Larangan HP Sekolah Belanda Tingkatkan Konsentrasi Siswa

Rini S. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
Larangan HP Sekolah Belanda Tingkatkan Konsentrasi Siswa

Gambar atau konten salah?

Belanda telah mengimplementasikan larangan penggunaan HP di sekolah sejak dua tahun lalu. Kebijakan ini bertujuan mengurangi distraksi dan meningkatkan konsentrasi siswa. Sejak diterapkan, HP, smartwatch, dan tablet tidak lagi diperbolehkan di ruang kelas, koridor, maupun kantin.

Larangan ini muncul melalui kesepakatan nasional antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan guru, tanpa perundangan formal. Pendekatan ini dipilih agar aturan dapat diterapkan lebih cepat dan mendapat dukungan luas. Dengan begitu, semua pihak dapat menyesuaikan diri tanpa menunggu proses legislasi.

Di Cygnus Gymnasium Amsterdam, aturan tersebut ditegakkan secara tegas. Sebuah papan berwarna kuning di area sekolah mengingatkan siswa untuk menyimpan ponsel di loker sebelum masuk. Di gerbang, terpatri slogan “Telefoon thuis of in de kluis”, yang berarti “ponsel di rumah atau di dalam loker”.

Hena dan Fena, dua siswi di Cygnus Gymnasium Amsterdam, menuturkan pandangan mereka soal larangan HP di sekolah. Meski awalnya merasa terganggu karena harus berhati-hati agar tidak ditegur guru, mereka mengakui suasana saat jam istirahat kini terasa lebih tenang.

“Sejak larangan diberlakukan, kami harus memperhatikan guru agar HP tidak diambil,” tutur Hena dan Fena, dikutip BBC. “Memang agak menyebalkan, tapi bukan berarti hak kami dilanggar. Mungkin sekarang kami lebih fokus dan hadir sepenuhnya saat jam istirahat. Mungkin sekarang kami lebih menikmati momen karena tidak ada lagi orang yang benar-benar terpaku pada ponsel mereka,” tambah mereka.

Guru Ida Peters menilai larangan HP membawa perubahan signifikan di kelas. Menurutnya, menarik perhatian siswa kini menjadi lebih mudah karena ponsel tidak lagi sering terlihat.

“Sebagai guru, selalu menantang untuk membuat siswa fokus. Sekarang HP lebih jarang muncul di kelas, dan itu sangat membantu konsentrasi mereka,” ujarnya.

Menurut survei pemerintah terhadap 317 sekolah menengah di Belanda, hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan sejak kebijakan ini diterapkan. Sekitar 75% sekolah melaporkan adanya peningkatan konsentrasi siswa di dalam kelas, sementara hampir 66% sekolah menyebut iklim sosial di lingkungan pendidikan menjadi jauh lebih baik.

Survei lain menunjukkan berkurangnya perundungan ketika gadget dilarang digunakan selama jam sekolah.

Felix dan Karel, dua siswa berusia 15 tahun, menuturkan mereka terbiasa menghabiskan waktu dua hingga lima jam setiap harinya untuk berselancar di media sosial. Salah satu dari mereka bahkan mengaku sempat merasa sangat keberatan saat pertama kali mendengar aturan baru tersebut diberlakukan.

“Ketika pertama kali mendengar beritanya, aku berpikir ingin pindah sekolah saja karena ini bukan tujuan utamaku datang ke sini,” salah satu dari mereka mengatakan.

Namun, setelah menjalani kebijakan tersebut, mereka justru menilai larangan ponsel membawa dampak positif yang nyata dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

Di luar kebijakan di sekolah, pemerintah Belanda kini mulai mengkaji langkah lanjutan, yakni pembatasan penggunaan media sosial bagi remaja. Usulan yang mengemuka adalah menetapkan usia minimal 15 tahun untuk mengakses platform seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat di kawasan Uni Eropa.

Survei yang dilakukan UNICEF terhadap lebih dari 1.000 anak dan remaja di Belanda menunjukkan bahwa 69% responden justru mendukung pembatasan tersebut. Bahkan, 28% di antaranya menilai media sosial sebaiknya dilarang sepenuhnya bagi anak di bawah usia 12 tahun.

Alesannya beragam, mulai dari kekhawatiran soal kecanduan, risiko keamanan, hingga dampaknya terhadap kesehatan mental. Banyak responden menilai anak-anak seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu bermain di luar dibandingkan terpaku pada layar.

Temuan ini diperkuat oleh survei tahunan lembaga riset Newcom, yang mencatat peningkatan dukungan pembatasan usia dari 44% menjadi 60% dalam setahun terakhir. Data ini sekaligus mematahkan anggapan generasi muda selalu ingin terhubung secara daring.

Karel mengatakan dia akan “sedikit hancur” jika larangan media sosial diberlakukan. “Aku agak kecanduan, aku langsung membuka TikTok begitu bangun tidur atau mengecek pesan dari teman-teman,” katanya.

Pemerintah Belanda kini secara resmi menyarankan agar anak-anak di bawah usia 15 tahun menjauh dari media sosial, bahkan mendorong aturan batas usia minimal 15 tahun yang berlaku di seluruh Uni Eropa.

Kebijakan ini muncul seiring argumen bahwa jika negara bisa membatasi konsumsi alkohol atau judi, maka tindakan serupa harus dilakukan terhadap platform yang dirancang untuk menimbulkan adiksi. Kebijakan tersebut dirancang untuk merespons kekhawatiran terhadap kesehatan mental pelajar, di mana data menunjukkan penggunaan media sosial yang berlebihan membuat anak-anak lebih mudah terdistraksi dan cemas. Selain itu, langkah ini diambil untuk mendorong kembali interaksi sosial yang sehat dan meminimalkan dampak buruk platform digital terhadap tumbuh kembang remaja.

Secara keseluruhan, Belanda menegaskan komitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih fokus dan sehat bagi generasi muda. Kebijakan larangan HP di sekolah dan rencana pembatasan usia media sosial menunjukkan upaya berkelanjutan untuk menyeimbangkan teknologi dan perkembangan psikologis anak.

Larangan HP di sekolahKonsentrasi siswaMedia sosialPembatasan usia 15 tahunKesehatan mentalBelandaKebijakan teknologi

Komentar

Memuat komentar...