Larangan Ponsel Sekolah Kurangi Penggunaan, Dampak Ringan

Jaka M. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
Larangan Ponsel Sekolah Kurangi Penggunaan, Dampak Ringan

Gambar atau konten salah?

Berbagai sekolah di dunia kini menerapkan aturan yang melarang siswa memakai ponsel atau meletakkannya di tempat khusus selama jam belajar. Di Amerika Serikat, misalnya, banyak sekolah memaksa siswa menyimpan ponsel di dalam kantong terkunci.

Seorang peneliti dari Biro Riset Ekonomi Nasional AS menulis laporan yang meninjau lebih dari 43.000 sekolah menengah pertama dan menengah atas dalam periode tiga tahun. Laporan ini membandingkan sekolah yang menerapkan kebijakan ketat tentang ponsel dengan sekolah yang tidak.

Hasilnya menunjukkan bahwa larangan memang menurunkan penggunaan ponsel di kelas, namun dampaknya pada nilai ujian, kehadiran, konsentrasi, dan bahkan perundungan siber tidak signifikan. Awalnya, pelarangan ini membuat insiden disiplin meningkat dan kesejahteraan fisik serta mental siswa menurun. Namun, seiring berjalannya waktu, masalah disiplin menurun setelah tahun pertama, dan pada tahun ketiga kesejahteraan siswa bahkan lebih tinggi daripada sebelum ponsel disimpan.

"Terdapat antusiasme yang jelas terhadap larangan penggunaan telepon di sekolah, tetapi penting untuk menyadari bahwa membangun lingkungan belajar yang efektif dan bebas telepon tampaknya bukanlah solusi yang sederhana atau cepat," kata Profesor Keluarga Barnett di Sekolah Pascasarjana Pendidikan Stanford (GSE), Thomas Dee, salah satu penulis laporan tersebut. "Pengalaman awal sekolah dengan larangan penggunaan telepon sangat mengkhawatirkan, tetapi ada juga indikator bahwa seiring sekolah menyesuaikan diri dengan kebijakan bebas ponsel, manfaat dari larangan ini dapat terwujud," tambahnya, dikutip dari laman resmi Universitas Stanford.

Popularitas larangan ini telah meluas, dengan sekitar dua pertiga negara bagian AS mengesahkan aturan serupa. Namun, penelitian tentang pembatasan ini masih terbatas pada studi kecil di tingkat lokal. Untuk mengisi kekosongan tersebut, tim peneliti interdisipliner dari Stanford, Universitas Duke, Universitas Michigan, dan Universitas Pennsylvania mengumpulkan data luas: nilai ujian, catatan kehadiran, laporan disiplin, serta survei dari orang tua, siswa, dan guru.

Peneliti fokus pada sekolah yang menerapkan kebijakan “kantong (pouch) ponsel”, yakni yang mewajibkan siswa menutup ponsel di dalam kantong yang terkunci secara magnetis sepanjang hari. Mereka memverifikasi penurunan aktivitas ponsel dengan mengumpulkan data ping GPS dan melakukan survei kepada guru.

Dalam tiga tahun setelah kebijakan “pouch” diberlakukan, studi menemukan hampir tidak ada perubahan pada nilai ujian rata-rata. Namun, ketika data diuraikan lebih detail, ditemukan sedikit peningkatan nilai matematika di sekolah menengah atas. Sebaliknya, sekolah menengah pertama mengalami sedikit penurunan nilai ujian secara keseluruhan. Penulis menyebutkan bahwa perbedaan ini mungkin mencerminkan usia; siswa yang lebih muda dan lebih impulsif mengganti kebiasaan bermain ponsel dengan kegiatan pengalihan lainnya. Meskipun demikian, tidak ada perubahan signifikan pada nilai ujian secara keseluruhan.

"Sekarang setelah kita dapat benar-benar melihat bukti nasional dengan sangat detail, kita dapat mengatakan bahwa ada bukti kuat tentang manfaat nyata dari kebijakan ini dan bahwa memasukkan ponsel ke dalam kantong saja tidak menyebabkan perubahan dramatis dalam nilai ujian," kata salah satu penulis laporan, profesor ekonomi di Sekolah Humaniora dan Sains (H&S) Stanford, Matthew Gentzkow. "Lebih banyak yang perlu dilakukan untuk memahami apa yang terjadi di sekolah-sekolah dengan kebijakan ponsel," tambah Gentzkow. Ia menekankan bahwa mungkin ada efek pembelajaran yang tidak terdeteksi hanya lewat nilai ujian. Selain itu, perubahan positif dalam kesejahteraan dapat disebabkan oleh perubahan dinamika sosial siswa; dengan kebijakan ini, siswa mungkin lebih banyak berinteraksi secara langsung, seperti bermain game saat istirahat makan siang dan berbicara di antar kelas.

Menurut Gentzkow, "Studi ini benar-benar merupakan langkah pertama: studi ini menjawab sejumlah pertanyaan penting tetapi juga menimbulkan pertanyaan baru," ia katakan. Penelitian ini membuka pintu bagi analisis lebih lanjut tentang bagaimana kebijakan bebas ponsel memengaruhi belajar, disiplin, dan kesejahteraan siswa.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa larangan ponsel di sekolah memang mengurangi penggunaan, namun dampaknya pada akademik tidak dramatis. Dampak positif lebih terlihat pada peningkatan kesejahteraan dan penurunan masalah disiplin seiring waktu. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami efek jangka panjang dan dampak sosial yang lebih mendalam.

larangan ponselsekolahpenggunaan ponselnilai ujiandisiplinkesejahteraan siswakebijakan kantongpenelitian nasional

Komentar

Memuat komentar...