, terlalu tinggi karbo, lack of protein,” ujarnya. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kista endometriosis, mucinous cystadenoma, serous cystadenoma, dan lain-lain.
Selain faktor gaya hidup, perempuan yang sudah berusia lanjut—lebih dari 60 tahun—harus waspada terhadap kemungkinan kanker ovarium. Kanker ini seringkali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga deteksi dini sangat penting.
Beruntungnya, teknologi medis kini sudah cukup canggih. Banyak kasus kista dapat diatasi dengan laparoskopi, prosedur operasi minimal invasif yang menggunakan sayatan kecil dan kamera khusus.
“Bahkan kalau misalnya ada kanker ovarium, kalau stadiumnya sangat awal, kami benar-benar bisa tangani dengan baik. Bahkan metode operasinya seperti yang dilihat tadi, dengan laparoskopi,” kata dr Firman.
“Tidak buka perut. Jadi bayangin, kamu cuma bikin 3-4 lubang kecil, masing-masing 5 mm, setengah cm bayangkan. Jadi operasi, 1-2 hari pasien sudah boleh pulang,” tutupnya.
Secara keseluruhan, kista ovarium—baik fungsional maupun disfungsional—merupakan kondisi yang cukup umum. Penyebabnya berkisar dari ketidakseimbangan hormon hingga gaya hidup modern yang tidak sehat. Deteksi dini dan perawatan tepat, seperti laparoskopi, dapat mengurangi risiko komplikasi serius, termasuk kanker ovarium. Perempuan di semua usia disarankan untuk menjaga pola hidup sehat dan rutin memeriksakan kondisi ovarium mereka, guna meminimalkan risiko dan memastikan kesehatan reproduksi tetap terjaga.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem