Leptospirosis Kembali di Tulungagung: 13 Kasus, 1 Meninggal
Gambar atau konten salah?
Leptospirosis kembali menjadi perhatian di Tulungagung. Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung mencatat belasan kasus selama periode Januari–Mei 2026. Dari jumlah tersebut, satu pasien meninggal.
Dr. Aris Setiawan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, mengungkapkan temuan ini setelah melakukan uji laboratorium pada pasien yang dirawat di fasilitas kesehatan.
“Untuk di Tulungagung, untuk kejadian lepto sampai saat ini masih ada, sampai dilaporkan Mei 2026 kita ada 13 suspek dengan 2 yang sudah dinyatakan negatif. Jadi ada 11 kasus yang terkonfirmasi, ada satu yang meninggal dunia,” kata dr Aris, Jumat (15 Mei 2026).
Kasus-kasus tersebut tersebar di beberapa kecamatan. Pihak dinas tidak menyebutkan titik spesifik di mana bakteri Leptospira ditemukan. Namun, data fatalitas selama tiga tahun terakhir menunjukkan perbaikan.
“Kalau jumlah kasusnya kurang lebihnya masih sama, harapan kami bisa menjadi kewaspadaan semuanya bagi masyarakat. Tulungagung ini juga masih banyak di pekerja kita atau penduduk kita itu yang pekerjaannya adalah di sawah,” jelasnya.
Leptospirosis menyerang manusia melalui kulit yang terluka atau lecet, serta melalui lendir pada mata, hidung, dan mulut yang bersentuhan dengan air, tanah, atau makanan yang terkontaminasi urine tikus.
Gejala penyakit ini cukup khas. Selain demam, nyeri, dan pusing, dapat memengaruhi fungsi hati. Penderita sering mengalami kuning pada kulit atau mata, atau pada ekstremitas seperti tangan dan kaki.
Untuk itu, Dinkes Tulungagung mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Menjaga kebersihan lingkungan dan menyimpan makanan dalam wadah tertutup dapat mencegah kontaminasi kotoran atau urine tikus.
“Untuk para petani juga perlu waspada, terutama jika mengalami luka. Seperti kita ketahui sawah menjadi salah satu habitat tikus,” imbuh Aris.
Jika seseorang mengalami gejala yang mencurigakan, segera bawa ke layanan kesehatan terdekat. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir risiko kematian.
Informasi ini diambil dari laporan Dinas Kesehatan Tulungagung. (ihc/abq)
Kesadaran masyarakat tentang cara pencegahan leptospirosis dapat mengurangi jumlah kasus dan kematian di wilayah ini. Dengan menjaga kebersihan dan melindungi luka, risiko infeksi dapat ditekan. Masyarakat disarankan untuk selalu waspada terhadap lingkungan sekitar, terutama di daerah pertanian dan perairan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
