Kukis Betawi Manado: Kue Tradisional Penjual Kopi Tawang

Ika P. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 104 dibaca
Bisik.id
Kukis Betawi Manado: Kue Tradisional Penjual Kopi Tawang

Gambar atau konten salah?

Kukis Betawi adalah kue tradisional yang unik di Manado, Sulawesi Utara. Nama kukis ini mudah dikenali di penjual jajanan tradisional, baik di pasar maupun di lapak-lapak kaki lima di seluruh kota. Banyak wisatawan yang memilih kukis Betawi sebagai oleh‑oleh ketika berkunjung ke Manado.

Harga kukis Betawi biasanya Rp 2.000 per biji, namun bisa bervariasi tergantung ukuran dan tempat penjualnya. Kukis ini terbuat dari adonan tepung beras pulo (ketan) yang digoreng lalu dilapisi gula aren atau gula merah. Setelah digoreng, kukis biasanya disajikan bersama kopi itang—kopi hitam—pada pagi, sore, atau saat smokol.

Istilah kukis berasal dari bahasa Belanda, *koekje*, yang artinya kue kecil. Betawi sendiri adalah sebutan bagi masyarakat asli Jakarta. Sementara smokol adalah istilah Manado untuk makan di waktu tanggung, yaitu antara sarapan pagi dan makan siang, setara dengan “brunch” dalam bahasa Inggris.

Rasa kukis Betawi tidak hanya manis dan gurih, tapi juga memiliki tekstur renyah saat pertama kali digigit. Hal ini disebabkan oleh lapisan gula merah yang sudah mengering. Bagian dalam kukis memiliki tekstur berserat dan kenyal, berkat campuran tepung ketan dan kelapa parut. Kombinasi ini menghasilkan rasa gurih lembut di dalam dan manis renyah di luar, berbeda dari kue tradisional lain.

Di Jakarta, kukis Betawi dikenal dengan sebutan kue gemblong. Proses pembuatannya cukup sederhana: campur tepung ketan putih, kelapa muda parut, air, dan garam hingga rata. Bentuk adonan menjadi pipih lonjong, lalu goreng di minyak panas dengan nyala api sedang sampai kecoklatan. Angkat dan tiriskan.

Untuk lapisan gula, cairkan gula aren atau gula merah dalam wajan dengan nyala api sedang, aduk hingga larut. Setelah berbuih dan agak kental, matikan kompor, lalu masukkan kukis Betawi. Aduk terus sampai gula merata dan kering. Kukis siap dinikmati bersama kopi hitam hangat.

Artikel ini ditulis Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara. (wsw/wsw)

Kukis BetawiManadoSulawesi Utarakopi itangtepung ketangula arenkelapa parut

Komentar

Memuat komentar...