Kuliner Kelapa: Kue Tradisional Menarik bagi Turis Indonesia
Gambar atau konten salah?
Bumi Nyiur Melambai adalah julukan yang sering dipakai untuk provinsi Sulawesi Utara. Julukan ini tidak hanya sekadar nama, melainkan mencerminkan banyak hal. Provinsi ini terkenal dengan perkebunan kelapa yang luas. Dari udara, pemandangan daun kelapa yang tertiup angin tampak seperti menari, menambah nuansa hangat bagi para wisatawan.
Keindahan alam, keramahan penduduk, dan kekayaan hasil kelapa menjadi pilar ekonomi daerah. Sejak masa kolonial Belanda, kelapa Sulawesi Utara sudah dikenal. Orang Belanda mengucapkan “klapper” untuk kelapa, sedangkan dalam bahasa Belanda kelapa disebut “kokosnoot”. Dari sini lahirlah “klapertart”, sebuah kue yang menunjukkan cinta Belanda terhadap buah tropis ini. Mereka bahkan menyebut santan dengan istilah “klappermelk”. Kini, Sulawesi Utara masih menjadi eksportir tepung kelapa dan crude coconut oil (CCO) ke Belanda.
Berbagai kue khas Manado berbahan kelapa menambah daya tarik bagi pecinta kuliner. Kukis koyabu terbuat dari kelapa parut, tepung ketan, dan gula merah, dibungkus daun pandan lalu dikukus. Kukis bobengka menggunakan kelapa parut (biasanya kelapa mengkal), tepung terigu atau ketan, gula merah, dan kayu manis. Ada juga kukis tetu atau kue perahu, yang berisi santan, tepung terigu, dan gula merah, dikukus di wadah daun pandan berbentuk perahu. Kukis kelapa merupakan kue kering gurih, menggunakan kelapa parut sangrai, tepung beras, dan kuning telur. Kukis lampu-lampu mirip kukis tetu, terbuat dari tepung terigu dan santan, dengan gula merah di dasar adonan. Terakhir, kukis panada adalah pastel goreng dengan isian ikan cakalang pedas dan parutan kelapa.
Berbagai pilihan kukis ini membuat para wisatawan bertanya-tanya: kukis mana yang paling menarik untuk dibawa pulang? Setiap jenis kukis menampilkan cita rasa khas yang tak kalah menggoda.
Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto, seorang penulis di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.
Keberagaman kuliner berbahan kelapa di Sulawesi Utara menunjukkan betapa pentingnya buah ini bagi budaya dan ekonomi daerah. Dari sejarah kolonial hingga produk ekspor modern, kelapa tetap menjadi simbol kekayaan alam dan tradisi yang terus dipelihara.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026